‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BERTEPATAN dengan tanggal 25 Januari 2026 merupakan Hari Gizi Nasional. Sebuah momentum penting yang patut digunakan sebagai ajang refleksi kondisi gizi anak-anak Indonesia. Di tengah peringatan ini, wacana Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menjadi perhatian dan penilaian kita bersama.
Program ini hadir dengan tujuan utama yaitu memperbaiki status gizi anak, menekan angka stunting, serta meningkatkan konsentrasi dan capaian belajar siswa. Namun, di balik tujuan baik tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah MBG benar-benar menjawab persoalan gizi secara substansial?
Secara substansi, tidak ada masalah dengan gagasan menyediakan MBG bagi anak-anak sekolah. Program ini bertujuan mulia, sebab asupan gizi yang memadai dapat berkontribusi pada fokus dan kesiapan belajar, kesehatan fisik, dan perkembangan kognitif. Pun halnya, dalam konteks permasalahan sosial-ekonomi, MBG juga dapat menjadi sebuah alat yang digunakan pemerintah untuk merealisasikan keadilan sosial, yang memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat memperoleh nutrisi yang layak. Dengan cara demikian, sekolah bukan hanya sebagai pusat belajar, tetapi juga tempat memberikan keadilan bagi semua anak untuk tumbuh dan berkembang maksimal.
Namun, realita sering bertolak belakang dari niat baik tersebut. Permasalahan berupa berbagai kasus keracunan makanan telah mewarnai dalam proses realisasinya. Berbagai pihak, orang tua, guru, dan peserta didik mengalami trauma dan menolak MBG karena kasus-kasus keracunan tersebut. Meski demikian, program tersebut masih tetap dijalankan dengan alasan pemecahan masalah gizi bukan masalah instan namun perlu proses panjang dengan pembenahan dalam penanganan proses produksi dan distribusi.
Persoalan gizi tidak sesederhana menyediakan makanan gratis. Gizi adalah masalah multidimensional yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, pola asuh, sanitasi, akses pangan, budaya makan, hingga literasi kesehatan. Masalah gizi tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar seporsi makanan di sekolah, sebab sejatinya anak-anak perlu asupan makanan yang lengkap di rumah. Pendidikan keluarga dan pola asuh membentuk kebiasaan makan sejak dini. Orang tua hendaknya memiliki literasi kesehatan yang memadai untuk menyediakan nutrisi berkualitas bagi anak-anak. Namun, tidak semua orang tua paham tentang hal ini dan mampu menyediakannya (faktor ekonomi), sehingga program MBG di sekolah dapat berbenturan dengan pola dan budaya makan di rumah. Tanpa pendidikan keluarga yang memadai, Upaya perbaikan gizi bersifat parsial dan kurang optimal. Oleh karena itu, pendidikan keluarga menjadi lebih penting untuk keberlangsungan program.
Selain itu, sanitasi dan akses pangan menentukan efektivitas program gizi anak. Faktor kebersihan dan akses pangan di beberapa wilayah dapat menjadi tantangan. Anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil dengam lingkungan yang kurang bersih dan susah dijangkau dapat menjadikan program MBG menghadapi tantangan dalam distribusi, sehingga dapat menyebabkan makanan menjadi basi sebelum sampai ke tempat tujuan. Di lain pihak, budaya makan juga berperan penting. Preferensi keluarga dan anak-anak pada makanan tertentu dapat bertentangan dengan program MBG. Hal ini dapat berpotensi penolakan anak karena makanan yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka. Akibatnya, tidak sedikit makanan yang terbuang, dikonsumsi setengah hati, atau tidak memberikan manfaat optimal. Gizi sesungguhnya tidak bisa dipaksakan melalui satu resep untuk semua.
Literasi kesehatan menjadi fondasi dari kesuksesan sebuah upaya untuk menyehatkan anak bangsa, Literasi kesehatan bukan sekadar pengetahuan tentang gizi, tetapi juga kemampuan memahami dan menerapkan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kemampuan pemahaman dan penerapan ini, program MBG tidak akan berjalan optimal, bila tidak dibarengi dengan penanaman pemahaman yang memadai kepada anak-anak dan juga orang tua. Mereka perlu diberikan penjelasan dan pemahaman tentang apa yang dimakan dan apa manfaatnya, bukan sekadar makan untuk mengenyangkan. Oleh karena itu, MBG berkelanjutan hendaknya lebih menekankan pada pembentukan kesadaran, kebiasaan, dan tanggung jawab antara sekolah dan orang tua dalam membangun pemahaman dan penerapan makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak-anak yang menjadi generasi penerus dan SDM Indonesia ke depan.
Peran guru menjadi krusial dalam program MBG. Guru bukan hanya sebagai pembantu mendistribusikan makanan kepada anak-anak di kelas, namun guru perlu dibekali pelatihan untuk mengintegrasikan MBG dalam aktivitas pembelajaran terkait dengan edukasi gizi dalam setiap makanan yang didistribusikan, Dengan demikian, guru dapat memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak-anak tentang asupan gizi pada makanan yang dikonsumsi mereka. Dengan cara edukatif ini, diharapkan akan ada perubahan pola dan perilaku makan pada anak, karena didukung oleh proses pembelajaran tentang literasi kesehatan yang bermakna. Demikian juga pada orang tua, mereka perlu mendapatkan sosialisasi tentang literasi kesehatan yang menunjang keberhasilan program dalam jangka panjang.
Dengan momentum Hari Gizi Nasional, program MBG yang telah berjalan perlu direfleksikan apakah memang masih perlu dilanjutkan atau distop. Ini semua tergantung pada bagaimana impelemntasinya ke depan. Bila hanya masalah bagi-bagi makanan gratis saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan literasi kesehatan, mungkin keberhasilannya kurang atau tidak optimal, sehingga program MBG perlu distop, karena kesehatan anak-anak seutuhnya lebih banyak ditentukan dari keluarga di rumah melalui pemahaman dan kesadaran diri untuk hidup sehat. Sebaliknya, MBG bisa dilakukan berkelanjutan bila program diperkuat dan dibarengi dengan edukasi literasi kesehatan. Dalam konteks ini, MBG diintegrasikan dengan pendidikan literasi kesehatan, bukan sebagai sebuah solusi tunggal dari semua masalah kompleks seperti kesiapan dan fokus belajar, perkembangan fisik, dan kognitif siswa,
Integrasi menjadi kata kunci. MBG perlu disinergikan dengan edukasi literasi kesehatan, yang melibatkan bukan hanya anak-anak, para guru, tetapi juga orang tua. Dengan demikian, anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga membangun pengetahuan, sikap, dan kebiasaan hidup sehat. Tanpa itu, MBG hanyalah menjadi kebijakan politis taktis yang tampaknya mengesankan di awal, tetapi kehilangan makna dan dampak dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, harapan besar MBG harus diimbangi dengan realita lapangan. Niat baik pemerintah patut diapresiasi, namun niat tersebut harus direalisasikan dengan usaha yang maksimal. Gizi anak adalah sebuah investasi masa depan suatu negara yang memerlukan penanganan komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis pendidikan. Di Hari Gizi Nasional ini, sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita resapi bersama bukanlah pada seberapa banyak porsi yang telah mereka konsumsi, namun sejauh mana mereka telah paham dan menerapkan pola hidup sehat. [T]
Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...