HARI itu, Senin pagi, 9 Februari 2026, sepuluh pasang bocah SD tampil penuh percaya diri di aula SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Mereka memperagakan busana adat ke pura sesuai pakem dalam ajang Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI 2026.
Lomba busana adat ke pura ini menjadi salah satu cabang lomba eksternal dalam rangkaian perayaan HUT Kesbam ke-17. Peserta berasal dari wilayah se-Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan), terdiri atas siswa kelas 4, 5, dan 6 yang tampil berpasangan. Sejak pagi, para peserta telah hadir bersama orang tua dan guru pendamping untuk melakukan registrasi serta memastikan kelengkapan busana sebelum tampil.
Suasana aula dipenuhi anak-anak yang mengenakan busana adat. Peserta laki-laki mengenakan udeng, baju safari atau kemeja putih, kamen (kain), serta selendang sesuai aturan. Sementara peserta perempuan tampil dengan kebaya, kamen, dan selendang yang dikenakan dengan memperhatikan keserasian dan kesopanan. Selain itu, mereka juga membawa perlengkapan sembahyang sebagai pelengkap peragaan, menegaskan konteks busana yang diperuntukkan ke pura.
Lomba Peragaan Busana Adat ke Pura di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Sebelum lomba dimulai, panitia memberikan pengarahan singkat mengenai tata tertib dan teknis penilaian. Dewan juri menegaskan bahwa penilaian tidak hanya bertumpu pada keindahan visual, tetapi juga kesesuaian dengan pakem busana adat ke pura, kerapian, serta sikap saat berada di atas panggung. Peserta diingatkan untuk berjalan dengan tertib dan menunjukkan etika yang baik selama tampil.
Satu per satu pasangan dipanggil ke depan. Mereka berjalan dengan langkah teratur menuju titik yang telah ditentukan. Setelah berhenti, masing-masing memperlihatkan detail busana yang dikenakan. Dewan juri mencermati lipatan kamen, posisi selendang, hingga cara peserta berdiri dan memberi penghormatan.
Koordinator lomba, Kadek Agus Yoga Dwipranata, S.M., M.M., menyampaikan rasa bangganya atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia mengaku bersyukur melihat antusiasme para peserta yang datang dari berbagai daerah.
“Perasaan kami sangat bangga dan bersyukur. Melihat anak-anak SD kelas 4, 5, dan 6 dari berbagai daerah di Sarbagita tampil percaya diri dengan busana adat ke pura yang rapi dan sesuai pakem, itu benar-benar membanggakan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar kompetisi. Ia menilai lomba ini menjadi bagian dari pembentukan karakter dan penanaman nilai budaya sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar tampil di depan umum, tetapi juga memahami tata cara berbusana ke pura yang benar.
Lomba Peragaan Busana Adat ke Pura di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Hal menarik selama lomba berlangsung tampak pada kemampuan peserta menampilkan busana adat dengan sikap yang tertib. Di usia sekolah dasar, mereka mampu menjaga postur tubuh, mengatur langkah, serta mengikuti arahan dengan baik. Antusiasme peserta yang tinggi, ditambah dukungan penuh dari sekolah dan orang tua, membuat suasana lomba terasa hangat dan penuh semangat kebersamaan.
Menjelang akhir acara, sebelum pengumuman juara, dewan juri memberikan evaluasi terbuka kepada seluruh peserta dan pendamping. Dalam penyampaiannya, juri menekankan pentingnya memahami filosofi dan etika berbusana ke pura, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Busana adat, menurut juri, tidak hanya dinilai dari sisi estetika, tetapi juga dari kesopanan dan keserasian.
Evaluasi tersebut mencakup pemahaman tentang penggunaan udeng, tata cara melilit selendang, hingga kesesuaian warna dan atribut yang dikenakan. Penekanan ini dimaksudkan agar generasi muda tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami makna di balik setiap unsur busana adat yang digunakan.
Menurut Yoga Dwipranata, kegiatan ini selaras dengan semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni membentuk generasi muda yang berkarakter, berbudaya, dan memiliki kebanggaan dalam menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.
Lomba Peragaan Busana Adat ke Pura di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Setelah melalui proses penilaian, dewan juri menepatkan para pemenang. Juara I diraih oleh I Made Azka Dwi Anggara Putra dan Luh Putu Pasya Nila Astuti dari SD Negeri 2 Padangsambian. Juara II diraih oleh I Putu Danuarta dan Dewa Ayu Kirana Bintang Maheswari dari SD Negeri 16 Kesiman. Juara III diraih Azka Arkana Putra dan Ni Ketut Mirah Krisna Dewi dari SD Negeri 1 Ubung.
Sementara untuk kategori Juara Harapan I diraih I Ketut Saka Nata Wibawa dan Yanda Gita Anindya dari SD Negeri 2 Padangsambian. Juara Harapan II diraih I Gede Bagus Ariel Wikananda dan I Putu Divyanissa Wibawa dari SD Negeri 2 Padangsambian. Serta Juara Harapan III diraih Pande Kadek Suardita Dananjaya dan Gex Mas Ketut Ratih Pramesty dari SD Negeri 4 Ubung.
Yoga Dwipranata selaku koordinator lomba turut berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya. Ia menyampaikan harapan agar lomba peragaan busana adat ke pura tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada generasi muda tentang filosofi serta etika berbusana ke pura.
Melalui panggung KAC VI 2026, lomba peragaan busana adat ke pura menjadi ruang pembelajaran budaya yang konkret. Sepuluh pasang bocah SD itu tidak hanya tampil memperagakan busana, tetapi juga mempraktikkan nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah rangkaian HUT ke-17 Kesbam, lomba ini menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya Bali sejak usia dini. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Budarsana
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...