Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terselip sebuah tren kelam yang kian hari kian mengkhawatirkan: ulah pati. Istilah lokal untuk bunuh diri ini kini bukan lagi sekadar berita selingan, melainkan alarm keras bagi ketahanan mental masyarakat kita.
Jika kita menilik data hingga awal 2026 ini, Bali konsisten menempati posisi atas dalam kasus bunuh diri secara nasional. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, angka kasus di Bali terus merangkak naik, bahkan sempat menyentuh angka ratusan jiwa dalam setahun.
Beberapa kasus yang viral di jagat maya menjadi saksi bisu betapa "mudahnya" nyawa dilepaskan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi ikon keindahan. Kita tentu ingat kasus tragis di Jembatan Tukad Bangkung yang seolah menjadi magnet bagi mereka yang putus asa, hingga pemerintah harus memasang pagar pengaman tinggi. Belum lagi kasus-kasus di awal 2026 di wilayah Badung dan Karangasem yang dipicu oleh masalah asmara dan impitan ekonomi yang kian mencekik pasca-pandemi.
Dugaan saya, ada satu faktor modern yang luput dari pengamatan mendalam namun berperan sebagai "pembakar" dorongan bunuh diri: Media Sosial. Media sosial di Bali telah menciptakan standar hidup yang semu. Konten-konten yang memamerkan gaya hidup mewah, kemesraan yang dipaksakan, hingga glorifikasi terhadap kesuksesan instan membuat banyak krama Bali—terutama generasi muda—merasa kerdil. Terjadi social comparison yang akut; saat realita hidup tak seindah feed Instagram, muncul rasa gagal yang mendalam.
Lebih berbahaya lagi, media sosial sering kali menjadi tempat glorifikasi bunuh diri. Pemberitaan yang terlalu vulgar, detail cara, hingga komentar netizen yang kadang justru "menantang" atau memberikan simpati yang salah, secara tidak langsung menciptakan efek penularan (Werther Effect). Konten yang viral menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang di ambang batas, seolah-olah mengakhiri hidup adalah solusi estetis untuk menghentikan beban dan (berharap) mendapat empati sosial.
Tentu, badai digital via medsos ini tidak berdiri sendiri. Kemungkinan factor penyebabnya berasal dari antara lain:
Kita harus tidak bisa diam dan menonton. Masyarakat Bali harus kembali ke akar namun dengan pemikiran yang modern. Titik-titik yang perlu dipetakan sebagai panduan landasan aksi untuk tidak diam itu adalah:
Bagaimana dengan kaum muda (yowana) Bali dalam hal ini? Mereka sangat strategis menjadi "Sistem Imun" di tengah badai digital terkait kasus bundir ini.
Dalam struktur sosial kita, Yowana adalah kelompok yang paling rentan sekaligus yang paling punya kekuatan untuk mengubah keadaan. Anak muda Bali saat ini hidup dalam dua dunia: dunia fisik yang penuh dengan tuntutan adat, dan dunia digital yang penuh dengan standar kesuksesan yang absurd. Ketika kedua dunia ini bertabrakan dan tidak mampu dikelola dengan baik, terjadilah krisis identitas yang berujung pada keputusasaan.
Namun, saya percaya Yowana bukan sekadar korban. Kalian adalah kunci. Untuk memutus rantai tren bunuh diri ini, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan nasihat-nasihat normatif. Perlu ada gerakan akar rumput yang nyata, keren, dan masuk akal bagi generasi hari ini.
Yowana harus menjadi garda terdepan dalam "literasi empati" di media sosial. Berhentilah menyebarkan konten kejadian (foto/video lokasi bunuh diri) meski atas nama "info terkini". Sebaliknya, buatlah konten yang menormalisasi obrolan tentang kesehatan mental. Jadikan feed kalian ruang yang aman, bukan ajang pamer yang memicu kecemasan orang lain.
Ubahlah paradigma Sekaa Teruna. Jangan hanya sibuk membuat ogoh-ogoh atau acara hiburan saat ulang tahun. Mulailah membuat program sederhana seperti sharing session atau mengundang psikolog ke banjar. Ciptakan suasana di mana anggota STT merasa "oke untuk tidak merasa oke" dan tahu ke mana harus mencari bantuan tanpa takut dihakimi.
Anak muda lebih cenderung bercerita kepada teman sebaya daripada orang tua atau tokoh adat. Yowana perlu belajar keterampilan dasar psychological first aid (pertolongan pertama psikologis). Jika melihat teman yang mulai mengunggah status bernada gelap atau menarik diri dari pergaulan, jangan diabaikan atau dijadikan bahan bercandaan. Dekati, dengarkan tanpa menghakimi.
Mari kita sepakati bersama: tidak ada gunanya mempertahankan gengsi di media sosial jika batin tersiksa. Yowana harus berani memutus gaya hidup konsumtif yang dipaksakan. Mari kita kembalikan nilai Bali yang sederhana dan napak pertiwi. Keberanian untuk jujur tentang kondisi ekonomi dan mental adalah bentuk ksatria yang sesungguhnya di era modern ini.
Bagi Yowana yang memiliki keahlian di bidang TI, buatlah platform atau aplikasi lokal Bali yang menghubungkan orang-orang dalam krisis dengan tenaga profesional atau relawan pendengar secara anonim. Teknologi harus digunakan untuk menyembuhkan, bukan untuk menjatuhkan.
Bali adalah pulau yang dibangun di atas konsep Tri Hita Karana. Keharmonisan dengan sesama manusia (Pawongan) harus kita perbaiki lagi. Janganlah mata hanya pandang ke “langit” stana para hyang dewata atau ke “alam bawah bumi” sarang sarwa butha-prete tapi pandanglah juga “kiwa-tengen” sesama kita manusia di tanah yang sama dipijak.
Menjaga Bali tetap ajeg bukan hanya tentang menjaga kesucian pura atau kreasi pesona magis-liturgis upacara-upakara tapi juga menjaga nyawa dan kesehatan jiwa manusia-manusia di dalamnya. Jika kita melihat tren bunuh diri ini sebagai sebuah "penyakit menular", maka obatnya adalah kepedulian. Kepada seluruh Yowana Bali, ingatlah: Saling jaga adalah yadnya tertinggi kita hari ini. Meminjam jargon sebuah pusat studi bernama Mahardhika Institute, yang didirikan tokoh muda Bali, I Putu Eka Mahardhika: saling isi saling gisi.
Memperhatikan sesama jangan-jangan yadnya terhilang selama ini?
Ingat, bunuh diri itu tidak keren! Lebih tidak keren lagi kalau kita tidak saling peduli!
Ampura!
Prambanan, 24/01/2026
Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...