Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
PARIWISATA sebagai industri saling bersaing di dunia internasional. Bahkan persaingan ketat terjadi di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing negara memiliki kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing juga mempunyai konsep dan strategi pengembangan pariwisata yang berbeda. Ujungnya sama, peningkatan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakatnya.
Persaingan ketat terjadi di antara negara Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Indonesia dengan segenap potensi wisata yang dimiliki ikut bersaing menarik wisatawan, meski dengan langkah yang terseok-seok. Berdasarkan destinasi dan jenis wisatanya, sesungguhnya negara-negara di Asia Tenggara hampir memiliki kesamaan potensi. Bahkan Indonesia memiliki banyak potensi. Namun angka kunjungan wisatawan ke Thailand, Malaysia, dan Vietnam melesat dengan cepat.
Potensi alam di masing-masing negara menjadi daya tarik wisatawan. Thailand memiliki banyak taman nasional yang alami, selain Kepulauan Phi Phi dan Phuket. Malaysia punya Taman Nasional Gunung Kinabalu dan Pulau Langkawi dengan Pantai Cenang dan Tanjung Rhu. Vietnam juga mempunyai wisata alam yang luar biasa, seperti Ha Long Bay dan pantai andalannya, yaitu Phu Quock dan Nha Trang. Indonesia tak kalah menarik. Pantai di Indonesia begitu banyak. Pegunungan juga banyak. Namun tetap saja, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih kalah dibandingkan ketiga negara di kawasan Asia Tenggara itu.
Potensi sosial budaya beragam pula. Thailand memiliki destinasi wisata budaya di Bangkok, Chiang Mai, dan beberapa kuil yang tersebar di negara gajah putih itu. Malaysia mengandalkan destinasi budaya yang ada di George Town, Penang, dan Kota Malaka. Sedangkan Vietnam mengunggulkan kota-kota bersejarah, seperti Hanoi Hue. Sementara Indonesia banyak memiliki potensi budaya yang ada di setiap pulau. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia yang luas wilayahnya hanya 330.803 km², kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia lebih rendah.
Pertanyaan besar tentunya, mengapa geliat pariwisata Indonesia tak semeriah negara-negara tetangga? Padahal Indonesia memiliki luas wilayah 5.180.053 km². Angka yang sangat luas bagi negara dengan beragam potensi alam dan budayanya. Bahkan bila dibanding dengan Vietnam, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia terkalahkan. Vietnam kini menjadi ancaman baru bagi Indonesia. Mungkinkah pariwisata Vietnam akan menggeser Indonesia?
Pariwisata saat ini menjadi ekonomi kunci bagi Vietnam yang menghadapi tantangan dan peluang restrukturisasi komprehensif. Vietnam telah merancang strategi pembangunan hingga tahun 2030; dan pariwisata Vietnam sedang memposisikan diri sebagai kereta cepat.
Krisis global yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 justru membuat pariwisata Vietnam menunjukkan vitalitas yang kuat dan berdaptasi dengan cepat untuk bangkit kembali. Pada tahun 2024, Vietnam menyambut 17,6 juta pengunjung internasional, mencapai pemulihan 98% dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi (termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara). Pada tahun 2025, seluruh industri mencetak rekor baru dengan menyambut pengunjung ke-20 juta pada pertengahan Desember (Vietnam.vn, 23/12/2025).
Pasar wisata domestik juga menjadi pilar yang strategis dengan estimasi 140 juta pengunjung. Industri pariwisata Vietnam memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism) menilai sektor pariwisata Vietnam sebagai salah satu yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia, yaitu 21 persen.
Laju kereta cepat pariwisata membuat Vietnam meraih berbagai penghargaan dalam World Travel Awards 2025 (WTA). Beberapa gelar diraih Vietnam, di antaranya Destinasi Warisan Budaya Terkemuka Dunia, Destinasi Budaya Lokal Terkemuka Dunia 2025, Destinasi Alam Lokal Terkemuka Dunia, Kota Wisata Terkemuka Dunia untuk Tam Dao, dan Phu Quoc sebagai Destinasi Alam Pulau dan Pantai Terkemuka Dunia.
Hingga tahun 2030 Vietnam menerapkan strategi yang menggeser pola pikir pasif dan terbuka menuju pendekatan aktif dan berorientasi pasar. Tujuan strategi ini adalah menciptakan terobosan dalam kebijakan visa dan konektivitas udara, produk pariwisata yang terus diperbarui, dan diversifikasi. Semua itu mengarah pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, dengan menggunakan kualitas, efisiensi, dan daya saing sebagai tolok ukur.
