“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…
Sejak awal harus ditegaskan, tulisan ini bukan bicara soal agama dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Tulisan ini semata hanya renungan soal hubungan antar-manusia yang secara ke...
SYEKH Abdullah memandangi poto tanpa kepala di baliho yang melekat di sebuah pohon besar itu. Ia tak habis pikir, kenapa poto nomor ururt 2 yang tanpa kepala berani mencalonkan diri sebagai presiden di tahun 2052, tahun yang mengerikan. Ia merenung, sambil memutar tasbih, tiba-tiba seseorang yang dikenalnya melintas buru-buru di depannya.
“Kenapa orang itu nekat mencalonkan diri, Pak?”
Ia menghentikan orang itu sejenak, yang ditanya tertawa kecil, lalu menjawab, “Karena kepintarannya tersimpan dalam hatinya Syekh, tidak pada kepalanya. Mereka yang kepintarannya tersimpan dalam kepala cendrung bersifat curang, dan melakukan korupsi besar-besaran.”
Lalu orang itu bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Setelah memperhatikan langkahnya yang tergesa-gesa, Syekh Abdullah tak berani memanggilnya, mengajak mengobrol lebih jauh. Ia ingin tahu, apa makna dari kata-kata itu. Setelah orang itu menghilang dari pandangan matanya, ia yang semakin penasaran, memandang ke tengah jalan. Mobil yang berdempetan meraung-raung menuju lapangan. Hari itu pendukung calon presiden tanpa kepala melaksanakan kampanye besar-besaran.
“Hidup Pardomuan, hidup Pardomuan, hidup nomor dua!”
Orang-orang bersorak mengacung-acungkan tangan sampai berkeringat begitu semangat. Akhirnya kerjaan mereka yang melelahkan tidak berujung sia-sia. Pardomuan lelaki tanpa kepala, terpilih jadi presiden, Syekh Abdullah semakin kebingungan. Ada apa dengan negeriku? Dalam hatinya terus bertanya-tanya, tak menemukan jawaban.
* * *
Malam itu sengaja Syekh Abdullah mengundang salah seorang tim suksesnya Pardomuan. Ia melakukan wawancara dengan orang itu, melempar banyak pertanyaan seperti seorang wartawan.
“Jadi benar, Pak Pardomuan manusia tanpa kepala?”
Yang ditanya menjawab tidak tahu.
“Lo, kamu ini gimana sih, kamu kan salah seorang tim suksesnya dia.”
“Kata orang-orang, ya begitu sih, Syekh. Lagian apa dia memiliki kepala atau tidak, tak terlalu saya pedulikan, yang penting dia sudah menang, karena tugas saya, cuma memenangkannya, Syekh, bukan menyelidikinya apakah ia punya kepala atau tidak.”
Syekh Abdullah terdiam sesaat. Kemudian muncul lagi pertanyaan baru dalam kepalanya.
“Apa kamu pernah melihatnya secara langsung?”
“Tidak, Syekh, saya hanya melihatnya di TV saja.”
Syekh Abdullah belum puas dengan jawaban itu. Kalau di TV, Syekh Abdullah juga sering lihat presiden baru itu. Ketika kamera menghadap ke arah Pardomuan, tepat di bagian kepalanya selalu disensor, terlihat seperti coretan-coretan kecil warna hitam. Baru kali ini negaraku tercinta memiliki presiden tanpa kepala, lirihnya dalam hati yang terus berdenyut. Ia bicara pada dirinya sendiri. Bagaimana nanti kalau seandainya presiden tanpa kepala mengadakan rapat besar-besaran dengan pejabat-pejabat penting negara, sampai ke luar negeri, lalu ia disuruh pidato di depan orang-orang penting itu. Bagaimana pula caranya ia menegur bawahannya? Apa cukup dengan menggunakan isyarat, seperti menggerak-gerakkan tangan seumpama orang bisu?
“Bagaimana ceritanya kepalanya bisa putus?”
“Sejak kecil ia lahir tanpa kepala, Syekh.”
Mata Syekh Abdullah bergerak-gerak liar kebingungan.
“Kenapa dia bisa hidup?”
“Namanya kekuasaan Tuhan, Syekh.”
Syekh Abdullah tidak ingin jawaban seperti itu. “Terus, kenapa rakyat mau memilihnya?”
“Mungkin karena mereka sudah bosan punya presiden pintar yang punya kepala, tapi sayang tidak benar.”
“Jadi karena itu?”
“Saya bilang mungkin, Syekh. Itu opini yang mengalir dari pemikiran saya yang belum tentu kebenarannya.”
Syekh Abdullah tak bertanya-tanya lagi sampai orang itu minta izin untuk pulang. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
Sejak awal harus ditegaskan, tulisan ini bukan bicara soal agama dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Tulisan ini semata hanya renungan soal hubungan antar-manusia yang secara ke...
Oi adalah daya hidup. Oi datang dari mana-mana. Yang menjadikan kita sama adalah cinta dan semangat membangun organisasi. Itulah yang memacu semangatku berangkat ke Lampung ikut Mu...
IDA Bagus Oka Wirjana atau terkenal dengan nama Ida Bagus Oka Blangsinga berpulang pada 3 Februari 2017 di usia 87 tahun. Sehari setelah diberitakan berpulang, sosok penari legen...
KAMIS, 27 April malam, dua buah lakon telah dimainkan oleh Teater Kampus Seribu Jendela, Undiksha, serangkaian Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya. Mereka memainkan naskah “Sepi”...
MATAHARI terbangun dari tidurnya karena sudah waktunya menyinari bumi. Matahari memberikan pagi yang cerah kepada makluk hidup. Akan tetapi, Matahari kaget melihat perubahan warna...
BEGITU masuk Desa Banyuatis di Kecamatan Banjar, Buleleng, pada malam Sabtu, 22 April 2017, hati kami (saya, istri dan dua anak) merasa lega. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan...
SEORANG teman sekolah semasa SMP bernama Bakta. Seorang tetangga kampung sebelah bernama Bakti. Bakta bernama lengkap I Ketut Bakta Wirawan. Bakti bernama lengkap I Wayan Bakti. Da...
I Puisi menggelayut di antara dua kutub: pamflet dan khotbah. Sebagai salah satu bentuk ujar manusia, dalam bentuk kata-kalimat, puisi dipercaya sebagai cara berungkap yang palin...
BAGI sebagian orang mungkin ini rasanya sama seperti ditinggal mantan saat lagi sayang-sayangnya. Ratusan warga Jakarta memenuhi Balai Kota DKI Jakarta untuk memberikan semangat ba...
KUNCI, benda kecil itu, meski amat berguna, tapi kerap juga membawa kesengsaraan. Bukan hanya mahasiswa indekosan yang sering panik karena kuncinya tertinggal di kampung, atau hila...