Keragaman di Bali Itu Rahmat untuk Indonesia
BALI adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Denpasar. Bali juga merupakan salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara. Di awal kemerdekaan Indone...
DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10 pagi, ia masih terjaga, menatap layar ponsel dengan mata merah dan kepala pening. Pagi selalu membuatnya gelisah, seperti deadline yang tak pernah benar-benar ia minta.
“Wah rajin sekali,” tulis Ketut.
Dul membalas cepat. “Rajin salah, malas salah…”
Ia tahu kalimat itu terdengar parno. Tapi beberapa tahun terakhir, tubuhnya memang tak seramah dulu. Malam tadi ia merasa berhasil, tapi terlalu cepat, kata orang. Terlalu dipaksakan, mungkin. Namun tetap saja, ada kemenangan kecil yang ingin ia rayakan, seperti berita pendek yang lolos naik tanpa diedit.
“Wah kok parno gitu,” balas Ketut. “Cari sarapan dulu, bung.”
Dul tertawa kecil. Ia mengetik lagi. “Tadi malam saya bercinta cepat sekali tapi badan kok pegal banget.”
Ia menunggu. Ketut lama membalas.
“Aku heran,” tulis Ketut akhirnya, “kenapa kamu masih menjadikan seks seperti proyek sampai tua.”
Kalimat itu menampar pelan. Dul meletakkan ponsel. Ia pernah bekerja belasan tahun di media besar, yang namanya sering dikutip pejabat, beritanya kerap jadi rujukan. Tapi ia sendiri tak pernah cukup penting untuk diangkat menjadi wartawan tetap. Kontributor, kata kontrak. Sabar, kata atasan. Ia belajar menelan itu sebagai bagian dari profesionalisme. Media itu tumbuh besar, membangun gedung, memperluas jaringan, meraih iklan. Hidup Dul tetap di tempat. Entah media itu tak bisa atau tak mau menyejahterakan orang-orang seperti dirinya. Entahlah, kata Dul. Ia berhenti berharap, lalu berhenti bertanya.
Kini ia redaktur di media online miliknya sendiri, media kecil yang hidup pas-pasan, seperti pemiliknya. Di luar itu, bersama istrinya, ia pernah membuka warung kopi. Juga menjual nasi campur, soto ayam, mie ayam, dan tongseng kambing yang sempat jadi favorit. Warung itu ramai. Orang-orang datang untuk makan, rapat, dan berdebat.
Beberapa komunitas menjadikannya tempat konferensi pers. Dul menyediakan kursi, colokan listrik, dan kopi panas. Pernyataan dibacakan, kamera merekam, janji perubahan diumumkan. Namun karena sebuah sebab, kontrak warung tak bisa diperpanjang. Ia pindah. Mulai dari nol. Ramai tak bisa ikut pindah.
Siangnya mereka bertemu di warung kopi dekat kantor kecil media online itu. Ketut datang membawa buku puisi dan senyum mengejek yang sudah akrab.
“Masih percaya ‘seks hingga tua’?” tanya Ketut sambil duduk.
“Kenapa tidak?” Dul menyesap kopi. “Selama masih bisa, itu bukti aku hidup.”
Ketut menggeleng. “Kamu ini lucu. Dibentuk Bali, tapi pikirannya Jakarta banget. Semua dikejar, semua ditarget.”
“Ini bukan soal target,” Dul tersinggung. “Ini soal harga diri.”
“Nah, itu,” Ketut menunjuk. “Masalahmu bukan seks. Tapi rasa takut tidak berguna.”
Dul diam. Kata-kata itu terlalu tepat. Ia tamatan universitas negeri di Yogyakarta, perantau yang dulu percaya pengetahuan akan menyelamatkannya. Rak bukunya penuh buku filsafat; kini sebagian hanya jadi pengganjal meja yang goyah. Buku-buku itu pernah memberinya bahasa untuk memahami dunia. Kini, dunia terasa tak butuh penjelasan. Utangnya menumpuk. Bank, teman, cicilan, semuanya tak mau paham idealisme. Diabetes datang seperti vonis pelan, disfungsi ereksi menyusul seperti catatan kaki yang kejam.
