Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
UBUD adalah panggung global. Wisatawan berjejal, galeri menjamur, hiruk-pikuk ekonomi hospitality dan kreatif berputar tanpa henti. Namun, di balik gemerlapnya status "Pusat Dinamika Kesenian," ada sebuah ironi yang menyesakkan dada—sebuah kekhawatiran yang selalu dilontarkan oleh tokoh sekaliber Agung Rai (ARMA). Kita sedang mengalami amnesia sejarah. Generasi muda kita, yang lahir dan besar di tanah para maestro, justru lebih akrab dengan nama-nama jalan generik ketimbang nama-nama seniman yang dahulu mempertaruhkan nyawa dan kreativitasnya demi mengharumkan nama Bali di mata dunia.
Sudah saatnya kita melakukan dekolonisasi identitas pada infrastruktur kita. Mengganti nama jalan di Ubud dengan nama-nama tokoh maupun karya monumental bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah upaya literasi seni budaya secara massal.
Bayangkan jika setiap sudut jalan adalah ruang kelas. Ketika nanti misalnya melintasi Jalan I Nyoman Tjokot, kita tidak hanya melihat aspal, tapi diingatkan pada imajinasi liar seorang pemahat yang mampu menghidupkan kayu-kayu mati menjadi karya ekspresif yang menggetarkan dunia. Begitu juga dengan nama I Wayan Limbak, sang arsitek gerak yang bersama Walter Spies melahirkan fenomena Tari Kecak. Tanpa literasi ini, Limbak hanya akan menjadi catatan kaki yang berdebu dalam buku sejarah, bukan kebanggaan bagi pemuda di banjarnya.
Ubud adalah muara dari pertemuan tradisi, kontemporer, dan hibriditas keduanya. Dari era pra-Pitamaha yang sakral hingga ledakan kreativitas modern, Ubud telah melahirkan "ikon dunia". Menjadikan nama mereka sebagai nama jalan adalah bentuk penghormatan tertinggi—sebuah pengakuan bahwa pondasi pariwisata Ubud dibangun di atas keringat dan estetika para maestro ini. Kita butuh Jalan Anak Agung Gede Sobrat, Jalan Ida Bagus Nyana, dan banyak lagi untuk memastikan bahwa "taksu" Ubud tidak hilang ditelan globalisasi yang anonim.
Tentu harus jujur juga untuk jangan lupa pada nama-nama “bule” di sini. Membicarakan Ubud tanpa menyebutkan para pengelana Barat yang "terpikat" dan akhirnya mendedikasikan hidupnya di sini sama saja dengan menghilangkan satu bab penting dalam sejarah hibriditas seni kita. Begitu pula dengan tokoh-tokoh di balik layar—para pemikir dan organisator yang menjaga ekosistem budaya tetap hidup. Misalnya: Arie Smit, Pendiri gerakan Young Artists di Penestanan yang memberikan warna baru (naif dan penuh warna cerah) pada estetika lukisan Bali. Atau Rudolf Bonnet, Pelukis Belanda yang bersama Tjokorda Gede Agung Sukawati mendirikan organisasi Pitamaha, yang sangat berjasa dalam menjaga kualitas karya seni Ubud agar tidak merosot menjadi sekadar komoditas turis.
Ubud tidak tumbuh dalam isolasi. Ia adalah ruang perjumpaan (contact zone) yang unik. Jika nama jalan di Ubud menyertakan para pelukis dan intelektual Barat, itu bukanlah bentuk pemujaan pascakolonial, melainkan pengakuan atas dialog budaya yang setara. Mereka hadir bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai katalisator yang membantu memotret wajah Bali melalui lensa luar, yang kemudian memicu para seniman lokal untuk mengeksplorasi teknik-teknik baru tanpa kehilangan "taksu"-nya. Nama-nama seperti Spies atau Bonnet adalah saksi bisu bagaimana sebuah desa di pedalaman Bali bisa menjadi pusat perhatian intelektual dunia.
Dengan menyandingkan nama Jalan Rudolf Bonnet bersisian dengan Jalan I Gusti Nyoman Lempad, misalnya, kita sedang menceritakan sebuah riwayat persahabatan intelektual yang langka. Ini adalah literasi visual yang menyatakan bahwa Ubud adalah milik dunia, namun tetap berakar kuat pada bumi pertiwi.
Mungkin gagasan sekaliber Agung Rai ARMA ini nampak remeh temeh tidak penting, tapi coba saja lempar pertanyaan kepada publik, di Bali, di Indonesia bahkan di Ubud sendiri sekalipun, apakah mereka tahu siapa nama-nama maestro berikut ini: Kembeng, Nyoman Kakul, Lempad, Sobrat, Tjokot, Debglog, Wayan Beratha, AA Gede Mandera? Atau tokoh penggerak intelektual dan diplomasi kebudayaan ikonik Bali: Tjokorda Gede Agung Sukawati, I Made Sanggra, I Gusti Putu Putera, Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, Collin Mc Phee, Covarubias?
Semoga dengan menjadikan nama-nama di atas sebagai identitas jalan, kita tidak hanya memandu orang menuju sebuah alamat, tetapi kita sedang memandu generasi mendatang menuju jati diri mereka sendiri. Ubud tidak boleh hanya menjadi pasar seni; ia harus tetap menjadi tempat di mana sejarah dihormati dan kreativitas terus bernapas. [T]
Prambanan, 10/02/2026
Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...