Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
"Father" karya Peter, Sue, and Marc, sebuah lagu pop yang mampu menggugah emosi terdalam kita. Meski telah berusia puluhan tahun, dirilis pada 1976, lagu "Father" tetap relevan hingga saat ini karena ia menyentuh salah satu kerinduan paling mendasar manusia: keinginan untuk merasa terhubung dengan akar masa lalunya yang hilang. Dan lagu ini seakan berfungsi sebagai 'jembatan visual' bagi seorang anak untuk mengonstruksi identitas orang tua yang tidak pernah ia temui.
Peter, Sue and Marc adalah grup musik Swiss dari Bern, terdiri dari Peter Reber (vokal, piano, gitar), Sue Schell (vokal), dan Marc Dietrich (vokal, gitar). Trio ini terbentuk pada tahun 1968.
Karier mereka dengan cepat berkembang setelah meraih ketenaran internasional dari Kontes Lagu Eurovision 1971. Kesuksesan itu meluncurkan karier panjang mereka di era 1970-an, menghasilkan beberapa lagu hit seperti "Cindy" dan "Birds of Paradise," yang dikemas dalam sejumlah album sukses.
Trio Peter, Sue and Marc memiliki keunikan tersendiri karena mereka merekam dan menampilkan lagu dalam empat bahasa berbeda (Inggris, Prancis, Jerman, Italia) yang membantu mereka meraih popularitas internasional, terutama di negara-negara Eropa yang beragam bahasa, selain fasih membawakan genre pop dan schlager, yakni jenis musik populer Jerman.
Mereka dikenal karena kemampuannya dalam menciptakan harmoni vokal yang indah, manis dan kaya penghayatan. Kekuatan inilah yang mereka tuangkan dengan sempurna dalam lagu "Father", mengubah sebuah lagu pop menjadi renungan personal yang menyentuh.
Parfume, roses, apple pie / Make me sad I don't know why / May be it's when they're around / I feel she'd never die / Never die?
Dalam lagu "Father", suara dan penghayatan mereka mampu memberi energi yang hidup pada lagu yang menyiratkan pertanyaan eksistensial dan pilu tentang kebahagiaan, kematian maupun kerinduan seorang anak yang ingin mengenal wajah ibunya yang belum pernah dilihatnya. Wajah yang ingin dilihatnya melalui gambaran dan kenangan ayahnya: "Oh Father, tell me. Was she pretty? In all my children's dream. She looks like a queen".
Dan lirik "Parfume, roses, apple pie", aroma-aroma yang biasanya identik dengan sosok ibu dan rumah itu, memperkuat kesan "ketiadaan", di mana sang anak tidak punya ingatan visual, tapi ia merasakan "kehadiran" ibunya lewat aroma yang tak sengaja ia temui di sekitarnya
Getaran lagu ini kuat bukan hanya karena nostalgianya tapi juga karena liriknya yang peka. Lagu ini mampu menggambarkan bahwa seringkali seorang anak baru benar-benar memahami kedalaman kasih sayang ayahnya ketika ia mulai menyadari bahwa di balik ketangguhan sang ayah, terdapat luka kehilangan yang dipikul sendirian demi menjaga senyum anaknya tetap tumbuh.
Mendengarkan "Father" membuktikan bahwa kekuatan lagu pop era 70-an terletak pada kemampuannya mengemas kompleksitas perasaan dalam struktur yang mudah diakses. Melodi yang kuat dan frasa yang mudah diingat ("earworm") bukan sekadar alat komersial, melainkan jembatan yang efektif untuk menyampaikan renungan mendalam tentang nostalgia dan kerinduan, sebagaimana dilakukan lagu ini.
Dan akhirnya, “Father” berdiri sebagai nyanyian kecil tentang kehilangan yang tak pernah benar-benar selesai. Ia tidak berteriak, tidak pula meratap berlebihan, melainkan berjalan perlahan di antara kenangan, membiarkan cinta dan duka saling menyapa dengan tenang. Dalam lagu ini, masa lalu tidak hadir sebagai luka, melainkan sebagai cahaya lembut yang membimbing, menjadi 'jembatan visual' yang bukan lagi sekadar untuk membayangkan wajah sang ibu, tapi untuk merasakan arti kehadiran, meski melalui ketiadaan.
Di sanalah kekuatan sejati “Father” berdiam: ia mengingatkan kita bahwa musik mampu menjaga sesuatu tetap hidup, bahkan ketika wajah telah hilang dan waktu terus bergerak maju. Sebuah lagu sederhana, namun dengan gema yang panjang, seperti kasih seorang ayah, yang sering tak diucapkan, tetapi selalu ada. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...