Produk utama pariwisata Vietnam adalah pantai dan pulau, pariwisata budaya, ekowisata, dan pariwisata perkotaan. Phu Quoc di Vietnam pun menduduki posisi pertama sebagai Pulau Terindah 2025 Asia versi Conde Nast Traveler, sebuah majalah di Amerika Serikat. Bahkan berkembang opini, Phu Quoc telah menggeser Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Tentu saja ini menjadi tantangan bagi pariwisata Bali dan Indonesia.Bukan hanya pulau dan pantai, Vietnam juga mengembangkan pariwisata malam, pariwisata kesehatan dan kebugaran, pariwisata pertanian dan pedesaan, pariwisata MICE, pariwisata golf, pariwisata olahraga, pariwisata kereta api, pariwisata kapal pesiar, dan pariwisata komunitas yang terkait dengan pelestarian budaya dan mata pencaharian lokal.
Kereta pariwisata Vietnam terbukti melaju dengan cepat. Akan tetapi kereta cepat pariwisata itu menyimpan potensi ancaman. Secara ekonomis memang menguntungkan bagi devisa negara. Namun bahaya overtourism mengintai. Apalagi luas wilayah Vietnam hanya 331.690 km², kurang dari separuh dari wilayah Pulau Kalimantan yang memiliki luas 743.330 km².
Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa Vietnam kini banyak diburu wisatawan mancanegara? Seorang wisatawan digital nomad asal Spanyol, Alberto Ferreiras Casteleiro membagikan pengalamannya melalui video yang diunggah ke TikTok, dan telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Dia yang telah menetap di Vietnam lebih dari dua tahun mengatakan, begitu orang berada di Vietnam tidak akan pernah ingin pergi. Banyak alasan yang ia kemukakan ( Vietnam.vn, 27/12/2025).
Menurut Alberto Ferreiras Casteleiro, secangkir kopi seharga $1 lebih ampuh daripada bahan bakar roket. Orang akan menjadi sangat produktif di Vietnam; hari kerja empat jam bisa dengan mudah diperpanjang menjadi sepuluh jam. Semangkuk pho seharga $2 bisa mengalahkan semangkuk mi 'setinggi langit' yang pernah dimakan di rumah. Bukan hanya itu. Sebuah apartemen dengan semua fasilitas, mulai dari kolam renang di atap dan pemandangan kota hingga perabotan lengkap, semuanya dengan harga setara sebuah kamar kecil di Barat.
Vietnam dianggap sebagai destinasi wisata yang manusiawi. Penduduknya sangat ramah. Mereka akan mengajak wisatawan makan, bercengkerama, dan tanpa disadari wisatawan telah memiliki keluarga kedua. Kuliner asli Vietnam sangat luar biasa serta komunitas lokal yang membuat wisatawan enggan untuk pergi.
Berdasarkan pengalaman pribadi, Alberto Ferreiras Casteleiro percaya Vietnam adalah salah satu lingkungan terbaik di dunia untuk para pekerja lepas digital. “Tempat ini memiliki infrastruktur yang stabil, internet cepat, biaya hidup rendah, dan gaya hidup yang mendukung kinerja kerja dan keseimbangan. Lebih penting lagi, Vietnam menawarkan nilai yang tak terukur: kedamaian batin. Ketika biaya hidup dasar dan tekanan sehari-hari berkurang, orang dapat lebih fokus pada pekerjaan yang bermakna dan pengembangan pribadi,” ujarnya seperti ditulis Vietnam.cn.
Kehangatan orang-orang Vietnam tidak dibuat-buat. Vietnam sangat terbuka, aman, dan sangat manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakatnya dibangun atas dasar semangat kebersamaan, rasa hormat, dan ketahanan, dengan orang-orang yang bangga akan negara mereka dan sangat ramah. Tak heran bila kini banyak wisatawan mengincar Vietnam sebagai destinasi alternatif di kawasan Asia Tenggara.
Meski demikian, membludaknya wisatawan asing ke Vietnam suatu ketika akan memunculkan persoalan kemanusiaan. Interaksi penduduk dengan wisatawan dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi dapat menimbulkan dislokasi budaya dan disorientasi sosial. Bali yang dulu masih nyaman dan aman untuk dikunjungi, kini juga mulai terusik dengan perilaku wisatawan yang kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan lain dan penduduk setempat.
Penduduk Vietnam suatu saat juga akan sangat tergantung pada pariwisata, sebagaimana terjadi di Bali saat ini. Budaya dan alam Vietnam yang saat ini masih tampak natural, suatu ketika bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Ini tentu dapat membuat budaya dan alam Vietnam menjadi bagian dari rezim pariwisata yang kapitalistik.
Pariwisata Vietnam sangat mungkin bisa menggeser Indonesia. Namun Vietnam juga harus belajar banyak dari masalah pembangunan pariwisata yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran tata ruang dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia dapat saja menimpa Vietnam. Apalagi bila rakyat, pejabat, dan konglomeratnya saling berebut kue pariwisata. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...