Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
UBUD adalah panggung global. Wisatawan berjejal, galeri menjamur, hiruk-pikuk ekonomi hospitality dan kreatif berputar tanpa henti. Namun, di balik gemerlapnya status "Pusat Dinamika Kesenian," ada sebuah ironi yang menyesakkan dada—sebuah kekhawatiran yang selalu dilontarkan oleh tokoh sekaliber Agung Rai (ARMA). Kita sedang mengalami amnesia sejarah. Generasi muda kita, yang lahir dan besar di tanah para maestro, justru lebih akrab dengan nama-nama jalan generik ketimbang nama-nama seniman yang dahulu mempertaruhkan nyawa dan kreativitasnya demi mengharumkan nama Bali di mata dunia.
Sudah saatnya kita melakukan dekolonisasi identitas pada infrastruktur kita. Mengganti nama jalan di Ubud dengan nama-nama tokoh maupun karya monumental bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah upaya literasi seni budaya secara massal.
Bayangkan jika setiap sudut jalan adalah ruang kelas. Ketika nanti misalnya melintasi Jalan I Nyoman Tjokot, kita tidak hanya melihat aspal, tapi diingatkan pada imajinasi liar seorang pemahat yang mampu menghidupkan kayu-kayu mati menjadi karya ekspresif yang menggetarkan dunia. Begitu juga dengan nama I Wayan Limbak, sang arsitek gerak yang bersama Walter Spies melahirkan fenomena Tari Kecak. Tanpa literasi ini, Limbak hanya akan menjadi catatan kaki yang berdebu dalam buku sejarah, bukan kebanggaan bagi pemuda di banjarnya.
Ubud adalah muara dari pertemuan tradisi, kontemporer, dan hibriditas keduanya. Dari era pra-Pitamaha yang sakral hingga ledakan kreativitas modern, Ubud telah melahirkan "ikon dunia". Menjadikan nama mereka sebagai nama jalan adalah bentuk penghormatan tertinggi—sebuah pengakuan bahwa pondasi pariwisata Ubud dibangun di atas keringat dan estetika para maestro ini. Kita butuh Jalan Anak Agung Gede Sobrat, Jalan Ida Bagus Nyana, dan banyak lagi untuk memastikan bahwa "taksu" Ubud tidak hilang ditelan globalisasi yang anonim.
Tentu harus jujur juga untuk jangan lupa pada nama-nama “bule” di sini. Membicarakan Ubud tanpa menyebutkan para pengelana Barat yang "terpikat" dan akhirnya mendedikasikan hidupnya di sini sama saja dengan menghilangkan satu bab penting dalam sejarah hibriditas seni kita. Begitu pula dengan tokoh-tokoh di balik layar—para pemikir dan organisator yang menjaga ekosistem budaya tetap hidup. Misalnya: Arie Smit, Pendiri gerakan Young Artists di Penestanan yang memberikan warna baru (naif dan penuh warna cerah) pada estetika lukisan Bali. Atau Rudolf Bonnet, Pelukis Belanda yang bersama Tjokorda Gede Agung Sukawati mendirikan organisasi Pitamaha, yang sangat berjasa dalam menjaga kualitas karya seni Ubud agar tidak merosot menjadi sekadar komoditas turis.
Ubud tidak tumbuh dalam isolasi. Ia adalah ruang perjumpaan (contact zone) yang unik. Jika nama jalan di Ubud menyertakan para pelukis dan intelektual Barat, itu bukanlah bentuk pemujaan pascakolonial, melainkan pengakuan atas dialog budaya yang setara. Mereka hadir bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai katalisator yang membantu memotret wajah Bali melalui lensa luar, yang kemudian memicu para seniman lokal untuk mengeksplorasi teknik-teknik baru tanpa kehilangan "taksu"-nya. Nama-nama seperti Spies atau Bonnet adalah saksi bisu bagaimana sebuah desa di pedalaman Bali bisa menjadi pusat perhatian intelektual dunia.
Dengan menyandingkan nama Jalan Rudolf Bonnet bersisian dengan Jalan I Gusti Nyoman Lempad, misalnya, kita sedang menceritakan sebuah riwayat persahabatan intelektual yang langka. Ini adalah literasi visual yang menyatakan bahwa Ubud adalah milik dunia, namun tetap berakar kuat pada bumi pertiwi.
Mungkin gagasan sekaliber Agung Rai ARMA ini nampak remeh temeh tidak penting, tapi coba saja lempar pertanyaan kepada publik, di Bali, di Indonesia bahkan di Ubud sendiri sekalipun, apakah mereka tahu siapa nama-nama maestro berikut ini: Kembeng, Nyoman Kakul, Lempad, Sobrat, Tjokot, Debglog, Wayan Beratha, AA Gede Mandera? Atau tokoh penggerak intelektual dan diplomasi kebudayaan ikonik Bali: Tjokorda Gede Agung Sukawati, I Made Sanggra, I Gusti Putu Putera, Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, Collin Mc Phee, Covarubias?
Semoga dengan menjadikan nama-nama di atas sebagai identitas jalan, kita tidak hanya memandu orang menuju sebuah alamat, tetapi kita sedang memandu generasi mendatang menuju jati diri mereka sendiri. Ubud tidak boleh hanya menjadi pasar seni; ia harus tetap menjadi tempat di mana sejarah dihormati dan kreativitas terus bernapas. [T]
Prambanan, 10/02/2026
Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...