“Muara Senja”, Lewat Musik Menebarkan Aura Lembongan ke Luar Pulau
MUSIK saat ini sudah jadi bagian hidup setiap orang. Dalam kondisi terbaik dan terpuruk musik adalah pelipur bahagia atau pelipur lara. Vibrasi musik bisa mengalahkan bisin...
TATIK, perempuan berumur limapuluhan dengan rambut yang selalu digelung dan wajah yang tampaknya sulit tersenyum. Ia jarang bicara, tapi sekali bicara, kalimatnya seperti keluar dari radio rusak, berisik, sumbang, tapi kadang menyenangkan. Ia pemilik Warung Rahayu, berada di sudut gang sempit yang selalu basah oleh cucuran air AC dan sisa cucian. Warung itu tak pernah benar-benar ramai, tapi juga tak pernah benar-benar sepi. Ia hidup, seperti jantung yang berdetak, bertahan karena kebiasaan, bukan karena kebutuhan.
“Yang mau rokok, bayar dulu. Saya bukan koperasi simpan pinjam,” kata Tatik suatu sore pada pelanggan tetapnya, Darto, sopir ojek online yang suka ngutang.
Darto nyengir. “Santai, Mbak. Ini kan warung rakyat. Katanya rakyat harus saling bantu.”
“Itu cuma berlaku kalau kau rakyat biasa. Kau ini rakyat utang.”
Warung Rahayu menjual segala yang tak penting tapi dicari, rokok eceran, mi instan, minyak goreng sachet, deterjen satuan, dan tentu saja gosip. Di dalam warung ada sebuah televisi tabung yang selalu menyala, menayangkan sinetron, iklan pemutih wajah, dan berita politik yang terdengar seperti lelucon.
Pelanggan warung bukan orang-orang yang butuh perubahan. Mereka hanya ingin bertahan, atau setidaknya merasa seperti itu. Ada Broto, pensiunan guru yang kini menjual pulsa elektrik. Ada Nani, mantan karyawan pabrik tekstil yang sekarang jualan cilok dan punya mimpi jadi seleb TikTok.
Tapi yang paling menarik adalah tokoh baru di gang itu: Harun. Ia muncul dua bulan lalu. Kabarnya kontrak di rumah yang dulu ditinggali pensiunan polisi. Sejak pensiunan itu wafat tiga tahun lalu, rumah itu kosong, hanya sesekali dipakai keponakan jauh untuk menyimpan kardus-kardus. Surat sewa memang tidak pernah terlihat, tapi listrik kembali menyala, dan meterannya tak pernah telat isi ulang.
Katanya ia kerja untuk perusahaan startup di Jakarta. Tapi orang-orang curiga karena Harun terlalu tenang. Ia sering membeli kopi sachet tanpa pernah terlihat minum kopi. Ia selalu duduk di bangku plastik depan warung, membaca koran usang atau mencatat sesuatu di buku kecil.
Buku itu pernah tertinggal di warung. Tatik membukanya dengan niat membantu, tapi yang ia lihat hanya deretan tanggal, nama jalan, dan satu dua kalimat aneh seperti: Langit utara bersih. Aktivitas minim. atau Rahayu stabil, sinyal aman. Tak ada nomor telepon. Tak ada nama orang. Di halaman terakhir ada tulisan: Jika gagal lagi, aku akan coba dengan cara lampu mati.
Beberapa orang bersumpah pernah melihat Harun masuk ke kantor kelurahan, tapi pegawai di sana bilang tak ada nama Harun dalam daftar domisili.
“Dia kayak mata-mata,” bisik Nani pada Darto.
“Ah, enggak. Palingan dia DPO yang nyamar.”
“Kalau DPO, kenapa betah nongkrong di gang sepi yang bahkan Google Maps malas update?”
Teka-teki Harun jadi semacam hiburan tersendiri. Ia tidak ikut arisan, tidak datang saat kerja bakti, dan tidak pernah menyapa lebih dulu. Tapi ia juga tidak menyebalkan. Bahkan, kadang, ia tampak sedih tanpa sebab.
Beberapa anak kecil di gang itu pernah diajak Harun bermain teka-teki. Tapi teka-tekinya aneh: “Apa yang tahu semua hal tentang kamu tapi kamu tak tahu dia?” atau “Apa yang menyimpan semua suaramu tapi tak pernah bicara?” Salah satu anak menjawab, “Google!” Harun hanya tersenyum kecil dan bilang, “Itu versi murahnya.”
