Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina
TAHUN Baru Cina yang disebut Imlek adalah hari yang sangat penting dalam tradisi Cina dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, tak terkecuali...
SYEKH Abdullah memandangi poto tanpa kepala di baliho yang melekat di sebuah pohon besar itu. Ia tak habis pikir, kenapa poto nomor ururt 2 yang tanpa kepala berani mencalonkan diri sebagai presiden di tahun 2052, tahun yang mengerikan. Ia merenung, sambil memutar tasbih, tiba-tiba seseorang yang dikenalnya melintas buru-buru di depannya.
“Kenapa orang itu nekat mencalonkan diri, Pak?”
Ia menghentikan orang itu sejenak, yang ditanya tertawa kecil, lalu menjawab, “Karena kepintarannya tersimpan dalam hatinya Syekh, tidak pada kepalanya. Mereka yang kepintarannya tersimpan dalam kepala cendrung bersifat curang, dan melakukan korupsi besar-besaran.”
Lalu orang itu bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Setelah memperhatikan langkahnya yang tergesa-gesa, Syekh Abdullah tak berani memanggilnya, mengajak mengobrol lebih jauh. Ia ingin tahu, apa makna dari kata-kata itu. Setelah orang itu menghilang dari pandangan matanya, ia yang semakin penasaran, memandang ke tengah jalan. Mobil yang berdempetan meraung-raung menuju lapangan. Hari itu pendukung calon presiden tanpa kepala melaksanakan kampanye besar-besaran.
“Hidup Pardomuan, hidup Pardomuan, hidup nomor dua!”
Orang-orang bersorak mengacung-acungkan tangan sampai berkeringat begitu semangat. Akhirnya kerjaan mereka yang melelahkan tidak berujung sia-sia. Pardomuan lelaki tanpa kepala, terpilih jadi presiden, Syekh Abdullah semakin kebingungan. Ada apa dengan negeriku? Dalam hatinya terus bertanya-tanya, tak menemukan jawaban.
* * *
Malam itu sengaja Syekh Abdullah mengundang salah seorang tim suksesnya Pardomuan. Ia melakukan wawancara dengan orang itu, melempar banyak pertanyaan seperti seorang wartawan.
“Jadi benar, Pak Pardomuan manusia tanpa kepala?”
Yang ditanya menjawab tidak tahu.
“Lo, kamu ini gimana sih, kamu kan salah seorang tim suksesnya dia.”
“Kata orang-orang, ya begitu sih, Syekh. Lagian apa dia memiliki kepala atau tidak, tak terlalu saya pedulikan, yang penting dia sudah menang, karena tugas saya, cuma memenangkannya, Syekh, bukan menyelidikinya apakah ia punya kepala atau tidak.”
Syekh Abdullah terdiam sesaat. Kemudian muncul lagi pertanyaan baru dalam kepalanya.
“Apa kamu pernah melihatnya secara langsung?”
“Tidak, Syekh, saya hanya melihatnya di TV saja.”
Syekh Abdullah belum puas dengan jawaban itu. Kalau di TV, Syekh Abdullah juga sering lihat presiden baru itu. Ketika kamera menghadap ke arah Pardomuan, tepat di bagian kepalanya selalu disensor, terlihat seperti coretan-coretan kecil warna hitam. Baru kali ini negaraku tercinta memiliki presiden tanpa kepala, lirihnya dalam hati yang terus berdenyut. Ia bicara pada dirinya sendiri. Bagaimana nanti kalau seandainya presiden tanpa kepala mengadakan rapat besar-besaran dengan pejabat-pejabat penting negara, sampai ke luar negeri, lalu ia disuruh pidato di depan orang-orang penting itu. Bagaimana pula caranya ia menegur bawahannya? Apa cukup dengan menggunakan isyarat, seperti menggerak-gerakkan tangan seumpama orang bisu?
“Bagaimana ceritanya kepalanya bisa putus?”
“Sejak kecil ia lahir tanpa kepala, Syekh.”
Mata Syekh Abdullah bergerak-gerak liar kebingungan.
“Kenapa dia bisa hidup?”
“Namanya kekuasaan Tuhan, Syekh.”
Syekh Abdullah tidak ingin jawaban seperti itu. “Terus, kenapa rakyat mau memilihnya?”
“Mungkin karena mereka sudah bosan punya presiden pintar yang punya kepala, tapi sayang tidak benar.”
“Jadi karena itu?”
“Saya bilang mungkin, Syekh. Itu opini yang mengalir dari pemikiran saya yang belum tentu kebenarannya.”
Syekh Abdullah tak bertanya-tanya lagi sampai orang itu minta izin untuk pulang. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
TAHUN Baru Cina yang disebut Imlek adalah hari yang sangat penting dalam tradisi Cina dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, tak terkecuali...
SEBAGAI seorang pemburu sato (binatang), suatu hari Lubdaka kembali hendak berburu ke tengah hutan. Ia berangkat menuju arah kaja kangin (timur laut) dengan berpakaian pelung (bir...
KITA mulai dengan cerita Lubdaka. Ia adalah pendosa besar. Setiap hari berburu ke tengah hutan. Lubdaka pemburu ulung yang jarang gagal mendapatkan buruan. Namun, entah kenapa, pa...
WIJI Thukul, seorang sastrawan dan aktivis yang tak pernah lekang oleh waktu. Puisi-puisinya seakan menjadi nyanyian dalam sebuah aksi turun ke jalan untuk perlawanan menolak keadi...
KENAPA Hari Raya Pagerwesi dirayakan dengan meriah di Buleleng, tidak kalah dengan perayaan Hari Raya Galungan & Kuningan? Jawaban pendeknya sebagai berikut. Ada petuah (wasi...
TAK dapat dipungkiri, limbah telah menjadi masalah terbesar masyarakat Provinsi Sumatra Selatan dewasa ini. Pesatnya pembangunan industri dan meningkatnya pola konsumsi tak diimban...
Cerpen: Satia Guna AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjang...
DI Hari Saraswati ini, entah kenapa, saya ingin membicarakan sosok teman saya sendiri, Made Sugianto. Meski dikenal sebagai pengelola penerbitan dan wartawan sekaligus pengarang,...
SUDAHKAH baca berita terbaru di negeri ini? Saat sebuah ormas demo di depan Mabes Polri, bendera merah putih yang kita banggakan ditulisi kata-kata yang saya sendiri tidak bisa bac...
MASIH tentang pilkada DKI Jakarta. Nyatanya seluruh pasangan calon yang bertarung di sana punya nilainya tersendiri. Punya lebih kurangnya masing-masing. Dari latar belakang profes...