Ponselnya bergetar lagi. Percakapan pagi itu muncul.
“Badan remuk kayak habis dipukuli,” tulis Ketut di chat lama, menirukan nadanya sendiri.
“Kamu menertawaiku?” tanya Dul di dunia nyata.
“Sedikit,” Ketut tersenyum. “Karena kamu menjadikan ranjang seperti ruang redaksi. Ada deadline, ada target, ada evaluasi.”
“Kalau tidak dipaksa, hilang,” jawab Dul pelan.
“Bali mengajarkan hal lain,” kata Ketut. “Ada fase ngotot, ada fase melepas. Tidak semua yang hilang harus dikejar.”
Dul menatap jalan. Denpasar bergerak cepat; motor dan baliho saling menyalip. Kota ini tak pernah bertanya siapa yang lelah. Dulu ia rajin bersembahyang. Kini bahkan untuk menundukkan kepala pun ia merasa canggung, seperti sedang berpura-pura pada sesuatu yang tak lagi ia yakini sepenuhnya.
“Aku ini wartawan gagal, Tut,” katanya tiba-tiba.
“Tidak,” Ketut menggeleng. “Kamu wartawan yang belum berdamai.”
“Dengan tubuh?”
“Dengan kenyataan.”
Sunyi sebentar. Kipas angin warung berdecit seperti mesin cetak tua yang dipaksa tetap bekerja.
“Aku iri padamu,” kata Dul. “Kamu bisa menertawakan hal-hal yang masih kuanggap hidup-mati.”
Ketut tersenyum tipis. “Aku iri padamu juga. Kamu masih berani merasa.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
“Kolom minggu ini,” kata Dul, “tulis apa saja. Jangan berat.”
Ketut mengangguk. “Aku mau nulis tentang berhenti memaksa.”
Dul menghela napas. Ia tahu utangnya belum lunas. Warung barunya belum tentu ramai. Tubuhnya belum pulih. Tapi mungkin, pikirnya, hidup bukan soal membuktikan bahwa ia masih sanggup.
Mungkin cukup mengakui bahwa ia lelah.
Dan untuk seorang wartawan senior, itu berita paling jujur yang pernah ia terbitkan. [T]
Denpasar, Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
BALI adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Denpasar. Bali juga merupakan salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara. Di awal kemerdekaan Indone...
Konsistensi dan ketekunan merupakan tantangan anak muda untuk terjun di industri animasi. Padahal konsistensi dan ketekunan merupakan modal terjun di industri animasi, sela...
“Kawasan wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan pada ke empat aspek: mempertahankan keasrian lingkungannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dika...
BULELENG punya satu potensi penting di bidang seni rupa. Yakni lukisan kaca. Di Buleleng, lukisan ini banyak ditemui di Desa Nagasepeha. Desa ini adalah pelopor di bidang l...
“Nanti, mudah-mudahan saya bisa kembali ke sini,” kataku sebelum meninggalkan Kampung Islam Desa Buitan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (30 September...
“Kuliah itu bukan tentang nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Kuliah itu sebenarnya tentang pengalaman, orang-orang yang kalian temui, serta skill yang kalian dapatk...
TERDAPAT sejumlah hal-hal yang menakjubkan tentang Gunung Agung dalam lontar-lontar dan sejumlah naskah kuno Bali. Bagi yang tak paham baca lontar, hal-hal itu dijelaskan s...
RELAWAN pendidikan kini ditunggu di Desa Tembok, Tejakula, Buleleng. Di desa itu terdapat sekitar 7.178 pengungsi yang sebagian besar berasal dari lereng utara Gunung Agung...
KETIKA Gunung Agung masih berstatus waspada, lalu siaga, Putra bersama istri dan anaknya masih bisa tinggal dengan tenang di kampungnya di Karangasem, di wilayah Duda Utara...
“Kapan bidikmisi cair, ya?” ratap salah seorang mahasiswa yang hanya bergantung pada uang bantuan bidikmisi. “Sabar aja. Baru juga segini sudah ngeluh. Gak mungkin gak cai...