Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SIWARATRI sejatinya adalah malam perenungan suci. Ia bukan sekadar penanda kalender ritual, melainkan momentum spiritual yang mengajak umat Hindu—terutama generasi muda dan kaum terpelajar—untuk kembali menata batin, mengendalikan diri, dan memperdalam keimanan. Namun dewasa ini, muncul kegelisahan bersama: jangan sampai pelaksanaan Siwaratri terjebak pada seremoni belaka, kehilangan makna, bahkan terkesan “campah”.
Dalam tradisi Hindu, Siwaratri dimaknai sebagai malam kesadaran. Kesadaran akan keterbatasan manusia, keberanian mengakui kekeliruan diri, serta tekad untuk menapaki jalan dharma secara lebih jujur dan bertanggung jawab. Laku utama Siwaratri—monabrata, upawasa, dan jagra—bukanlah ritual kosong, melainkan sarana pendisiplinan batin agar manusia mampu menundukkan hawa nafsu dan ego yang kerap menyesatkan.
Lebih jauh, Siwaratri merupakan momentum penting untuk menumbuhkan dan memperkuat sifat satwam dalam diri manusia. Dalam ajaran Hindu, satwam melambangkan kemurnian, kejernihan batin, kebijaksanaan, dan kecenderungan pada kebenaran. Melalui laku Siwaratri, umat Hindu didorong untuk meningkatkan sāttwika jñāna—pengetahuan yang lahir dari kesadaran murni, tidak dikaburkan oleh nafsu (rajas) maupun kemalasan batin (tamas). Inilah pengetahuan yang tidak hanya membuat manusia pandai, tetapi juga bijaksana dalam bersikap dan bertindak.
Di tengah kekhawatiran akan reduksi makna Siwaratri, patut diapresiasi bahwa banyak kelompok generasi muda, khususnya melalui wadah sekaa teruna, telah berinisiatif melaksanakan Siwaratri di berbagai tempat, terutama di pura-pura. Inisiatif ini menunjukkan bahwa benih śraddhā masih tumbuh subur di kalangan generasi muda. Kehadiran mereka di ruang-ruang suci pada malam Siwaratri merupakan modal spiritual dan sosial yang sangat berharga.
Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama. Keterlibatan sekaa teruna dalam Siwaratri mesti diarahkan sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan śraddhā dan bhakti, memperdalam pemahaman filosofi Siwaratri, serta merajut perilaku baik yang berlandaskan sifat satwam. Siwaratri seharusnya tidak berhenti pada kehadiran fisik di pura, melainkan berlanjut pada transformasi batin yang tercermin dalam sikap hidup sehari-hari: jujur, rendah hati, santun, dan bertanggung jawab.
Generasi muda, terlebih kaum terpelajar, memikul tanggung jawab moral yang lebih besar. Dengan bekal ilmu dan nalar kritis, mereka diharapkan mampu menjadikan Siwaratri sebagai ruang refleksi eksistensial: sejauh mana ilmu yang dipelajari telah memperhalus budi pekerti dan memperkuat sāttwika jñāna. Ilmu pengetahuan sejatinya tidak berdiri berseberangan dengan iman; justru ilmu yang sejati akan bermuara pada kebijaksanaan dan kesadaran etis.
Momentum Siwaratri juga sangat relevan sebagai wahana pendidikan karakter. Bukan melalui simbolisme berlebihan atau keramaian semu, melainkan melalui pembiasaan sikap satwika: menahan diri dari ujaran kasar, menjauhi perilaku destruktif, serta menata pikiran agar senantiasa jernih dan berorientasi pada kebaikan. Dari sinilah perubahan perilaku yang autentik dapat tumbuh—perlahan, namun berakar kuat.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, kompetisi, dan ambisi, Siwaratri menghadirkan ruang hening yang menyejukkan. Ruang inilah yang memungkinkan umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk membersihkan lapisan-lapisan batin yang keruh dan menumbuhkan kembali cahaya satwam dalam dirinya.
Oleh karena itu, peran keluarga, lembaga pendidikan, desa adat, serta para sulinggih dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting. Generasi muda tidak cukup hanya dihadirkan dalam pelaksanaan Siwaratri, tetapi perlu didampingi dan dituntun agar malam perenungan ini benar-benar menjadi sarana peningkatan iman, pemurnian kesadaran, dan penguatan sāttwika jñāna.
Siwaratri bukan panggung keramaian, melainkan ruang kesadaran. Bukan ajang eksistensi, melainkan jalan sunyi menuju kemurnian batin. Ketika generasi muda—melalui sekaa teruna dan komunitasnya—mampu memaknai Siwaratri secara utuh, maka dari malam suci itulah akan lahir insan-insan yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bening hatinya, luhur perilakunya, dan kuat śraddhā-nya. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...