Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
PERTANYAAN tentang mungkinkah Bahasa Bali punah terasa kian relevan jika kita menengok kehidupan Bali hari ini. Di tengah pesatnya pariwisata, teknologi, dan arus globalisasi, cara orang Bali berkomunikasi ikut berubah. Di rumah, di sekolah, bahkan di lingkungan bermain anak-anak, bahasa Indonesia kini lebih sering terdengar ketimbang Bahasa Bali. Pergeseran ini terjadi perlahan, hampir tanpa disadari, namun dampaknya sangat besar bagi keberlangsungan bahasa daerah.
Dulu, Bahasa Bali hidup kuat sebagai bahasa sehari-hari. Anak-anak tumbuh dengan Bahasa Bali sebagai bahasa pertama yang mereka dengar dari orang tua dan lingkungan sekitar. Bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pembawa nilai, sopan santun, humor, hingga cara pandang orang Bali terhadap dunia. Kini situasinya berbeda. Banyak keluarga memilih menggunakan bahasa Indonesia sejak anak-anak mereka masih belia. Alasannya beragam, mulai dari ingin anak lebih siap masuk sekolah, takut anak kesulitan mengikuti pelajaran, sampai anggapan bahwa bahasa Indonesia terasa lebih praktis.
Bahasa ibu tentu bisa apa saja. Setiap keluarga berhak menentukan bahasa yang digunakan di rumah. Namun ketika Bahasa Bali tidak lagi dikenalkan sebagai bahasa ibu, muncul persoalan baru. Anak-anak tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan bahasa daerahnya sendiri. Akibatnya, ketika mereka dewasa, Bahasa Bali terasa asing. Tidak sedikit orang Bali hari ini yang mengaku mengerti sedikit, tetapi tidak percaya diri untuk berbicara. Ada pula yang benar-benar tidak paham, terutama ragam halus yang sarat makna budaya.
Padahal, mengenalkan Bahasa Bali sejak dini tidak akan menyulitkan anak di masa depan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa secara alami. Anak yang sejak kecil terbiasa dengan Bahasa Bali dan bahasa Indonesia justru memiliki kepekaan bahasa yang lebih baik. Mereka bisa tumbuh sebagai penutur dwibahasa tanpa harus mengorbankan salah satunya. Masalahnya bukan pada kemampuan anak, melainkan pada kebiasaan orang dewasa yang perlahan meninggalkan Bahasa Bali.
Jika kondisi ini dibiarkan, Bahasa Bali berisiko mengalami penyempitan fungsi. Ia hanya dipakai saat upacara adat, kegiatan resmi, atau di ruang kelas sebagai mata pelajaran. Bahasa yang hidup seharusnya dipakai dalam percakapan sehari-hari, dalam canda, dan dalam nasihat orang tua kepada anak. Ketika Bahasa Bali hanya hadir di ruang formal, ia kehilangan denyut kehidupannya. Lambat laun, kosakata menghilang, ungkapan tradisional terlupakan, dan generasi muda semakin jauh dari akar budayanya.
Bahasa tentu tidak bisa dipisahkan dari identitas. Dalam Bahasa Bali tersimpan konsep tingkat tuturan dalam berucap ─ perbedaan rasa hormat dalam bertutur dengan lawan tutur tertentu. Semua itu sulit diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa lain. Saat Bahasa Bali melemah, yang ikut melemah adalah jembatan nilai antar generasi. Anak-anak mungkin tetap menjadi orang Bali secara administratif, tetapi pemahaman terhadap budayanya sendiri menipis.
Tentu kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Sekolah menuntut penguasaan bahasa Indonesia. Media dan gawai menghadirkan konten berbahasa nasional dan asing. Dunia kerja menuntut keterampilan komunikasi yang luas. Semua itu nyata. Namun di tengah tuntutan tersebut, ruang keluarga tetap memiliki peran paling penting. Orang tua adalah guru pertama. Jika di rumah Bahasa Bali dihidupkan kembali, digunakan dalam percakapan ringan, dalam memanggil anak, bercerita, maupun menasihati, maka benih kecintaan akan tumbuh dengan sendirinya.
Upaya pelestarian juga bisa dilakukan secara kolektif. Desa adat, sekolah, dan komunitas kreatif dapat menghadirkan ruang penggunaan Bahasa Bali yang menyenangkan. Misalnya melalui lomba-lomba, pertunjukan seni, konten digital, atau kegiatan literasi berbahasa Bali. Bahasa perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak muda, bukan hanya dalam buku pelajaran. Ketika Bahasa Bali terasa relevan dan membumi, generasi muda akan lebih mudah menerimanya.
Ungkapan lama mengingatkan kita. Utamakan bahasa Indonesia, pelihara bahasa daerah, kuasai bahasa asing. Kalimat ini bukan sekadar slogan. Di dalamnya ada keseimbangan. Bahasa Indonesia menyatukan kita sebagai bangsa. Bahasa asing membuka jendela dunia. Sementara bahasa daerah menjaga akar identitas. Ketiganya bisa berjalan beriringan, tidak perlu saling meniadakan.
Jadi, mungkinkah Bahasa Bali punah? Jawabannya bergantung pada pilihan kita hari ini. Jika kita terus membiarkannya tersisih dari rumah dan kehidupan sehari-hari, risikonya nyata. Namun jika kita mulai dari langkah kecil, berbicara kepada anak dengan Bahasa Bali, menertawakan lelucon sederhana dalam Bahasa Bali, dan merasa bangga menggunakannya, harapan itu masih ada. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...