Di Jakarta Kalah, di Buleleng Menang - Cerita Mini Tentang Agus
PADA Pilkada serentak, 15 Februari 2017, orang Bali, terkhusus di Kabupaten Buleleng, silih-berganti mendengar nama Agus. Sebagian besar dari mereka sejak pagi ingin mendengar ceri...
DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10 pagi, ia masih terjaga, menatap layar ponsel dengan mata merah dan kepala pening. Pagi selalu membuatnya gelisah, seperti deadline yang tak pernah benar-benar ia minta.
“Wah rajin sekali,” tulis Ketut.
Dul membalas cepat. “Rajin salah, malas salah…”
Ia tahu kalimat itu terdengar parno. Tapi beberapa tahun terakhir, tubuhnya memang tak seramah dulu. Malam tadi ia merasa berhasil, tapi terlalu cepat, kata orang. Terlalu dipaksakan, mungkin. Namun tetap saja, ada kemenangan kecil yang ingin ia rayakan, seperti berita pendek yang lolos naik tanpa diedit.
“Wah kok parno gitu,” balas Ketut. “Cari sarapan dulu, bung.”
Dul tertawa kecil. Ia mengetik lagi. “Tadi malam saya bercinta cepat sekali tapi badan kok pegal banget.”
Ia menunggu. Ketut lama membalas.
“Aku heran,” tulis Ketut akhirnya, “kenapa kamu masih menjadikan seks seperti proyek sampai tua.”
Kalimat itu menampar pelan. Dul meletakkan ponsel. Ia pernah bekerja belasan tahun di media besar, yang namanya sering dikutip pejabat, beritanya kerap jadi rujukan. Tapi ia sendiri tak pernah cukup penting untuk diangkat menjadi wartawan tetap. Kontributor, kata kontrak. Sabar, kata atasan. Ia belajar menelan itu sebagai bagian dari profesionalisme. Media itu tumbuh besar, membangun gedung, memperluas jaringan, meraih iklan. Hidup Dul tetap di tempat. Entah media itu tak bisa atau tak mau menyejahterakan orang-orang seperti dirinya. Entahlah, kata Dul. Ia berhenti berharap, lalu berhenti bertanya.
Kini ia redaktur di media online miliknya sendiri, media kecil yang hidup pas-pasan, seperti pemiliknya. Di luar itu, bersama istrinya, ia pernah membuka warung kopi. Juga menjual nasi campur, soto ayam, mie ayam, dan tongseng kambing yang sempat jadi favorit. Warung itu ramai. Orang-orang datang untuk makan, rapat, dan berdebat.
Beberapa komunitas menjadikannya tempat konferensi pers. Dul menyediakan kursi, colokan listrik, dan kopi panas. Pernyataan dibacakan, kamera merekam, janji perubahan diumumkan. Namun karena sebuah sebab, kontrak warung tak bisa diperpanjang. Ia pindah. Mulai dari nol. Ramai tak bisa ikut pindah.
Siangnya mereka bertemu di warung kopi dekat kantor kecil media online itu. Ketut datang membawa buku puisi dan senyum mengejek yang sudah akrab.
“Masih percaya ‘seks hingga tua’?” tanya Ketut sambil duduk.
“Kenapa tidak?” Dul menyesap kopi. “Selama masih bisa, itu bukti aku hidup.”
Ketut menggeleng. “Kamu ini lucu. Dibentuk Bali, tapi pikirannya Jakarta banget. Semua dikejar, semua ditarget.”
“Ini bukan soal target,” Dul tersinggung. “Ini soal harga diri.”
“Nah, itu,” Ketut menunjuk. “Masalahmu bukan seks. Tapi rasa takut tidak berguna.”
Dul diam. Kata-kata itu terlalu tepat. Ia tamatan universitas negeri di Yogyakarta, perantau yang dulu percaya pengetahuan akan menyelamatkannya. Rak bukunya penuh buku filsafat; kini sebagian hanya jadi pengganjal meja yang goyah. Buku-buku itu pernah memberinya bahasa untuk memahami dunia. Kini, dunia terasa tak butuh penjelasan. Utangnya menumpuk. Bank, teman, cicilan, semuanya tak mau paham idealisme. Diabetes datang seperti vonis pelan, disfungsi ereksi menyusul seperti catatan kaki yang kejam.
Ponselnya bergetar lagi. Percakapan pagi itu muncul.