Pernah satu malam, Broto yang sedang mabuk ringan mengajak Harun bicara tentang sejarah lokal. Harun menanggapi dengan menyebut tahun-tahun, nama-nama tokoh tua, bahkan kutipan berita zaman Orde Baru. Rinci dan tepat. Keesokan harinya, Broto tak bisa tidur, merasa Harun lebih tahu riwayat kampung itu dibanding dirinya yang lahir dan besar di situ.
Suatu malam, listrik padam. Biasa, gardu rusak, dan PLN sedang sibuk mendata pelanggan yang belum bayar. Orang-orang berkumpul di warung, satu-satunya tempat yang punya lilin dan baterai bekas. Harun datang membawa radio kecil dan memutar siaran malam, lagu-lagu lama, berita banjir di tempat lain, dan pembacaan puisi dari pendengar yang kesepian.
“Kau suka puisi?” tanya Tatik, mengejutkan semua orang karena ia jarang bertanya.
Harun mengangguk. “Suka yang pahit.”
Darto cekikikan. “Kopi pahit, hidup pahit, cinta pahit. Tinggal nunggu utang yang manis.”
Semua tertawa, termasuk Harun, tapi hanya sebentar. Wajahnya kembali tenang, hampir datar. Lalu ia berkata, pelan sekali, “Saya pernah hidup di tempat yang katanya masa depan. Tapi ternyata cuma versi mahal dari masa lalu.”
Tatik memperhatikan Harun malam itu lebih lama dari biasanya. Ia melihat bekas luka kecil di bawah telinga kanan, seperti bekas operasi atau mungkin sesuatu yang lebih canggih. Tapi ia tidak bertanya. Hanya mencatat dalam diam. Malam itu, semua orang diam lebih lama dari biasanya. Mereka tidak paham, tapi merasa itu kalimat yang penting.
Beberapa hari kemudian, Harun menghilang. Pagi itu, warung sudah buka seperti biasa. Tatik menata telur, membuka toples kerupuk, dan menyalakan televisi. Tapi tidak ada Harun. Rumah kontrakannya kosong. Pakaian, kasur, bahkan sabun batang di kamar mandi, raib.
Di bagian belakang rumah kontrakan, Pak RT menemukan bekas lubang kecil di lantai kayu, seperti tempat menyimpan sesuatu. Lubangnya bersih. Di dinding, tergores angka 0411, ditulis dengan spidol hitam. Tak ada yang tahu apa artinya, tapi Broto menyebut itu mirip kode unit di arsip militer lama yang pernah ia lihat waktu muda, entah benar atau sekadar bualan. Yang tertinggal hanya secarik kertas di meja warung: Warung ini punya suara. Kadang lebih jujur dari berita. Terima kasih sudah diam bersamaku.
Orang-orang kecewa. Bukan karena Harun pergi, tapi karena mereka tidak sempat tahu siapa dia sebenarnya. Ketika Pak RT datang membawa petugas sensus, tak ada satu pun yang bisa menjelaskan identitas Harun dengan pasti.
Dua minggu setelah Harun menghilang, seseorang dari dinas statistik pusat datang membawa selembar foto lusuh. “Kami sedang mencari seseorang,” katanya pada Pak RT. Tapi sebelum sempat menunjukkan foto itu, ia buru-buru pergi saat melihat papan nama warung. Katanya salah lokasi. Tapi Tatik yakin, itu bukan kebetulan.
"Mungkin dia penulis gagal," kata Broto.
"Atau intel yang kena pecat," sahut Darto.
"Atau malaikat nyasar," kata Nani sambil mengunyah cilok.
Tatik hanya mengangkat bahu. Ia membuka koran yang Harun tinggalkan. Ada lingkaran di satu kolom iklan baris: Dicari: tempat sunyi yang tak perlu menjelaskan diri. Dibayar dengan tenang.
Sejak itu, Warung Rahayu sedikit berubah. Tidak lebih bersih. Tapi kini ada meja kecil di pojok, dengan buku tamu lengkap dengan pensilnya. Siapa pun boleh menulis apa saja. Beberapa menulis keluhan, beberapa curhat. Ada juga yang menggambar kucing bertanduk dan roti bakar menangis. Orang-orang datang bukan cuma belanja, tapi untuk mengingat, bahwa mereka pernah dihampiri sesuatu yang tak bisa mereka pahami, tapi entah kenapa, mereka percaya itu penting.
