Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10 pagi, ia masih terjaga, menatap layar ponsel dengan mata merah dan kepala pening. Pagi selalu membuatnya gelisah, seperti deadline yang tak pernah benar-benar ia minta.
“Wah rajin sekali,” tulis Ketut.
Dul membalas cepat. “Rajin salah, malas salah…”
Ia tahu kalimat itu terdengar parno. Tapi beberapa tahun terakhir, tubuhnya memang tak seramah dulu. Malam tadi ia merasa berhasil, tapi terlalu cepat, kata orang. Terlalu dipaksakan, mungkin. Namun tetap saja, ada kemenangan kecil yang ingin ia rayakan, seperti berita pendek yang lolos naik tanpa diedit.
“Wah kok parno gitu,” balas Ketut. “Cari sarapan dulu, bung.”
Dul tertawa kecil. Ia mengetik lagi. “Tadi malam saya bercinta cepat sekali tapi badan kok pegal banget.”
Ia menunggu. Ketut lama membalas.
“Aku heran,” tulis Ketut akhirnya, “kenapa kamu masih menjadikan seks seperti proyek sampai tua.”
Kalimat itu menampar pelan. Dul meletakkan ponsel. Ia pernah bekerja belasan tahun di media besar, yang namanya sering dikutip pejabat, beritanya kerap jadi rujukan. Tapi ia sendiri tak pernah cukup penting untuk diangkat menjadi wartawan tetap. Kontributor, kata kontrak. Sabar, kata atasan. Ia belajar menelan itu sebagai bagian dari profesionalisme. Media itu tumbuh besar, membangun gedung, memperluas jaringan, meraih iklan. Hidup Dul tetap di tempat. Entah media itu tak bisa atau tak mau menyejahterakan orang-orang seperti dirinya. Entahlah, kata Dul. Ia berhenti berharap, lalu berhenti bertanya.
Kini ia redaktur di media online miliknya sendiri, media kecil yang hidup pas-pasan, seperti pemiliknya. Di luar itu, bersama istrinya, ia pernah membuka warung kopi. Juga menjual nasi campur, soto ayam, mie ayam, dan tongseng kambing yang sempat jadi favorit. Warung itu ramai. Orang-orang datang untuk makan, rapat, dan berdebat.
Beberapa komunitas menjadikannya tempat konferensi pers. Dul menyediakan kursi, colokan listrik, dan kopi panas. Pernyataan dibacakan, kamera merekam, janji perubahan diumumkan. Namun karena sebuah sebab, kontrak warung tak bisa diperpanjang. Ia pindah. Mulai dari nol. Ramai tak bisa ikut pindah.
Siangnya mereka bertemu di warung kopi dekat kantor kecil media online itu. Ketut datang membawa buku puisi dan senyum mengejek yang sudah akrab.
“Masih percaya ‘seks hingga tua’?” tanya Ketut sambil duduk.
“Kenapa tidak?” Dul menyesap kopi. “Selama masih bisa, itu bukti aku hidup.”
Ketut menggeleng. “Kamu ini lucu. Dibentuk Bali, tapi pikirannya Jakarta banget. Semua dikejar, semua ditarget.”
“Ini bukan soal target,” Dul tersinggung. “Ini soal harga diri.”
“Nah, itu,” Ketut menunjuk. “Masalahmu bukan seks. Tapi rasa takut tidak berguna.”
Dul diam. Kata-kata itu terlalu tepat. Ia tamatan universitas negeri di Yogyakarta, perantau yang dulu percaya pengetahuan akan menyelamatkannya. Rak bukunya penuh buku filsafat; kini sebagian hanya jadi pengganjal meja yang goyah. Buku-buku itu pernah memberinya bahasa untuk memahami dunia. Kini, dunia terasa tak butuh penjelasan. Utangnya menumpuk. Bank, teman, cicilan, semuanya tak mau paham idealisme. Diabetes datang seperti vonis pelan, disfungsi ereksi menyusul seperti catatan kaki yang kejam.
Ponselnya bergetar lagi. Percakapan pagi itu muncul.
“Badan remuk kayak habis dipukuli,” tulis Ketut di chat lama, menirukan nadanya sendiri.
“Kamu menertawaiku?” tanya Dul di dunia nyata.
“Sedikit,” Ketut tersenyum. “Karena kamu menjadikan ranjang seperti ruang redaksi. Ada deadline, ada target, ada evaluasi.”
“Kalau tidak dipaksa, hilang,” jawab Dul pelan.
“Bali mengajarkan hal lain,” kata Ketut. “Ada fase ngotot, ada fase melepas. Tidak semua yang hilang harus dikejar.”
Dul menatap jalan. Denpasar bergerak cepat; motor dan baliho saling menyalip. Kota ini tak pernah bertanya siapa yang lelah. Dulu ia rajin bersembahyang. Kini bahkan untuk menundukkan kepala pun ia merasa canggung, seperti sedang berpura-pura pada sesuatu yang tak lagi ia yakini sepenuhnya.
“Aku ini wartawan gagal, Tut,” katanya tiba-tiba.
“Tidak,” Ketut menggeleng. “Kamu wartawan yang belum berdamai.”
“Dengan tubuh?”
“Dengan kenyataan.”
Sunyi sebentar. Kipas angin warung berdecit seperti mesin cetak tua yang dipaksa tetap bekerja.
“Aku iri padamu,” kata Dul. “Kamu bisa menertawakan hal-hal yang masih kuanggap hidup-mati.”
Ketut tersenyum tipis. “Aku iri padamu juga. Kamu masih berani merasa.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
“Kolom minggu ini,” kata Dul, “tulis apa saja. Jangan berat.”
Ketut mengangguk. “Aku mau nulis tentang berhenti memaksa.”
Dul menghela napas. Ia tahu utangnya belum lunas. Warung barunya belum tentu ramai. Tubuhnya belum pulih. Tapi mungkin, pikirnya, hidup bukan soal membuktikan bahwa ia masih sanggup.
Mungkin cukup mengakui bahwa ia lelah.
Dan untuk seorang wartawan senior, itu berita paling jujur yang pernah ia terbitkan. [T]
Denpasar, Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...