Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Aku tidak punya waktu untuk urusan asmara
di ketinggian yang manja.
Lahir dari tanah Lampung yang keras dan berkeringat,
robustaku bagaikan buruh pabrik siap sedia.
Jangan kau cari wangi bunga atau asam buah di sini;
aku hanya punya pahit yang jujur,
seperti janji yang tak pernah memakai kosmetik.
Aku bukan puisi yang kau baca pelan-pelan di ranjang.
Akulah alarm yang menendang pintu pagi,
sebuah perintah militer bagi kantuk yang keras kepala.
Tugasku satu: menuang baja ke pembuluh darah kota
agar kau punya cukup nyali untuk menghadapi atasan
serta tumpukan cicilan yang sudah menanti di meja kerja.
Mungkin aku tak seanggun sepupuku dari Jawa,
tapi aku punya harga diri yang tak bisa ditawar.
Di setiap tegukan, aku menjaga matamu tetap menyala
di antara angka-angka dan agenda
yang sering kali lebih pahit dari cangkirnya.
Yogyakarta, 2025
Aku adalah kopi dari tanah Dampit,
tumbuh di bawah ketiak Semeru yang konon angker.
Aku bukan primadona yang hobi gonta-ganti lipstik,
aku ini panglima di garda depan;
berotot, kekar, dan berbaju pekat.
Tugasku sederhana saja:
membangunkan pasukan yang tertidur di dalam kepalamu.
Tak ada parfum bunga di dadaku yang bidang.
Hanya ada jejak karamel juga cokelat yang tegas,
seperti cap basah di atas surat keputusan.
Aku sering kali memilih jadi sosok di balik layar;
menjadi jangkar bagi kapal kopi susu yang oleng
di kafe-kafe kota yang penuh dengan basa-basi.
Saat kau menikmati es kopi susu favoritmu,
hormatlah pada panglima dari lereng Semeru ini.
Namaku mungkin absen di lembar menu,
tapi tanpaku, kopimu cuma susu yang kehilangan nyawa.
Yogyakarta, 2025
Aku punya dua orang tua kandung: Sumbing dan Sindoro.
Tetanggaku di ladang bukanlah pohon jeruk yang wangi,
melainkan daun tembakau yang lebar juga kumal.
Sejak kecil kami sudah berbagi sarung atau rahasia,
hingga aroma asbak menempel di baju,
meresap sampai ke tulang sumsum.
Tolong jangan kaget kalau di ujung sesapan nanti,
ada sedikit rasa kretek yang menyapa lidahmu.
Akulah kopi yang setia kawan,
aku membawa seluruh riwayat sahabatku
masuk ke dalam cangkirmu tanpa permisi.
Akulah secangkir Jawa yang jujur,
tak pernah malu menunjukkan siapa teman mainku.
Menyesapku adalah perjalanan pulang ke perapian desa;
tempat di mana kopi dan tembakau duduk akrab di teras,
menertawakan dunia yang makin hari makin lekas.
Yogyakarta, 2025
Aku bukan sekadar cairan hitam dalam gelas plastik.
Aku ini arsip sejarah di tanah pengasingan.
Dulu, aku pernah dipeluk jemari seorang proklamator
di bawah pohon sukun yang tenang,
merancang sebuah negara di sela-sela pekatnya.
Jangan kau cari keriangan di dalam cangkirmu.
Riwayat hidupku tak butuh dekorasi pesta.
Aku hanya membawa ijazah rasa cokelat gelap
dan sertifikat ahli mengolah sunyi.
Pahitku adalah pahit perenungan,
manisku adalah manis sebuah gagasan
yang lahir dari semalam suntuk melawan penjajahan.
Namaku Robusta Ende, lahir dari rahim Flores yang bergelora.
Menyeruputku bagaikan ziarah ke masa lalu yang gigih.
Dalam setiap tegukan, kau tak hanya menelan kafein,
tapi juga meneguk keberanian bapak bangsa
yang menolak untuk mati sebelum merdeka.
Yogyakarta, 2025
Kenalkan, aku Robusta dari Pupuan yang berhawa sejuk.
Sejak bayi berteman sebangku bersama cokelat.
Kami tumbuh berpelukan di bawah rindang daun,
saling bertukar gosip setiap kali angin lewat bertamu.
Jangan salahkan lidahmu,
jika rasa cokelat mendadak muncul tanpa diundang.
Tenang, itu bukan salah barista, itu memang KTP-ku.
Sebuah tanda tangan dari sahabat kecil di kebun.
Aku memang Robusta, berbadan kekar seperti tukang pukul,
tapi hatiku ini lembut dan perasa.
Aku siap jadi pengawal pribadimu yang mesra;
menjagamu tetap terjaga tanpa perlu bersikap kasar.
Akulah wajah Bali yang tidak pakai bikini,
tapi pakai caping dan baju kebun yang rimbun.
Aku bukti nyata bahwa kopi yang pahit pun
bisa terasa sangat manis,
asal punya kawan yang baik di sisiku.
Yogyakarta, 2025
Penulis: Maria Utami
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...