ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas Mahima, ketika pentas pada acara Swaraloka UKM Teater Kampus Seribu Jendela, Kamis, 5 Februari 2026. Orang-orang diam, menyimak, sesekali tersenyum getir.
Teater Komunitas Mahima saat itu mementaskan lakon Aduh karya Putu Wijaya yang disutradarai Wahyu M Putra. Tujuh aktor itu adalah Gusti Ngurah Andika Alit Putra, Kadek Febry Marsya Dewi, Ni Putu Indi Padma Pramayanti, Ida Ayu Ade Cili Laksmi, Ni Gusti Ayu Made Raysita Pratiwi, Putu Erna Yuniari, dan Kadek Wisnu Oktditya.
Sebagian dari mereka memerankan "salah seorang" dalam pementasan teater itu . Ada juga yang berperan sebagai "yang usul" dan "yang simpati". Dan, satu aktor berperan sebagai "si sakit" yang kerap berteriak dengan lantang, "Aduuuuuuuh!"
Si Sakit dalam lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha
Pementasan diawali dengan kesan mengejutkan. Suasana panggung yang awalnya terang dan tenang, tiba-tiba gelap dengan berkas-berkas cahaya merah. Suasana panggung yang benar-benar meneror penonton atau orang-orang yang duduk di kursi penonton dan panitia.
Dan panggung menjadi pemandangan yang dingin setelah seorang dengan tubuh gigil berbaju lusuh robek-robek itu datang dan berteriak "Haruuuuh". Kepalanya menunduk ke bawah sebelum akhirnya ambruk di tengah kerumunan.
Yang ambruk itu adalah pemeran tokoh "si sakit". Dan dari situlah pementasan kemudian mengalir, cepat, dan tegas.
Di atas panggung, dehumanisasi ditarik sebagai wacana penting dan seakan-akan meneror siapa saja yang berada di tengah masyarakat kini. Apalagi pementasan itu tidak melakonkan seperti kita melihat lakon-lakon pada umumnya, yang biasanya memiliki nama tokoh.dan karakter yang jelas sesuai nama-nama si tokoh. Lakon “Aduh” justru tidak biasa. Ia seperti menggunakan pantulan kenyataan yang mudah ditemui di teater sehari-hari kita; Siapa Kita di tengah kesengsaraan orang lain itu, apakah sebagai Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, dan atau Si Sakit.
Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha
Si Sakit dalam lakon itu, yang ambruk dan berteriak aduuuuuh, membeuyarkan aktivitas orang-orang berkumpul-bernyanyi megenjekan. Si Sakit yang datang dari kegelapan, menimbulkan suasana runyam. Orang-orang saling lempar pertanyaan kesel dan sinis kepada Si Sakit—mengganggu sekali;
Sakit apa?
Masuk angin, ya?
Panas? Pusing kepala?
Barangkali sakit ayan!
Tentu. Para penonton dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan setelah sirine dan lampu-lampu mati sebelum masuk ke cerita. Yang sekarat pada satu tokoh itu memintal banyak pertanyaan pada manusia modern saat ini, yang dilakonkan di atas panggung, masih adakah saling tolong menolong itu pada manusia? Membuat tokoh Si Sakit—yang diperankan Gede Yoga Wismantara, telah pula mengingatkan saya pada cerita teman saya, Sofi namanya, walaupun dengan kasus yang lain.
Sofi. Ia asalnya dari Bandung dan bekerja di Jakarta. Kami bertemu tahun lalu dan ia pernah bercerita di sela liburannya di Bali. Ketika hari kerja, katanya, di sebuah Stasiun Nambo ke Stasiun Manggarai, jangan harap bisa jalan santai. Semua kaki berjalan cepat. Meleng dikit kena sikut, sundul dan kegencet sesama tubuh. Karena orang-orang pergi ke tujuan masing-masing itu dengan kesadaran survival yang tinggi. Tidak ada uluran pertolongan antar sesama di waktu seperti itu. Kalaupun ada, hanya angin rasa kasihan, katanya. Selebihnya penderitaan ditanggung masing-masing.
Dan di awal-awal babak teater Aduh itu, akting para pemain di atas panggung telah membentuk cermin lebar dan jernih pada penonton untuk kembali merefleksikan tentang hidup; apakah masih ada pertolongan antar sesama pada manusia hari ini. Penonton telah masuk ke banyak pilihan, siapa dirinya di atas panggung itu, apakah ia sebagai tokoh Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, atau Si Sakit.
Cerita di atas panggung mengalir dengan baik. Kebingungan Si Sakit, misalnya, yang tiba-tiba datang membawa sakitnya itu di tengah kerumunan, memberi bangunan awal yang baik dari pementasan itu. Suasana kebingungan dan keragu-raguan orang-orang dalam menghadapi Si Sakit di atas panggung, juga menjadi kebingungan penonton. Saling menerka satu sama lain baik di atas panggung maupun di bawah panggung. Sama-sama hanya menatap dan tidak menolong. Hingga Si Sakit itu sekarat tak tertolong dan menjumpai kematiannya sendiri dengan tubuh pucat pasi dan kaku disertai bau bangkai.
Tapi di pertengahan babak, agaknya, para pemain bocor emosional, akibat energi terkuras, barangkali oleh rasa kesalnya sendiri pada sifat manusia yang banal, yang mereka mainkan itu. Mereka ngoceh. Penonton sepertinya tak dibiarkan untuk merenung, berdialog dengan diri sendiri, karena rasa kesal diambil seluruhnya oleh para pemain di atas panggung.
Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha
Pada akhirnya, fokus penonton mulai pecah. Mereka, penonton itu, tak lagi diteror dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia bisa sejahat itu pada sesamanya. Pementasan seakan berubah menjadi letupan marah-marah para pemain di atas panggung, terlebih ketika para pemain turun ke panggung dengan teriak ke tubuh penonton dengan ucapan; dalam keadaan bagaimanapun kita wajib menolong siapa saja makhluk yang memerlukan pertolongan, binatang sekalipun, apalagi manusia.
Diucapkan secara berulang kali seperti sedang orasi, seakan penonton tidak tahu sedang disindir, bahwa mereka di luar panggung barangkali adalah Yang Usul, Salah Seorang, Si Sakit, atau Yang Simpati.
Tapi ada yang lebih menarik setelah pementasan itu terjadi, adalah sebelum pementasan, saat mereka latihan. Wahyu M. Putra menggarap lakon “Aduh” itu dengan para pemainnya yang masih muda, dan kebanyakan baru pertama kali bermain teater. Rerata para pemainnya adalah pengalaman pertama untuk urusan teater dan pentas, terkecuali si sutradara sendiri.
Di sinilah teater sesungguhnya barangkali terjadi, yaitu pada saat latihan menurut saya. Tapi sayang penonton yang lain tidak tahu. Hanya saya yang tahu, sebab saya mengintip mereka latihan dengan waktu yang singkat dan bongkar pasang dengan keras itu selama tujuh hari, sedikitnya saya merasakan—Aduh.
Sehingga, walaupun ada banyak celahnya seperti kostum dan alat-alat pendukung kurang memadai, dan energi pemain yang perlu latihan secara maksimal soal urusan napas, tapi secara pementasan, mereka tetap emot api untuk tetap menuntaskannya sebagai pementasan yang tentu saja, selain menghibur juga meneror—Kita Siapa pada lakon Aduh? di luar panggung.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...