Narasi Keriangan Indonesia di Festival Tepi Sawah
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
SYEKH Abdullah memandangi poto tanpa kepala di baliho yang melekat di sebuah pohon besar itu. Ia tak habis pikir, kenapa poto nomor ururt 2 yang tanpa kepala berani mencalonkan diri sebagai presiden di tahun 2052, tahun yang mengerikan. Ia merenung, sambil memutar tasbih, tiba-tiba seseorang yang dikenalnya melintas buru-buru di depannya.
“Kenapa orang itu nekat mencalonkan diri, Pak?”
Ia menghentikan orang itu sejenak, yang ditanya tertawa kecil, lalu menjawab, “Karena kepintarannya tersimpan dalam hatinya Syekh, tidak pada kepalanya. Mereka yang kepintarannya tersimpan dalam kepala cendrung bersifat curang, dan melakukan korupsi besar-besaran.”
Lalu orang itu bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Setelah memperhatikan langkahnya yang tergesa-gesa, Syekh Abdullah tak berani memanggilnya, mengajak mengobrol lebih jauh. Ia ingin tahu, apa makna dari kata-kata itu. Setelah orang itu menghilang dari pandangan matanya, ia yang semakin penasaran, memandang ke tengah jalan. Mobil yang berdempetan meraung-raung menuju lapangan. Hari itu pendukung calon presiden tanpa kepala melaksanakan kampanye besar-besaran.
“Hidup Pardomuan, hidup Pardomuan, hidup nomor dua!”
Orang-orang bersorak mengacung-acungkan tangan sampai berkeringat begitu semangat. Akhirnya kerjaan mereka yang melelahkan tidak berujung sia-sia. Pardomuan lelaki tanpa kepala, terpilih jadi presiden, Syekh Abdullah semakin kebingungan. Ada apa dengan negeriku? Dalam hatinya terus bertanya-tanya, tak menemukan jawaban.
* * *
Malam itu sengaja Syekh Abdullah mengundang salah seorang tim suksesnya Pardomuan. Ia melakukan wawancara dengan orang itu, melempar banyak pertanyaan seperti seorang wartawan.
“Jadi benar, Pak Pardomuan manusia tanpa kepala?”
Yang ditanya menjawab tidak tahu.
“Lo, kamu ini gimana sih, kamu kan salah seorang tim suksesnya dia.”
“Kata orang-orang, ya begitu sih, Syekh. Lagian apa dia memiliki kepala atau tidak, tak terlalu saya pedulikan, yang penting dia sudah menang, karena tugas saya, cuma memenangkannya, Syekh, bukan menyelidikinya apakah ia punya kepala atau tidak.”
Syekh Abdullah terdiam sesaat. Kemudian muncul lagi pertanyaan baru dalam kepalanya.
“Apa kamu pernah melihatnya secara langsung?”
“Tidak, Syekh, saya hanya melihatnya di TV saja.”
Syekh Abdullah belum puas dengan jawaban itu. Kalau di TV, Syekh Abdullah juga sering lihat presiden baru itu. Ketika kamera menghadap ke arah Pardomuan, tepat di bagian kepalanya selalu disensor, terlihat seperti coretan-coretan kecil warna hitam. Baru kali ini negaraku tercinta memiliki presiden tanpa kepala, lirihnya dalam hati yang terus berdenyut. Ia bicara pada dirinya sendiri. Bagaimana nanti kalau seandainya presiden tanpa kepala mengadakan rapat besar-besaran dengan pejabat-pejabat penting negara, sampai ke luar negeri, lalu ia disuruh pidato di depan orang-orang penting itu. Bagaimana pula caranya ia menegur bawahannya? Apa cukup dengan menggunakan isyarat, seperti menggerak-gerakkan tangan seumpama orang bisu?
“Bagaimana ceritanya kepalanya bisa putus?”
“Sejak kecil ia lahir tanpa kepala, Syekh.”
Mata Syekh Abdullah bergerak-gerak liar kebingungan.
“Kenapa dia bisa hidup?”
“Namanya kekuasaan Tuhan, Syekh.”
Syekh Abdullah tidak ingin jawaban seperti itu. “Terus, kenapa rakyat mau memilihnya?”
“Mungkin karena mereka sudah bosan punya presiden pintar yang punya kepala, tapi sayang tidak benar.”
“Jadi karena itu?”
“Saya bilang mungkin, Syekh. Itu opini yang mengalir dari pemikiran saya yang belum tentu kebenarannya.”
Syekh Abdullah tak bertanya-tanya lagi sampai orang itu minta izin untuk pulang. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
MULAI Juni 2017, majalah remaja "Hai" menutup edisi cetaknya dan beralih ke medium digital. Satu lagi media cetak yang sudah cukup tua harus menyerah kalah, setelah sebelumnya ada...
SAYA, sebagai fans sejati Juventus, tidak akan sakit hati, karena pada akhirnya sepakbola tetaplah hanya sebuah permainan bin pertandingan yang ada kalah menangnya. Saya mungkin se...
“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekay...
INI perjalanan ke desa, seperti perjalanan gaib ke tanah leluhur. Bolehlah disebut berwisata, karena nikmat keindahan alam sungguh memanjakan mata. Tapi jika sempat termenung sedik...
HAMPIR semua pemeluk agama memvisualisasikan tuhan sebagai sosok laki-laki. Sebagian besar sebagai laki-laki yang berkharisma dan berwibawa. Ini merupakan wujud dari berjayanya ide...
JANGAN rendah diri sebagai bangsa dari timur yang begitu percaya mitos-mitos. Lha, di Eropa, belahan dunia yang konon amat modern, mitos tetap dijadikan rujukan untuk memprediksi f...
DARI namanya, Festival Tepi Sawah, kita tahu apa-apa saja yang ada, apa-apa yang disuarakan, pesan apa-apa saja yang disampaikan dalam festival itu. Tepi sawah, sebuah tempat yang...
SATU hal yang paling saya syukuri dari masa kecil saya adalah bertemu dengan kisah-kisah pewayangan. Saya rela berjalan kaki atau begadang untuk menyaksikan dalang yang nrek (penta...
BELAKANGAN ini disibukkan dengan berbagai peristiwa sosial, hukum, dan politik, yang berhubungan dengan NKRI. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, menjadi l...