Belajar Menerima Konsekuensi --Catatan Setelah Membaca Buku 23;59
Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang b...
DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10 pagi, ia masih terjaga, menatap layar ponsel dengan mata merah dan kepala pening. Pagi selalu membuatnya gelisah, seperti deadline yang tak pernah benar-benar ia minta.
“Wah rajin sekali,” tulis Ketut.
Dul membalas cepat. “Rajin salah, malas salah…”
Ia tahu kalimat itu terdengar parno. Tapi beberapa tahun terakhir, tubuhnya memang tak seramah dulu. Malam tadi ia merasa berhasil, tapi terlalu cepat, kata orang. Terlalu dipaksakan, mungkin. Namun tetap saja, ada kemenangan kecil yang ingin ia rayakan, seperti berita pendek yang lolos naik tanpa diedit.
“Wah kok parno gitu,” balas Ketut. “Cari sarapan dulu, bung.”
Dul tertawa kecil. Ia mengetik lagi. “Tadi malam saya bercinta cepat sekali tapi badan kok pegal banget.”
Ia menunggu. Ketut lama membalas.
“Aku heran,” tulis Ketut akhirnya, “kenapa kamu masih menjadikan seks seperti proyek sampai tua.”
Kalimat itu menampar pelan. Dul meletakkan ponsel. Ia pernah bekerja belasan tahun di media besar, yang namanya sering dikutip pejabat, beritanya kerap jadi rujukan. Tapi ia sendiri tak pernah cukup penting untuk diangkat menjadi wartawan tetap. Kontributor, kata kontrak. Sabar, kata atasan. Ia belajar menelan itu sebagai bagian dari profesionalisme. Media itu tumbuh besar, membangun gedung, memperluas jaringan, meraih iklan. Hidup Dul tetap di tempat. Entah media itu tak bisa atau tak mau menyejahterakan orang-orang seperti dirinya. Entahlah, kata Dul. Ia berhenti berharap, lalu berhenti bertanya.
Kini ia redaktur di media online miliknya sendiri, media kecil yang hidup pas-pasan, seperti pemiliknya. Di luar itu, bersama istrinya, ia pernah membuka warung kopi. Juga menjual nasi campur, soto ayam, mie ayam, dan tongseng kambing yang sempat jadi favorit. Warung itu ramai. Orang-orang datang untuk makan, rapat, dan berdebat.
Beberapa komunitas menjadikannya tempat konferensi pers. Dul menyediakan kursi, colokan listrik, dan kopi panas. Pernyataan dibacakan, kamera merekam, janji perubahan diumumkan. Namun karena sebuah sebab, kontrak warung tak bisa diperpanjang. Ia pindah. Mulai dari nol. Ramai tak bisa ikut pindah.
Siangnya mereka bertemu di warung kopi dekat kantor kecil media online itu. Ketut datang membawa buku puisi dan senyum mengejek yang sudah akrab.
“Masih percaya ‘seks hingga tua’?” tanya Ketut sambil duduk.
“Kenapa tidak?” Dul menyesap kopi. “Selama masih bisa, itu bukti aku hidup.”
Ketut menggeleng. “Kamu ini lucu. Dibentuk Bali, tapi pikirannya Jakarta banget. Semua dikejar, semua ditarget.”
“Ini bukan soal target,” Dul tersinggung. “Ini soal harga diri.”
“Nah, itu,” Ketut menunjuk. “Masalahmu bukan seks. Tapi rasa takut tidak berguna.”
Dul diam. Kata-kata itu terlalu tepat. Ia tamatan universitas negeri di Yogyakarta, perantau yang dulu percaya pengetahuan akan menyelamatkannya. Rak bukunya penuh buku filsafat; kini sebagian hanya jadi pengganjal meja yang goyah. Buku-buku itu pernah memberinya bahasa untuk memahami dunia. Kini, dunia terasa tak butuh penjelasan. Utangnya menumpuk. Bank, teman, cicilan, semuanya tak mau paham idealisme. Diabetes datang seperti vonis pelan, disfungsi ereksi menyusul seperti catatan kaki yang kejam.
Ponselnya bergetar lagi. Percakapan pagi itu muncul.
“Badan remuk kayak habis dipukuli,” tulis Ketut di chat lama, menirukan nadanya sendiri.
“Kamu menertawaiku?” tanya Dul di dunia nyata.
“Sedikit,” Ketut tersenyum. “Karena kamu menjadikan ranjang seperti ruang redaksi. Ada deadline, ada target, ada evaluasi.”
“Kalau tidak dipaksa, hilang,” jawab Dul pelan.
“Bali mengajarkan hal lain,” kata Ketut. “Ada fase ngotot, ada fase melepas. Tidak semua yang hilang harus dikejar.”
Dul menatap jalan. Denpasar bergerak cepat; motor dan baliho saling menyalip. Kota ini tak pernah bertanya siapa yang lelah. Dulu ia rajin bersembahyang. Kini bahkan untuk menundukkan kepala pun ia merasa canggung, seperti sedang berpura-pura pada sesuatu yang tak lagi ia yakini sepenuhnya.
“Aku ini wartawan gagal, Tut,” katanya tiba-tiba.
“Tidak,” Ketut menggeleng. “Kamu wartawan yang belum berdamai.”
“Dengan tubuh?”
“Dengan kenyataan.”
Sunyi sebentar. Kipas angin warung berdecit seperti mesin cetak tua yang dipaksa tetap bekerja.
“Aku iri padamu,” kata Dul. “Kamu bisa menertawakan hal-hal yang masih kuanggap hidup-mati.”
Ketut tersenyum tipis. “Aku iri padamu juga. Kamu masih berani merasa.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
“Kolom minggu ini,” kata Dul, “tulis apa saja. Jangan berat.”
Ketut mengangguk. “Aku mau nulis tentang berhenti memaksa.”
Dul menghela napas. Ia tahu utangnya belum lunas. Warung barunya belum tentu ramai. Tubuhnya belum pulih. Tapi mungkin, pikirnya, hidup bukan soal membuktikan bahwa ia masih sanggup.
Mungkin cukup mengakui bahwa ia lelah.
Dan untuk seorang wartawan senior, itu berita paling jujur yang pernah ia terbitkan. [T]
Denpasar, Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang b...
HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja itu bukan jenis pekerjaan kemarin sore. Menen...
PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada masa Bali Kuna....
DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan oleh Raja Panji Sakti itu didapuk...
COBA bayangkan Indonesia pada tahun 2045, saat negeri ini genap berusia satu abad. Kita berharap melihat generasi muda yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di tingkat...
KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, te...
Abstrak Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 636 M merupakan salah satu peristiwa militer paling menentukan dalam sejarah awal Islam sekaligus sejarah Kekaisaran Romawi Timur...
SENJA di kawasan Sunset Road, Kuta, belum sepenuhnya tenggelam ketika pintu Recital Room Debeat Music perlahan terbuka, Senin, 26 Januari 2026. Pukul 17.30 Wita, satu per satu pen...
MESKI bukan terlahir sebagai muslim, Islam begitu dekat dengan kehidupan saya. Lahir dan dibesarkan di kota kecil yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sejak kecil saya terbias...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Januari 2026 Tadi siang saya diundang bercakap di podcast/YouTube channel "Case Closed" terkait dengan hari Nyepi yang konon ingin dipindah...