Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
UBUD adalah panggung global. Wisatawan berjejal, galeri menjamur, hiruk-pikuk ekonomi hospitality dan kreatif berputar tanpa henti. Namun, di balik gemerlapnya status "Pusat Dinamika Kesenian," ada sebuah ironi yang menyesakkan dada—sebuah kekhawatiran yang selalu dilontarkan oleh tokoh sekaliber Agung Rai (ARMA). Kita sedang mengalami amnesia sejarah. Generasi muda kita, yang lahir dan besar di tanah para maestro, justru lebih akrab dengan nama-nama jalan generik ketimbang nama-nama seniman yang dahulu mempertaruhkan nyawa dan kreativitasnya demi mengharumkan nama Bali di mata dunia.
Sudah saatnya kita melakukan dekolonisasi identitas pada infrastruktur kita. Mengganti nama jalan di Ubud dengan nama-nama tokoh maupun karya monumental bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah upaya literasi seni budaya secara massal.
Bayangkan jika setiap sudut jalan adalah ruang kelas. Ketika nanti misalnya melintasi Jalan I Nyoman Tjokot, kita tidak hanya melihat aspal, tapi diingatkan pada imajinasi liar seorang pemahat yang mampu menghidupkan kayu-kayu mati menjadi karya ekspresif yang menggetarkan dunia. Begitu juga dengan nama I Wayan Limbak, sang arsitek gerak yang bersama Walter Spies melahirkan fenomena Tari Kecak. Tanpa literasi ini, Limbak hanya akan menjadi catatan kaki yang berdebu dalam buku sejarah, bukan kebanggaan bagi pemuda di banjarnya.
Ubud adalah muara dari pertemuan tradisi, kontemporer, dan hibriditas keduanya. Dari era pra-Pitamaha yang sakral hingga ledakan kreativitas modern, Ubud telah melahirkan "ikon dunia". Menjadikan nama mereka sebagai nama jalan adalah bentuk penghormatan tertinggi—sebuah pengakuan bahwa pondasi pariwisata Ubud dibangun di atas keringat dan estetika para maestro ini. Kita butuh Jalan Anak Agung Gede Sobrat, Jalan Ida Bagus Nyana, dan banyak lagi untuk memastikan bahwa "taksu" Ubud tidak hilang ditelan globalisasi yang anonim.
Tentu harus jujur juga untuk jangan lupa pada nama-nama “bule” di sini. Membicarakan Ubud tanpa menyebutkan para pengelana Barat yang "terpikat" dan akhirnya mendedikasikan hidupnya di sini sama saja dengan menghilangkan satu bab penting dalam sejarah hibriditas seni kita. Begitu pula dengan tokoh-tokoh di balik layar—para pemikir dan organisator yang menjaga ekosistem budaya tetap hidup. Misalnya: Arie Smit, Pendiri gerakan Young Artists di Penestanan yang memberikan warna baru (naif dan penuh warna cerah) pada estetika lukisan Bali. Atau Rudolf Bonnet, Pelukis Belanda yang bersama Tjokorda Gede Agung Sukawati mendirikan organisasi Pitamaha, yang sangat berjasa dalam menjaga kualitas karya seni Ubud agar tidak merosot menjadi sekadar komoditas turis.
Ubud tidak tumbuh dalam isolasi. Ia adalah ruang perjumpaan (contact zone) yang unik. Jika nama jalan di Ubud menyertakan para pelukis dan intelektual Barat, itu bukanlah bentuk pemujaan pascakolonial, melainkan pengakuan atas dialog budaya yang setara. Mereka hadir bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai katalisator yang membantu memotret wajah Bali melalui lensa luar, yang kemudian memicu para seniman lokal untuk mengeksplorasi teknik-teknik baru tanpa kehilangan "taksu"-nya. Nama-nama seperti Spies atau Bonnet adalah saksi bisu bagaimana sebuah desa di pedalaman Bali bisa menjadi pusat perhatian intelektual dunia.
Dengan menyandingkan nama Jalan Rudolf Bonnet bersisian dengan Jalan I Gusti Nyoman Lempad, misalnya, kita sedang menceritakan sebuah riwayat persahabatan intelektual yang langka. Ini adalah literasi visual yang menyatakan bahwa Ubud adalah milik dunia, namun tetap berakar kuat pada bumi pertiwi.
Mungkin gagasan sekaliber Agung Rai ARMA ini nampak remeh temeh tidak penting, tapi coba saja lempar pertanyaan kepada publik, di Bali, di Indonesia bahkan di Ubud sendiri sekalipun, apakah mereka tahu siapa nama-nama maestro berikut ini: Kembeng, Nyoman Kakul, Lempad, Sobrat, Tjokot, Debglog, Wayan Beratha, AA Gede Mandera? Atau tokoh penggerak intelektual dan diplomasi kebudayaan ikonik Bali: Tjokorda Gede Agung Sukawati, I Made Sanggra, I Gusti Putu Putera, Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, Collin Mc Phee, Covarubias?
Semoga dengan menjadikan nama-nama di atas sebagai identitas jalan, kita tidak hanya memandu orang menuju sebuah alamat, tetapi kita sedang memandu generasi mendatang menuju jati diri mereka sendiri. Ubud tidak boleh hanya menjadi pasar seni; ia harus tetap menjadi tempat di mana sejarah dihormati dan kreativitas terus bernapas. [T]
Prambanan, 10/02/2026
Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...