Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
SYEKH Abdullah memandangi poto tanpa kepala di baliho yang melekat di sebuah pohon besar itu. Ia tak habis pikir, kenapa poto nomor ururt 2 yang tanpa kepala berani mencalonkan diri sebagai presiden di tahun 2052, tahun yang mengerikan. Ia merenung, sambil memutar tasbih, tiba-tiba seseorang yang dikenalnya melintas buru-buru di depannya.
“Kenapa orang itu nekat mencalonkan diri, Pak?”
Ia menghentikan orang itu sejenak, yang ditanya tertawa kecil, lalu menjawab, “Karena kepintarannya tersimpan dalam hatinya Syekh, tidak pada kepalanya. Mereka yang kepintarannya tersimpan dalam kepala cendrung bersifat curang, dan melakukan korupsi besar-besaran.”
Lalu orang itu bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Setelah memperhatikan langkahnya yang tergesa-gesa, Syekh Abdullah tak berani memanggilnya, mengajak mengobrol lebih jauh. Ia ingin tahu, apa makna dari kata-kata itu. Setelah orang itu menghilang dari pandangan matanya, ia yang semakin penasaran, memandang ke tengah jalan. Mobil yang berdempetan meraung-raung menuju lapangan. Hari itu pendukung calon presiden tanpa kepala melaksanakan kampanye besar-besaran.
“Hidup Pardomuan, hidup Pardomuan, hidup nomor dua!”
Orang-orang bersorak mengacung-acungkan tangan sampai berkeringat begitu semangat. Akhirnya kerjaan mereka yang melelahkan tidak berujung sia-sia. Pardomuan lelaki tanpa kepala, terpilih jadi presiden, Syekh Abdullah semakin kebingungan. Ada apa dengan negeriku? Dalam hatinya terus bertanya-tanya, tak menemukan jawaban.
* * *
Malam itu sengaja Syekh Abdullah mengundang salah seorang tim suksesnya Pardomuan. Ia melakukan wawancara dengan orang itu, melempar banyak pertanyaan seperti seorang wartawan.
“Jadi benar, Pak Pardomuan manusia tanpa kepala?”
Yang ditanya menjawab tidak tahu.
“Lo, kamu ini gimana sih, kamu kan salah seorang tim suksesnya dia.”
“Kata orang-orang, ya begitu sih, Syekh. Lagian apa dia memiliki kepala atau tidak, tak terlalu saya pedulikan, yang penting dia sudah menang, karena tugas saya, cuma memenangkannya, Syekh, bukan menyelidikinya apakah ia punya kepala atau tidak.”
Syekh Abdullah terdiam sesaat. Kemudian muncul lagi pertanyaan baru dalam kepalanya.
“Apa kamu pernah melihatnya secara langsung?”
“Tidak, Syekh, saya hanya melihatnya di TV saja.”
Syekh Abdullah belum puas dengan jawaban itu. Kalau di TV, Syekh Abdullah juga sering lihat presiden baru itu. Ketika kamera menghadap ke arah Pardomuan, tepat di bagian kepalanya selalu disensor, terlihat seperti coretan-coretan kecil warna hitam. Baru kali ini negaraku tercinta memiliki presiden tanpa kepala, lirihnya dalam hati yang terus berdenyut. Ia bicara pada dirinya sendiri. Bagaimana nanti kalau seandainya presiden tanpa kepala mengadakan rapat besar-besaran dengan pejabat-pejabat penting negara, sampai ke luar negeri, lalu ia disuruh pidato di depan orang-orang penting itu. Bagaimana pula caranya ia menegur bawahannya? Apa cukup dengan menggunakan isyarat, seperti menggerak-gerakkan tangan seumpama orang bisu?
“Bagaimana ceritanya kepalanya bisa putus?”
“Sejak kecil ia lahir tanpa kepala, Syekh.”
Mata Syekh Abdullah bergerak-gerak liar kebingungan.
“Kenapa dia bisa hidup?”
“Namanya kekuasaan Tuhan, Syekh.”
Syekh Abdullah tidak ingin jawaban seperti itu. “Terus, kenapa rakyat mau memilihnya?”
“Mungkin karena mereka sudah bosan punya presiden pintar yang punya kepala, tapi sayang tidak benar.”
“Jadi karena itu?”
“Saya bilang mungkin, Syekh. Itu opini yang mengalir dari pemikiran saya yang belum tentu kebenarannya.”
Syekh Abdullah tak bertanya-tanya lagi sampai orang itu minta izin untuk pulang. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...