Suatu malam, Tatik membuka kembali buku tamu yang dulu dipakai Harun. Di salah satu halaman belakang, dengan tulisan kecil seperti tergesa, ada catatan: Wilayah ini masih punya denyut. Kesadaran rakyat belum sepenuhnya mati. Jika ingin belajar ulang dari bawah, tempat ini cukup layak.
Dan Harun? Entahlah. Mungkin dia sekarang duduk di warung lain, di kota lain, menyimak kehidupan dari balik kopi yang tidak pernah ia minum. Atau mungkin ia memang tidak pernah ada.
Beberapa bulan kemudian, seorang lelaki muda datang ke warung membawa map tebal dan kamera saku. Ia memperkenalkan diri sebagai Rizky, mahasiswa pascasarjana dari Fakultas Ilmu Politik. “Saya sedang susun tesis tentang peran mantan agen sipil dalam pembentukan opini masyarakat akar rumput,” katanya. Saat mendengar nama Harun, Rizky terdiam sejenak, lalu mengeluarkan satu foto lama berwarna kusam, seorang pria berjas safari, berdiri di podium kecil dengan mikrofon, latar belakangnya spanduk pelatihan bertuliskan: Modul Deteksi Awal Disinformasi Komunal. “Kalau ini Harun yang sama,” bisik Rizky, “dulu dia orang dalam. Dikenal cerdas, tapi tiba-tiba mundur sebelum laporan penelitiannya dirilis. Ada yang bilang dia hilang karena tahu terlalu banyak. Ada juga yang bilang dia capek pura-pura netral.”
Warung Rahayu tetap buka. Televisi tetap menyala, mi instan tetap direbus, dan gosip tetap panas. Tapi sesekali, saat malam turun dan listrik tiba-tiba mati, semua orang diam, menunggu suara dari radio kecil yang tertinggal. Seakan ingin merasakan rasa kehilangan yang sebenarnya telah mereka miliki lama. [T]
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
MUSIK saat ini sudah jadi bagian hidup setiap orang. Dalam kondisi terbaik dan terpuruk musik adalah pelipur bahagia atau pelipur lara. Vibrasi musik bisa mengalahkan bisin...
BEBERAPA bulan selepas Gunung Agung menyandang status awas untuk kedua kalinya, merebaklah berbagai diskursus tentang citra malas atau manja para pengungsi yang mendiami po...
DI sejumlah sungai di wilayah Karangasem dan Kungkung belakangan terjadi blabar lahar dingin atau banjir lahar dingin alias banjir lahar hujan. Itu tentu berkaitan dengan erupsi Gu...
BAGI mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesham mata kuliah drama memang menjadi tantangan dan pengalaman trsendiri, Sript dengan judul...
SIAPA yang tak tahu keberadaan Candi Borubudur dan Prambanan dengan kemegahan arsitekturnya yang disajikan luar biasa? Tak ada yang tak tahu. Candi itu menunjukan bahwa pe...
SORE itu. Ketika langit sudah mulai jingga. Semburat jingga itu menyala mendaulat langit Singaraja. Suara motor yang khas—yang mudah saya kenali—dengan rem belakangnya yang...
BULELENG tak pernah ketinggalan dalam hal kreasi bermusik. Karya-karya musisi Buleleng pun tampil dan menyeruak di berbagai event yang dimainkan grup -grup band baru yang t...
INI adalah catatan-catatan sebelum pentas dari Drama “Schizophrenia” karya Kadek Sonia Piscayanti yang akan dipentaskan oleh kelompok drama Kelas 5C, jurusan Bahasa Inggris...
UNTUK iseng-iseng dan memenuhi keingintahuan sendiri, saya memasang kamera video (tentu tak terlalu canggih) yang menyorot aktivitas puncak Gunung Agung. Kamera saya pasang di wila...
PAGI-PAGI betul ketika telinga mulai mendengar dan mata mulai melihat, jangan lupa bahwa nafas masih mengalir keluar dan masuk sekaligus membawa aroma. Lidah mulai menyecap...