17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
DI tengah gempuran lagu dewasa yang kian mudah diakses anak-anak lewat gawai, kemunculan lagu anak-anak berbahasa daerah terasa seperti oasis di padang pasir. Terlebih lagi jika lagu itu lahir dari seorang bocah kelas 5 SD, dengan pesan kuat tentang identitas dan warisan budaya. Itulah yang ditawarkan Wikan Satya melalui single terbarunya, “Anacaraka”.
Dirilis dengan balutan video animasi kartun sederhana yang ramah anak, “Anacaraka” hadir sebagai upaya kecil namun bermakna dalam menjaga Bahasa Bali dan Aksara Bali tetap hidup di telinga generasi muda. Wikan memperkenalkan karya ini bukan sekadar sebagai lagu, tetapi sebagai ajakan: agar anak-anak Bali tetap mengenal, mencintai, dan bangga pada bahasanya sendiri.
Pesan itu terasa kian relevan di masa kini. Di sekolah, anak-anak akrab dengan Bahasa Indonesia, Inggris, bahkan Mandarin, Jepang, dan bahasa asing lainnya. Semua penting sebagai bekal masa depan. Namun di tengah arus global tersebut, Bahasa Bali dan aksaranya perlahan tersisih dari ruang keseharian. Lagu “Anacaraka” datang sebagai pengingat sederhana namun kuat: kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?
Secara musikal, lagu ini terasa ringan dan bersahabat. Nadanya easy listening, mudah diingat, dan gampang diikuti anak-anak. Bahkan di telinga orang dewasa, “Anacaraka” tetap nyaman didengarkan. Suara kecil Wikan yang lembut menghadirkan ketenangan dan ciri khas tersendiri ─ tidak berisik, tidak memaksa, tetapi pelan-pelan meresap. Lagu ini seolah seperti teman belajar yang sabar, menemani anak-anak mengenal aksara Bali tanpa merasa sedang ‘diajar’.
Menariknya, proses kreatif “Anacaraka” menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Ide musik digarap langsung oleh Wikan Satya. Sebagai musisi cilik, ia membawa spontanitas dan kepolosan khas anak-anak. Karya itu kemudian disempurnakan melalui proses mixing, mastering, dan editing oleh Sila Home Studio. Di sinilah sentuhan musisi senior masuk, merapikan gagasan bocah kelas 5 SD menjadi karya yang layak edar di berbagai platform digital.
Lirik “Anacaraka” sendiri ditulis oleh Papa Wikan, yang membantu menerjemahkan gagasan anaknya menjadi barisan kata yang komunikatif dan edukatif. Sementara itu, video animasi kartun digarap oleh guru Wikan di JB School, Mr. Yuda. Dengan visual sederhana, karakter lucu, dan warna cerah, pesan lagu dikemas agar mudah dipahami sekaligus menarik bagi anak-anak.
Hasilnya adalah sebuah paket edukasi ringan: lagu yang bisa dinyanyikan bersama, animasi yang bisa ditonton berulang kali, dan pesan budaya yang disisipkan tanpa terasa menggurui.
Bagi saya pribadi sebagai penikmat musik, kemunculan “Anacaraka” membuka kembali ingatan akan masa ketika lagu anak-anak berbahasa Bali masih lebih sering terdengar. Dulu, anak-anak punya banyak pilihan lagu yang sesuai usia mereka ─ lagu yang mengajarkan sopan santun, cinta alam, ataupun bangga pada identitas budaya. Kini, ruang itu semakin menyempit. Lagu anak-anak berbahasa Bali tak banyak bermunculan seperti dahulu, tergeser oleh musik dewasa maupun lagu anak-anak bertema dewasa yang belum tentu ramah bagi telinga dan jiwa anak-anak.
Karena itu, karya seperti “Anacaraka” terasa penting, meski lahir dari langkah kecil. Ia membuktikan bahwa lagu anak-anak berbahasa Bali masih mungkin hidup, asalkan ada kemauan untuk memulai. Lebih dari sekadar hiburan, lagu ini menjadi media belajar, penguat identitas, sekaligus jembatan emosional antara anak-anak dan budayanya.
Harapannya sederhana, agar semakin banyak anak-anak Bali yang tumbuh dengan rasa bangga terhadap bahasanya sendiri. Dan semoga saja, jejak Wikan Satya bisa menginspirasi lahirnya lebih banyak lagi lagu anak-anak berbahasa Bali.
Kini, lagu “Anacaraka” sudah dapat dinikmati melalui YouTube, Spotify, Apple Music, serta berbagai platform musik digital lainnya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...