“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari. Di balik jendela istana, Sungai Gangga mengalir seperti nada melankolis yang tak pernah selesai dimainkan. Air itu mengalir terus, membawa segala yang pernah terjadi ke dalam pelukannya yang dalam dan gelap.
Rama masih sibuk di ruang persidangan. Seperti biasanya. Seperti selalu.
Sita menutup matanya dan membayangkan dirinya berdiri di tepi sungai itu, kaki telanjang menginjak pasir yang dingin, dengan jubah putih yang bergerak seperti ingatan yang tak bisa dipegang. Ia telah hamil tiga bulan Rama sudah tahu tetapi dia belum bisa memberitahu suaminya tentang hal yang paling ingin dia lakukan. Ingin sekali berlari ke sungai dan menyelami diri dalam-dalam, meninggalkan semua yang pernah salah, semua yang pernah membuatnya merasa tidak bersih.
Pernah ada waktu ketika Rama memandangnya dengan mata yang penuh bintang. Pernah ada waktu ketika dia adalah satu-satunya raja di dunianya, bukan seorang raja yang memimpin kerajaan.
Sekarang?
Sekarang dia adalah beban yang dipikul dengan hati-hati, seperti mangkuk kristal yang mudah pecah, dipegang erat-erat agar tidak jatuh namun terasa seperti siapa saja bisa menjatuhkannya kapan saja.
Saat Rama memasuki kamar, cahaya malam telah mengubah warna setiap benda menjadi nuansa biru yang sedih. Istri-isteri mendahului raja, kebiasaan yang telah menjadi ritual. Sita berdiri, membungkuk, menunggu suaminya untuk berbicara terlebih dahulu.
"Sita," suaranya tidak seperti biasanya. Lebih ringan. Seolah dia sedang membawa barang pecah-belah dalam pikirannya juga.
"Ya, Tuan?"
Rama mendekatinya, meraih tangannya. Sentuhan itu masih hangat, masih lembut, namun Sita bisa merasakan sesuatu yang telah berubah entah pada kulit Rama atau pada kulit dirinya sendiri, dia tidak bisa menentukan. Mungkin keduanya pernah berjumpa dengan kedinginan yang sama.
"Aku ingin berbicara denganmu tentang hal-hal yang aku dengar dari rakyat," kata Rama, dan Sita merasa dadanya kempes sedikit. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan. Rumor selalu terbang lebih cepat daripada burung, dan kepercayaan selalu lebih rapuh daripada benang sutra.
Sita menunggu. Dia sangat pandai menunggu sekarang. Menunggu adalah satu-satunya hal yang benar-benar dia kuasai.
"Mereka berkata bahwa menerima dirimu kembali adalah tindakan yang tidak bijaksana," kata Rama dengan pelan, seperti setiap kata-kata itu menyakiti lidahnya sendiri saat keluar. "Mereka berkata bahwa mungkin Rahwana telah membuat dirimu tidak lagi murni di mata mereka."
Sita menutup mata. Di kegelapan itu, dia bisa melihat bayangan Rama yang dulunya lelaki yang memandangnya seperti dia adalah satu-satunya hal yang benar-benar masih utuh dalam dunia yang pecah-pecah. Lelaki itu hilang sekarang. Dia telah ditarik kembali oleh rakyatnya, dan rakyat itu lebih kuat daripada cinta.
Seringkali orang mengatakan bahwa wanita adalah cerminan. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa cerminan itu bisa pecah, bahkan setelah bayangan di dalamnya diperbaharui dengan gemilang.
"Aku mengerti, Tuan," bisik Sita.
"Besok," lanjut Rama, dan suaranya sekarang terdengar seperti seseorang yang telah membuat keputusan yang akan membuatnya kehilangan separuh jiwanya, "Besok aku akan membawamu ke Sungai Gangga, seperti yang kamu minta. Aku akan memenuhi harapanmu itu dulu. Sebelum... sebelum aku harus melakukan hal yang lain."
Sita tahu apa maksud Rama. Dia pernah membaca mata suaminya dengan lancar seperti membaca doa. Pengasingan. Itu kata yang tidak diucapkan namun terdengar jelas dalam setiap napas.
Malam itu, Sita tidak bisa tidur. Dia berbaring di sebelah Rama, mendengarkan napasnya yang tidak teratur. Apakah dia juga terjaga? Apakah mereka berdua sedang terjaga bersama dalam kegelapan, berdekatan namun terpisah oleh jurang yang terlalu dalam untuk dilampaui?