“Badan remuk kayak habis dipukuli,” tulis Ketut di chat lama, menirukan nadanya sendiri.
“Kamu menertawaiku?” tanya Dul di dunia nyata.
“Sedikit,” Ketut tersenyum. “Karena kamu menjadikan ranjang seperti ruang redaksi. Ada deadline, ada target, ada evaluasi.”
“Kalau tidak dipaksa, hilang,” jawab Dul pelan.
“Bali mengajarkan hal lain,” kata Ketut. “Ada fase ngotot, ada fase melepas. Tidak semua yang hilang harus dikejar.”
Dul menatap jalan. Denpasar bergerak cepat; motor dan baliho saling menyalip. Kota ini tak pernah bertanya siapa yang lelah. Dulu ia rajin bersembahyang. Kini bahkan untuk menundukkan kepala pun ia merasa canggung, seperti sedang berpura-pura pada sesuatu yang tak lagi ia yakini sepenuhnya.
“Aku ini wartawan gagal, Tut,” katanya tiba-tiba.
“Tidak,” Ketut menggeleng. “Kamu wartawan yang belum berdamai.”
“Dengan tubuh?”
“Dengan kenyataan.”
Sunyi sebentar. Kipas angin warung berdecit seperti mesin cetak tua yang dipaksa tetap bekerja.
“Aku iri padamu,” kata Dul. “Kamu bisa menertawakan hal-hal yang masih kuanggap hidup-mati.”
Ketut tersenyum tipis. “Aku iri padamu juga. Kamu masih berani merasa.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
“Kolom minggu ini,” kata Dul, “tulis apa saja. Jangan berat.”
Ketut mengangguk. “Aku mau nulis tentang berhenti memaksa.”
Dul menghela napas. Ia tahu utangnya belum lunas. Warung barunya belum tentu ramai. Tubuhnya belum pulih. Tapi mungkin, pikirnya, hidup bukan soal membuktikan bahwa ia masih sanggup.
Mungkin cukup mengakui bahwa ia lelah.
Dan untuk seorang wartawan senior, itu berita paling jujur yang pernah ia terbitkan. [T]
Denpasar, Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
PADA Pilkada serentak, 15 Februari 2017, orang Bali, terkhusus di Kabupaten Buleleng, silih-berganti mendengar nama Agus. Sebagian besar dari mereka sejak pagi ingin mendengar ceri...
PADA tahun 1011, di desa Air Hwang, kini dikenal sebagai Desa Abang, raja mengeluarkan piagam yang mengatur dengan tegas, rinci, dan sistematik tentang penataan kawasan danau, perl...
KALIAN pasti sudah bisa menebak hari saat kalian pergi ke sebuah tempat, entah toko atau tempat belanja lainnya, dan menemukan obral berbagai jenis coklat dan berbagai tawaran harg...
Di Singaraja, Buleleng, Bali, mahasiswa Hindu yang tergabung dalam Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) dan mahasiswa Muslim dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bergan...
TANGGAL 14 Februari, di Hari Valentien, pasti banyaklah dari mereka yang punya pasangan akan mengunggah foto hadiah atau dinner romatis bersama pasangannya di media sosial. Foto...
Judul : Resep Membuat Jagat Raya (kumpulan puisi) Penulis: Abinaya Ghina Jamela Penerbit: Kabarita Tahun : 2017 ISBN : 978-602-721139-1 Biarkan Gerbang semesta terbuka menyamb...
Cerpen: Fatah Anshori HARI ini ia mengirimiku pesan lagi agar aku segera ke Surabaya dan meninggalkan istriku yang sedang hamil di desa. Ia mengatakan ada pekerjaan yang harus kuse...
MITOS terciptanya Hari Valentine konon mulai dari kisah menyedihkan sekaligus mengharukan. Kalian tahulah apa bagaimana kisah itu. Radio, TV, majalah remaja, sudah membahas abis pa...
SIAPA pun yang sempat belajar bahasa Indonesia di sekolah menengah pasti mengenal Anak Agung Pandji Tisna. Namun dalam pelajaran itu, Pandji Tisna hanya dikenalkan sebagai sastrawa...
BERITA tentang lumpuhtotalnya jalur raya Singaraja-Denpasar di situs tatkala.co ini bukanlah berita pertama. Sejak Sabtu 11 Februari pagi, situs berita online sudah terlebih dahulu...