PAGI itu, Aula SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) terasa berbeda. Bukan karena tata ruangnya, melainkan oleh ketegangan yang menggantung di udara. Rabu, 4 Februari 2026, tepat pukul 08.00 Wita, hari pertama pelaksanaan Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI resmi dimulai. Dari berbagai lomba internal yang digelar, salah satu yang menarik perhatian banyak warga sekolah adalah Lomba Baca Puisi Bali.
Sebanyak 14 peserta dari perwakilan kelas X dan XI silih berganti memasuki panggung dan membacakan puisinya. Mereka datang membawa keberanian, latihan singkat yang padat, serta lembaran puisi yang siap dihidupkan lewat suara dan ekspresi.
Pelaksanaan lomba ini terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan Bulan Bahasa Bali yang diperingati setiap Februari. Momentum tersebut memberi ruang bagi generasi muda untuk kembali mendekat pada bahasa ibu, pada puisi-puisi yang menyimpan nilai dan identitas budaya.
Lomba Baca Puisi Bali – KAC VI Kesbam│Foto: OSIS Kesbam
Sebelumnya, panitia telah menyiapkan sejumlah karya yang dapat dipilih peserta. Di antaranya ‘Siwa Ratri’ karya I Ketut Rida, ‘Ampura Meme’ karya Agus Mahardika, ‘Leluu’ karya Made Suar Timuhun, ‘Pabesen Meme lan Bapa’ karya Agus Mertayasa, serta ‘Sastra Pinaka Sawitra’ karya I Made Sunaryana. Masing-masing puisi menghadirkan tema dan kedalaman rasa yang berbeda, menuntut peserta untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga menghayati.
Satu per satu peserta tampil. Uniknya, tidak semua peserta merupakan penutur asli Bahasa Bali. Perbedaan latar belakang itu terlihat dari ragam gaya membaca, pelafalan, hingga cara menafsirkan makna. Dari beberapa aspek, puisi Bahasa Bali memang tidak semudah puisi Bahasa Indonesia. Ragam bahasa yang lebih kompleks serta kosakata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi peserta non-Bali.
Dalam penilaian lomba, peserta tidak hanya dituntut mampu melafalkan bait demi bait dengan tepat. Pembacaan puisi juga dinilai dari keseimbangan wiraga, wirasa, dan wirama. Wiraga tercermin dari sikap tubuh dan ekspresi saat tampil, wirasa hadir melalui penghayatan emosi terhadap isi puisi, sementara wirama tampak pada pengaturan tempo, jeda, dan tekanan suara. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang menentukan apakah sebuah puisi hidup di hadapan audiens.
Lomba Baca Puisi Bali – KAC VI Kesbam│Foto: OSIS KesbamSalah satu siswa memberikan respons tentang Lomba Baca Puisi Bali – KAC VI Kesbam│Foto: OSIS Kesbam
Wajah tegang tampak di beberapa peserta. Ada yang keringat dingin sebelum naik panggung, ada pula yang suara bergetar saat bait pertama terucap. Sebagian tergopoh-gopoh menyelesaikan puisinya, sementara yang lain tampil cukup tenang, ada pula yang menunjukkan pengalaman membaca puisi yang sudah terasah.
I Made Sunaryana, S.Pd., selaku dewan juri menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta yang telah berani tampil.
“Saya bangga, semua berani mencoba. Dan saya harap semuanya selalu ingat dan menggunakan Bahasa Bali, karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mewarisi bahasa kita sendiri,” ujarnya.
Secara tidak langsung, Sunaryana menegaskan bahwa KAC bukan sekadar rangkaian perayaan hari ulang tahun sekolah. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Kesbam untuk turut melestarikan Bahasa dan Budaya Bali, terlebih pelaksanaan HUT Kesbam bertepatan dengan Bulan Bahasa Bali.
Evaluasi Dewan Juri – Made Sunaryana (kanan), Saya (kiri)│Foto: OSIS Kesbam
Di balik penampilan di atas panggung hari itu, tersimpan cerita perjuangan para peserta. Salah satunya Ni Ketut Pradnya Dewi dari kelas XI Farmasi Klinis dan Komunitas (FKK 1). Ia mengaku merasa lega setelah berhasil menuntaskan penampilannya.
“Perasaan saya setelah mengikuti lomba ini sangat lega. Saya bersyukur karena akhirnya bisa membawakan karya tersebut sampai selesai, meskipun sebelum tampil sempat mengalami sedikit kendala,” katanya.
Pradnya menceritakan bahwa persiapan yang cukup mepet menjadi tantangan awal. Ia memanfaatkan waktu-waktu senggang untuk berlatih, sekaligus bergumul dengan kebingungan memilih karya yang benar-benar dapat ia sajikan dengan baik. Bahkan, pada malam H-1 lomba, suaranya sempat hilang. Ia lalu beristirahat dan minum air putih sekitar dua liter hingga kondisinya membaik saat hari lomba tiba.
Selain itu, Pradnya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesarnya adalah menumbuhkan rasa dari karya puisi sekaligus menafsirkan maknanya. Bahasa Bali dalam puisi kerap menggunakan kosakata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari, sehingga proses penghayatan menjadi tantangan tersendiri.
Pembacaan puisi oleh Ni Ketut Pradnya Dewi│Foto: OSIS Kesbam
Peserta lain, Ni luh Nagita Putri dari kelas XI Keperawatan & Caregiving (KC 3), memilih puisi ‘Ampura Meme’. Baginya, puisi tersebut memiliki makna personal.
“Saya senang karena bisa meluapkan isi hati lewat puisi ini. Perasaan saya campur aduk, ada senang sekaligus sedih. Puisi ‘Ampura Meme’ sangat berkesan bagi saya, bukan karena panjangnya, tetapi karena maknanya yang dalam. Puisi itu mewakili perasaan saya kepada ibu, meskipun beliau sudah tidak bersama saya lagi,” tuturnya.
Nagita mengaku tidak melakukan latihan khusus di depan cermin. Ia lebih memilih memahami dan merasakan setiap kata demi kata agar emosi dapat tersampaikan secara alami saat tampil. Menurutnya, tantangan tersulit dalam membaca puisi Bali adalah mengartikan setiap diksi sehingga pembacaan mampu membawa suasana dan menyentuh perasaan penonton.
Pembacaan puisi oleh Ni luh Nagita Putri│Foto: OSIS Kesbam
Lomba baca puisi hari itu pun ditutup dengan seluruh penampilan peserta. Meski pengumuman pemenang baru akan dilakukan di kemudian hari, ketegangan para peserta belum sepenuhnya usai. Rasa penasaran itu barangkali masih akan bertahan hingga keputusan diumumkan.
Namun lebih dari sekadar hasil lomba, pagi di aula Kesbam telah menghadirkan ruang ekspresi bagi Bahasa Bali untuk kembali bergema ─ melalui suara-suara muda yang sedang belajar mencintai dan merawat warisan budayanya sendiri. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...