Sita mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Rama dengan sangat lembut, jari-jarinya menelusuri garis-garis yang telah bertambah di wajahnya sejak mereka terpisah. Garis-garis itu seperti peta dari semua tempat yang telah dilalui ketidakbahagiaan. Dia ingin menghapusnya. Dia ingin memutar waktu kembali ke saat ketika keduanya masih percaya bahwa cinta adalah satu-satunya yang diperlukan untuk tetap utuh.
"Maafkan aku," bisik Rama dalam gelap, dan Sita tidak tahu apakah dia sedang terjaga atau berbicara dalam mimpi.
"Untuk apa, Tuan?" tanya Sita.
"Untuk semuanya. Untuk tidak cukup kuat untuk melawan mereka. Untuk mencintaimu namun tetap harus meninggalkanmu. Untuk menjadi seorang raja yang tidak bisa menjadi suami yang sempurna."
Sita ingin berkata bahwa kesempurnaan adalah khayalan anak-anak, bahwa dia tidak pernah mengharapkan suami yang sempurna hanya suami yang tetap ada. Namun kata-kata itu terasa terlalu berat untuk diangkat dalam kegelapan. Jadi dia hanya diam, tangan masih di wajah Rama, merasakan detak jantungnya yang tidak teratur.
Pagi datang seperti perintah yang tidak bisa ditolak.
Mereka pergi ke Sungai Gangga dengan keheningan yang berat. Rama memacu kuda dengan tangan yang ketat pada tali kekang. Sita duduk di belakangnya, meliputi perutnya yang mulai membulat dengan tangan-tangan yang tidak tahu harus pergi ke mana. Angin pagi membawa bau lumpur dan rerumputan yang baru membusuk. Bau hidup dan mati bercampur.
Di tepi sungai, Rama membantu Sita turun. Sentuhan tangannya lembut sekali, seolah dia sedang menangani sesuatu yang jika jatuh akan hilang selamanya.
"Aku akan menunggu di sini," kata Rama.
Sita berjalan menuju air, kaki-kakinya yang mulus meninggalkan jejak di pasir basah. Air itu dingin, lebih dingin daripada yang pernah dia rasakan sebelumnya. Dia memasuki air perlahan, merasakan setiap gelombang kecil melilit pinggangnya, merangkul perutnya yang memegang kehidupan baru.
Untuk sesaat, dia membayangkan dirinya terus masuk ke dalam air, membiarkan diri tenggelam, membiarkan sungai membawanya ke tempat di mana tidak ada raja, tidak ada rakyat, tidak ada keraguan hanya ketenangan yang utuh.
Namun bayinya menendang. Kecil, lembut, namun pasti. Kehidupan kecil itu mengingatkan Sita bahwa ada yang lebih dari kesedihan mereka, lebih dari kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.
Dia kembali ke tepi, di mana Rama menunggu dengan ekspresi yang mengingatkan Sita pada keindahan yang sedang sekarat. Mata lelaki itu penuh dengan cinta dan duka yang tidak bisa dipisahkan lagi, seperti tidak ada lagi jalan untuk kembali.
"Aku mencintaimu," kata Sita, dan Rama menangis untuk pertama kalinya sejak dia diangkat menjadi raja.
"Aku tahu," jawabnya. "Itulah yang membuat segalanya menjadi lebih menyakitkan."
Sita pergi ke hutan asrama Resi Walimiki tiga hari kemudian, dengan jubah putih yang sama, kaki yang sama, tapi jiwa yang berbeda. Di dalam perutnya, bayinya tumbuh, membawa warisan cinta yang tidak bisa diselamatkan oleh kekuatan apa pun. Rama tinggal di istana, menjalani tugasnya sebagai raja, namun setiap malam dia berdiri di tepi terusan, menatap ke arah hutan, bertanya-tanya apakah istrinya masih memikirkannya seperti dia memikirkan Sita, setiap detik, setiap napas.
Cinta itu seperti Sungai Gangga. Ia terus mengalir, membawa segala yang telah lalu, tidak pernah kembali, namun tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi semprotan, menjadi kabut, menjadi ingatan yang menyentuh kulit pada malam yang sepi.
Dan kadang-kadang, ketika bulan bersembunyi di balik kabut, Rama bisa merasakan sentuhan itu masih hangat. [T]
Penulis: Galuh F Putra
Editor: Adnyana Ole
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...