“Jae pasti ada di segehan, biasane matimpal ajak bawang lan uyah….” (Jahe selalu ada dalam banten segehan bersamaan dengan bahawang merah dan garam). “Ada masi anggone nyampur teh, pang awake dadi anget…..” (jahe untuk the agar badan tetap hangat). Jae ada di jukut ares (sayur batang pisang muda) khas masakan Bali. Jae ngelah rasa nyangluh (memberikan aroma aromatik atau wangi).
Itulah jawaban anak-anak peserta “Malajah Sambil Maplalianan” atau “Maplalian sambil malajah literasi numerasi, literasi budaya”, dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII pada hari kedua, Senin 2 Pebruari 2026. Mereka menyampaikan beramai-ramai, dan penuh kebersamaan. Wajah mereka tampak senang dan ceria. Mereka menjawab atau mengajukan pertanyaan seakan tanpa beban, bebas dan terkesan polos. Mereka seakan tahu, bahwa belajar itu tak ada yang salah.
Pagi menjelang siang, pada ruang sempit tepatnya di sebelah barat Gedung Kriya, anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) tampak serius mendengar satwa (cerita rakyat) Men Tiwas dan Men Sugih. Itu karena, Dr. Gek Diah Desi Sentana SS. M.Hum dan Ni Nyoman Tri Wahyuni Spd.Mpd. yang tampil sebagai narasumber menceritakan kisah itu dengan detail dan penuh penjiwaan. Sesekali melemparkan pertanyaan terkait cerita itu, anak-anak pun menjawa riang.
Gek Diah sebagai pencerita mampu menyelipkan lelucun sekaligus pertanyaan agar mereka lebih focus, sekaligus untuk mengingatkan mereka para tokoh, alur cerita serta pesan-pesan yang ada. Hal itu juga sebagai cara untuk menjaga konsentrasi anak-anak, sehingga pikiran mereka focus pada kegiatan tersebut. Mereka bisa membedakan karakter tokoh dan mengambil amanat dari cerita tersebut. Itu diberikan untuk membangun rasa senang, sehingga lebih mudah menerima pembelajaran.
Anak-anak mengikuti acara Malajah Sambilang Maplalianan pada Bulan Bahasa Bali VIII-2026
“Antosias anak-anak mengikuti kegiatan “Malajah Sambil Maplalianan” cukup tinggi. Di awal mereka tidak bisa membayangkan akan mengikuti kegiatan belajar budaya yang ringan dan sangat menyenangkan,” kata Diah Desi didamping Tri Wahyuni sebagai satu tim dari Kampus Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Saat memasuki pembelajaran mengenal “babungkilan” (umbi-umbian bahan bumbu) dengan mencocokan gambar bumbu dengan bumbu aslinya. Pada kesempatan itu, anak-anak dikenalkan 4 jenis babungkilan, mulai dari jae (jahe), isen (lenkuas), kunyit (kunir) dan cekuh (kencur). Mereka diajak mengenal jenis babungkilan itu mulai dari bentuk, warna dan aromanya, serta manfaatnya.
Ketika diberikan kesemoatan untuk merasakan bentuk, melihat warna dan mencium baunya, anak-anak itu berebutan saking penasaran. Setelah pengenalan jahe, anak-anak diperkenalkan Isen yang memiliki warna mendekati pink untuk membuat jukut ares, urutan dan ayam goreng lengkuas. Kunyit memiliki warna mentereng orange, sebagai obat luka yang fungsinya sama dengan betadine. Lalu, mengenal cekuh, bentuknya kecil biasanya dicampur beras untuk obat batuk.
Mengajarkan anak-anak tentang bumbu dapur, dengan topik babungkilan ini memang langka. Awalnya, mereka jarang tahu, tetapi setelah diberikan contoh mereka mampu membedakan dari bentuk, warna dan rasanya. Ketika diajak mencoba dan membedakan, dalam waktu singkat mereka sudah mampu mengenal beberapa bumbu dapur.
Jenis-jenis babungkilan
Mengenal berbagai bebungkikalan serta menfaatnya, pembelajaran ini untuk kepentingan mereka, sehingga bisa bertahan hidup, mereka bisa membantu orang tua, dan memasak sendiri.
“Kami mengajak anak-anak mengenal berbagai jenis babungkilan dari meraba bentuk, melihat warna dan mencium aroma. Karena itu, kami memberikan kesempatan anak-anak mencium aroma babungkilan itu. Kuncinya, lihat bendanya, dan cium aromanya,” ucapnya.
Membaca literasi dan belajar nomerisasi
Untuk membuat anak-anak tak merasa jenuh, narasumber memberikan pembelajaran, tentang perubahan daun kelapa lengkap dengan manfaatnya. Mulai dari busung, lalu menjadi rempela, menjadi slepan hingga menjadi danyuh. Busung untuk metanding canang, rempele untuk bahan segehan dan slepan untuk membuat aled dan danyuh untuk obor. “Ini juga pembejalaran literasi nomerasi,” ujarnya.
Anak-anak mengikuti acara Malajah Sambilang Maplalianan pada Bulan Bahasa Bali VIII-2026
Misalnya segehan mebucu telu, itu pembelajaran literasi nomerasi dasar yang memahami tentang jumlah angka dan lainnya. Demikian juga dalam membuat ceper, bukan hanya literasi budaya tetapi literasi nomerasi tentang buju 4. Anak-anak diberikan bahan, busung dan slepan, kemudian mencoba merangkai menjadi ceper. Selain itu, mereka juga dilatih membuat tipat taluh. Pembelajaran kemudian diakhir dengan melakukan permainan Keranjang Duren.
“Untuk kegiatan “Malajah Sambil Maplalianan” hari ini, kami mengundang sebanyak 35 anak yang merupakan siswa SD di sekitaran Kota Denpasar. Kegiatan ramah anak ini merupakan kali kedua dalam ajang Bulan Bahasa Bali,” ucap Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Pada Bulan Bahasa Bali tahun lalu, hanya bisa melaksanakan sebanyak 7 kali. Namun, sekarang ini dilaksanakan setiap hari selama sebulan penuh dengan mendatangkan anak-anak dari berbagai sekolah. Sementara narasumber dari perguruan tinggi dan tokoh. Kegiatan ramah anak manfaatnya sangat besar sekali. “Kegiatan ini untuk mengajarkan mereka belajar sampil mepalayanan, teori yang langsung dengan prateknya,” ungkap Dana Tenaya.[T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...