Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
ADA satu ungkapan Bali yang bunyinya sederhana, tetapi getirnya bisa bertahan lama di kepala, milu-milu tuwung. Ia tidak sekadar menunjuk pada kebiasaan ikut-ikutan, latah, meniru apa yang sedang ramai. Ia seperti teguran yang disampaikan dengan suara pelan, namun mengandung malu yang panjang. Sebab di dalamnya terselip pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri, apakah yang kita kerjakan ini benar-benar lahir dari dalam diri, atau hanya gema dari pekerjaan orang lain.
Di zaman ketika segalanya bisa dipelajari lewat tutorial, disalin lewat satu klik, dan diproduksi ulang dengan cepat, milu-milu tuwung terasa seperti penyakit yang menemukan habitat paling suburnya. Ia tumbuh di linimasa media sosial, di ruang diskusi, di dunia seni, bahkan di wilayah yang dulu kita anggap paling pribadi, pikiran. Kita hidup di era ketika orisinalitas sering dipuji, tetapi diam-diam ditinggalkan.
Dalam percakapan sehari-hari, milu-milu tuwung dipakai untuk menyindir orang yang melakukan sesuatu hanya karena orang lain lebih dulu melakukannya. Tidak peduli paham atau tidak, cocok atau tidak, perlu atau tidak. Pokoknya ikut. Seperti tanaman liar yang tumbuh di sekitar pohon terung, bukan karena ia tahu ke mana hendak mengarah, tetapi karena kebetulan ada ruang kosong.
Ungkapan ini bukan sekadar soal kebiasaan sosial. Ia adalah penilaian moral. Ia membawa pesan agar manusia tidak kehilangan pusat dirinya sendiri. Agar tidak menjadikan hidup sebagai daftar tiruan. Agar tidak menjelma makhluk yang seluruh geraknya ditentukan oleh arah kerumunan. Namun justru itulah yang kini kita rayakan. Kita menyebutnya adaptasi. Kita menamainya relevansi. Kita memolesnya dengan istilah profesionalisme.
Padahal, barangkali, itu hanya cara baru untuk menghindari keberanian menjadi diri sendiri. Hari ini, milu-milu tuwung tidak lagi tampil sebagai kebiasaan kampung yang lugu. Ia hadir dengan wajah canggih. Seorang teman mulai rajin membuat komposisi musik dengan bantuan kecerdasan buatan. Beberapa hari kemudian, kita tergoda mencoba hal serupa. Bukan karena ada keresahan musikal yang mendesak dari dalam diri, melainkan karena takut ketinggalan percakapan. Takut terlihat usang. Takut dianggap tidak mengikuti zaman.
Seorang penulis menulis satu paragraf pendek di media sosial tentang keresahan hidup, tentang kota, tentang cinta yang letih. Kita membacanya, mengangguk pelan, lalu beberapa hari kemudian menulis esai panjang dengan gagasan serupa. Diksi boleh berbeda. Struktur boleh diubah. Tetapi denyutnya sama. Dan kita lupa, atau pura-pura lupa, untuk menyebut dari mana api kecil itu pertama kali menyala.
Tidak ada hukum yang dilanggar. Tidak ada polisi literasi yang akan datang mengetuk pintu. Tetapi ada sesuatu yang pelan-pelan tanggal, etika yang tak tertulis, dan martabat yang seharusnya dijaga oleh seorang penulis. Bagi orang yang hidup dari kata-kata, ide bukan sekadar bahan mentah. Ia adalah jejak batin. Ia adalah riwayat luka, kegembiraan, ketakutan, dan keberanian seseorang. Menggunakannya tanpa menyebut asalnya, betapapun halus caranya, tetaplah sebuah penghilangan.
Ironisnya, banyak dari kita menganggap hal itu wajar. Bahkan cerdas. Bahkan strategis. Di sinilah milu-milu tuwung menemukan bentuknya yang paling licin, ia tidak lagi terasa memalukan, melainkan praktis.
Osho (1931-1990), filsuf spiritual asal India, dalam berbagai ceramah dan bukunya, menyebut bahwa masyarakat modern lebih senang melahirkan peniru daripada individu. Sistem pendidikan, norma sosial, bahkan agama, menurutnya, bekerja seperti mesin fotokopi raksasa. Ia memproduksi manusia-manusia yang rapi, patuh, dan mudah diprediksi.
Dalam buku The Courage to Be Yourself, ia mengatakan bahwa menjadi diri sendiri adalah bentuk pemberontakan yang paling sunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada spanduk. Tidak ada kerumunan. Hanya seseorang yang berdiri sendirian, menolak untuk menjadi versi kedua dari siapa pun. Dalam Creativity: Unleashing the Forces Within, ia menyebut bahwa saat seseorang mulai meniru, di situlah pertumbuhan batinnya berhenti. Tubuhnya boleh bergerak. Kariernya boleh menanjak. Tetapi jiwanya stagnan.
Osho tidak sedang berbicara tentang seni semata. Ia berbicara tentang cara hidup. Manusia, katanya, bisa sangat sukses sebagai tiruan, tetapi tetap gagal sebagai keberadaan. Kalimat itu tidak selalu ia ucapkan dengan redaksi yang sama, tetapi maknanya berulang, hidup yang dibangun dari peniruan adalah hidup yang kehilangan pusat.
Di titik ini, milu-milu tuwung dan pemikiran Osho bertemu. Yang satu lahir dari kearifan lokal Bali. Yang lain dari tradisi filsafat Timur modern. Keduanya sama-sama mengingatkan, menjadi salinan adalah bentuk kemiskinan eksistensial.
