Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
Lebih dari sekadar acara sastra, Malam Puisi bertajuk Nuit de la Poésie yang berlangsung pada Jumat malam, 24 Januari 2026, di Toko Buku Partikular, menjelma menjadi ruang perjumpaan yang hidup—tempat puisi dibaca, dirayakan, dan dipertahankan maknanya di tengah riuh kehidupan sosial-politik hari ini.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian internasional Nuits de la Lecture 2026, sebuah agenda literasi global yang digagas oleh Centre national du livre atas inisiatif Kementerian Kebudayaan Prancis, dan di Bali dihadirkan oleh Alliance Française Bali. Tahun ini, tema “Villes & Campagnes / Kota dan Pedesaan” mengajak publik menimbang kembali relasi antara ruang, manusia, dan imajinasi—tema yang terasa semakin relevan di tengah perubahan sosial yang cepat dan sering kali gaduh.
Dalam suasana intim khas ruang buku independen, penyair Pranita Dewi membacakan sejumlah puisinya yang reflektif, personal, dan tajam membaca lanskap batin maupun sosial. Namun Malam Puisi ini tidak berhenti pada satu suara. Lebih dari 14 partisipan turut mengambil bagian—membacakan puisi mereka sendiri, menerjemahkan perasaan menjadi kata, atau mengapresiasi karya penyair lain dengan suara mereka masing-masing.

Pembacaan puisi juga diisi oleh Sandi Saraswati, pengajar bahasa Prancis dan pegiat teater, yang membacakan puisi dalam bahasa Prancis. Ia juga membawakan puisi karya Pranita Dewi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan dibukukan oleh Alliance Française dalam antologi berjudul Couleur Femme (Warna Perempuan). Perlintasan bahasa ini menegaskan puisi sebagai medium yang melampaui batas geografis dan identitas.
Yang membuat malam itu terasa istimewa bukan hanya siapa yang tampil, tetapi berapa banyak suara yang berani hadir. Di tengah situasi sosial dan politik yang kerap menyesakkan, puisi terbukti masih menemukan pendengarnya. Satu per satu pembaca maju—dengan gugup, dengan yakin, dengan suara bergetar atau lantang—membuktikan bahwa puisi belum kehilangan relevansinya, bahkan justru menjadi ruang aman untuk bernapas dan berpikir bersama.
Acara dipandu oleh Juli Sastrawan dari Penerbit Partikular bersama Olivia Imelda dari tim Komunikasi & Budaya Alliance Française Bali. Keduanya menegaskan pentingnya ruang-ruang sastra independen sebagai simpul dialog kultural—tempat bahasa, pengalaman, dan kegelisahan zaman bisa saling bertemu tanpa hirarki.

Melalui Nuit de la Poésie, Alliance Française Bali menegaskan komitmennya untuk mendorong apresiasi sastra lintas bahasa, membuka ruang bagi penerjemahan, serta merawat minat baca generasi muda. Sementara itu, Toko Buku Partikular kembali menunjukkan perannya sebagai ruang hidup sastra di Denpasar—bukan hanya sebagai tempat buku dijual, tetapi sebagai ruang pertemuan gagasan dan suara.
Malam Puisi ini meninggalkan satu kesan kuat: di tengah deru negara, puisi masih berarti. Ia mungkin tidak berteriak, tetapi ia hadir—dan dari kehadiran itulah, makna terus dijaga. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana/Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – sa...
MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak...
DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan malaikat-malaikat kecil nan polos. Mereka men...
KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa beban. Nyanyian, tarian dan jiwanya be...
Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda ya...
DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinya...
BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah yang sama, barangkali bukan perkara sed...
FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Se...
PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, telah memasuki hari ketiga...