Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
LAMPU-lampu aula itu tak sekadar redup. Ia memerah, menekan, dan membuat banyak pasang mata saling berpandangan ─ bingung, waspada, sekaligus penasaran. Beberapa menit sebelumnya, Indonesia Raya dan Mars sekolah masih berkumandang dengan khidmat. Tak ada yang menyangka, peresmian sebuah ekstrakurikuler akan berubah menjadi sebuah perjamuan simbolik yang nyaris menyerupai sebuah ritus.
Sabtu pagi, 17 Januari 2026, Aula SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) menjadi saksi peresmian Teater Media Tepi. Tetapi alih-alih seremoni formal dengan sambutan panjang dan pengguntingan pita, yang muncul justru prosesi teatrikal yang mengguncang imajinasi para siswa.
Di bawah dominasi cahaya merah, seorang figur berjubah putih melangkah perlahan ke atas panggung. Wajahnya tertutup kain. Di tangannya, sebuah tongkat tergenggam. Sosok itu adalah Mohammad Hasbi Romadhoni, S.S., pembina Teater Media Tepi. Dengan suara yang tenang namun bergema, ia melafalkan ayat-ayat ritus ─ bukan doa agama, melainkan teks simbolik yang dirancang sebagai fondasi nilai dan arah organisasi.

Tak lama berselang, satu per satu pengurus baru memasuki ruang. Mereka berpakaian serupa: kain putih menutupi tubuh dan wajah, lilin menyala digenggam erat. Api kecil itu bergetar, seolah menolak padam, menyinari langkah-langkah pelan menuju panggung. Di bangku penonton, sebagian siswa terdiam. Sebagian lain berbisik. Ada yang tersenyum kikuk, ada pula yang benar-benar tak paham apa yang sedang disaksikan.
Kesan ritual “sekte” sempat muncul di benak beberapa orang. Namun justru di situlah letak pernyataannya, ini bukan sekadar pelantikan organisasi, tetapi pelantikan teater sekolah yang penuh ekspresi.
“Kami sengaja memilih tajuk Perjamuan. Karena kami teater, maka pelantikannya pun harus teatrikal. Semua gerakan dan kostum itu simbolik,” ujar Hasbi Romadhoni usai acara.
Ia menjelaskan, jubah putih dan wajah tertutup melambangkan jiwa yang masih tersesat, belum memiliki arah. Api lilin adalah tekad, semangat, dan tanggung jawab yang akan menuntun perjalanan mereka. Prosesi itu terinspirasi dari berbagai ritual peribadatan secara universal, terutama tradisi agama-agama samawi.

’
“Kerja teater itu kerja seni yang abadi, maka ia harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” kata Hasbi Romadhoni.
Ayat-ayat yang ia bacakan disebut sebagai ‘12 ayat perjanjian ritus’ ─ sebuah panduan nilai dan etika organisasi. Dalam simbol yang mereka bangun, pengurus disebut sebagai pilar, sementara divisi-divisi adalah akar. Sebuah metafora tentang bangunan hidup yang harus saling menopang.
Setelah prosesi sakral itu usai, suasana perlahan mencair. Lampu kembali dinyalakan lebih terang. Tepuk tangan terdengar. Ni Kadek Shantika Tirta Dewi, Ketua Teater Media Tepi yang disebut sebagai ‘Pilar’, memperkenalkan kepengurusan baru kepada audiens di atas panggung. Aula yang sebelumnya tegang, dipenuhi rasa lega dan kagum. Tak lupa, ia dan seluruh pengurusnya juga menyapa dan menyalami semua yang hadir seusai acara.
Peresmian ini bukan sekadar pengukuhan struktural. Ia sekaligus menjadi bagian dari produksi tunggal perdana Teater Media Tepi yang bertajuk ‘Perjamuan’. Sebuah karya yang dirancang dengan dua fungsi utama: sebagai orientasi produksi bagi anggota baru, dan sebagai penanda satu tahun perjalanan sekaligus pengesahan resmi Teater Media Tepi sebagai ekstrakurikuler sekolah.

Melalui ‘Perjamuan’, para anggota yang mereka sebut ‘jemaat’ tidak hanya belajar berdiri di panggung sebagai aktor. Mereka juga terlibat penuh dalam manajemen produksi, mulai dari artistik, teknis, hingga pengorganisasian. Prinsipnya sederhana namun tegas: teater harus dikerjakan secara utuh, mandiri, dan profesional, meski lahir dari sekolah.
Bagi Hasbi Romadhoni, peresmian ini adalah titik balik. Dari kegiatan nonresmi menjadi entitas yang diakui institusi. Dari sekadar komunitas minat menjadi ruang pembelajaran seni pertunjukan yang terstruktur.
Teater Media Tepi sendiri diinisiasi oleh 13 siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Mereka mulai berkegiatan sejak 4 Februari 2025 dengan satu tujuan awal, yakni mengikuti FLS2N tingkat Kota Denpasar. Nama ‘Tepi’ dipilih sebagai simbol visi ─ berada di ujung, di batas, di garis terdepan pencarian artistik.

Pada 7 September 2025, nama dan logo mereka disempurnakan setelah ditemukan kesamaan nama dengan kelompok lain di Denpasar. Sejak itu, Teater Media Tepi bukan hanya nama, tetapi sikap berani berdiri di pinggir arus utama, mengolah kegelisahan, dan menyuarakannya lewat teater dan kesusastraan.
Apa yang terjadi di aula hari itu adalah pernyataan sikap tersebut. Bahwa teater, bahkan di lingkungan sekolah kesehatan, bukan sekadar hiburan selingan. Ia adalah ruang disiplin, simbol, dan kesungguhan.
Di bawah cahaya merah, dengan lilin yang menyala dan wajah-wajah yang disamarkan, Teater Media Tepi memilih lahir tidak dengan sorak-sorai biasa. Mereka memilih lahir dengan sebuah ritus dan perjamuan makna. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...