Di dunia tulis-menulis, ada etika yang jarang dibicarakan dalam seminar, tetapi diam-diam dipahami oleh mereka yang masih menghargai martabat profesi ini. Jika sebuah ide datang dari percakapan dengan teman, sebutkan. Jika sebuah tulisan lahir dari kegelisahan orang lain yang ia unggah di media sosial, akui. Jika sebuah pemikiran tumbuh dari buku yang dibaca, tuliskan sumbernya.
Tindakan ini tidak membuat seorang penulis terlihat kecil. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa ia tidak takut berdiri sebagai dirinya sendiri, tanpa perlu mencuri bayangan orang lain. Di tengah budaya milu-milu tuwung, kejujuran seperti ini terasa kuno. Terlalu lambat. Tidak kompetitif. Padahal, di situlah letak keberaniannya.
Mengakui bahwa kita tidak selalu menemukan segalanya sendiri adalah bentuk kedewasaan. Tetapi mengklaim apa yang bukan milik kita sebagai seolah-olah lahir dari rahim pikiran sendiri, adalah bentuk ketakutan yang disamarkan.
Orang Bali masa lalu, terutama para penyair, penulis lontar, dan seniman, memahami bahwa karya bukan sekadar produk. Ia adalah laku spiritual. Ia adalah perjumpaan antara manusia dan sunyi. Keaslian tidak diukur dari seberapa ramai tepuk tangan, tetapi dari seberapa jujur seseorang berdiri di hadapan dirinya sendiri.
Dalam dunia kakawin dan kidung, meniru tanpa pengolahan batin dianggap sebagai kemalasan rohani. Sebuah karya boleh terinspirasi, tetapi ia harus melewati dapur sunyi penulisnya sendiri. Ia harus matang sebagai pengalaman, bukan sekadar tiruan bentuk. Di titik inilah milu-milu tuwung menjadi larangan yang halus. Bukan larangan hukum, tetapi larangan nurani.
Sayangnya, larangan seperti ini tidak kompatibel dengan zaman serba cepat. Menjadi orisinal hampir selalu berarti siap sepi. Siap ditertawakan. Siap tidak dipahami. Siap dicurigai. Keramaian menyukai yang familiar. Pasar menyukai yang bisa diprediksi. Media sosial menyukai pola. Orisinalitas tidak selalu cocok dengan semua itu. Maka banyak orang memilih aman, menjadi bagian dari barisan. Menjadi gema. Menjadi lanjutan kalimat orang lain.
Osho menyebut bahwa masyarakat takut pada individu yang otentik karena ia tidak bisa dikendalikan. Ia tidak bergerak berdasarkan pola yang sudah ada. Ia seperti variabel liar dalam rumus sosial. Di hadapan ketakutan itu, milu-milu tuwung terasa seperti tempat berlindung.
Teknologi kecerdasan buatan membuka kemungkinan baru dalam seni. Ia bisa membantu, mempercepat, memperluas imajinasi. Tetapi ia juga memperbesar godaan lama, meniru. Ketika sebuah lagu bisa dibuat dalam hitungan menit, ketika sebuah puisi bisa dirangkai oleh mesin, ketika sebuah esai bisa disusun oleh algoritma, pertanyaan tentang orisinalitas menjadi semakin mendesak.
Apakah kita sedang mencipta, atau sekadar memilih dari menu yang disediakan. Apakah kita sedang menulis, atau hanya mengedit bayangan. Di sinilah milu-milu tuwung menemukan pakaian barunya, bukan lagi sarung lusuh, tetapi antarmuka digital. Menulis bahwa sebuah gagasan terinspirasi dari seorang teman tidak akan membuat pembaca pergi.
Mengakui bahwa sebuah pemikiran lahir dari percakapan tidak akan menurunkan kualitas tulisan. Justru di sanalah martabat kecil itu hidup, di kejujuran yang tidak dipublikasikan dengan megafon, tetapi dijalani dengan tenang. Seorang penulis boleh miskin materi. Boleh tidak terkenal. Boleh gagal di pasar. Tetapi jika ia kehilangan kejujuran pada sumber pikirannya sendiri, ia telah kehilangan sesuatu yang lebih mahal dari honorarium.
Milu-milu tuwung mengajarkan kita satu hal, jangan tumbuh hanya karena ada ruang di samping orang lain. Tumbuhlah karena ada benih di dalam diri. Mungkin lambat. Mungkin tidak serempak. Mungkin tidak ramai. Tetapi setidaknya, ia milik kita. Di dunia yang semakin dipenuhi salinan, keberanian untuk menjadi satu-satunya diri sendiri adalah kemewahan yang jarang. Dan barangkali, justru karena jarang itulah ia menjadi penting.
Milu-milu tuwung menawarkan keamanan sosial. Orisinalitas menawarkan risiko eksistensial. Yang pertama membuat kita diterima. Yang kedua membuat kita hidup. Di antara keduanya, setiap orang memilih sendiri. Sebagian memilih nyaman menjadi gema. Sebagian lain memilih sunyi menjadi suara.
Para leluhur di Bali, dengan ungkapan sederhana itu, seolah berbisik lintas zaman, jangan kehilangan dirimu hanya demi tidak sendirian. Sebab hidup yang ramai tetapi tidak jujur, pada akhirnya, hanya akan menyisakan kelelahan. Dan hidup yang sepi tetapi otentik, meskipun sering menyakitkan, setidaknya tidak membuat kita asing di hadapan bayangan sendiri. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...