Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 13 Januari 2026
Salah satu ajaran leluhur Bali yang paling penting adalah ajaran "Sekala dan Niskala".
Bukan "Niskala dan Sekala". Sekala dulu, baru Niskala. Apa perbedaan artinya?
Sekala-Niskala mengandung arti hal-hal Sekala dulu dibereskan, baru hal-hal Niskala. Yang tampak di depan mata yang diurus sampai tuntas, menyusul urusan Niskala setelah yang kasat mata beres. Bukan sebaliknya, melambung tinggi atau melayang jauh ke alam Niskala, padahal hal-hal Sekala amburadul dan menimbulkan cemer-leteh Sekala dan Niskala.
Pembahasan Sekala-Niskala dalam perspektif skala prioritas hidup ini dijelaskan dengan sebuah larangan. Orang Bali dilarang pagi-pagi membahas mimpi. "Sing dadi semeng-semengan nuturuang ipian." Pesannya jelas. Utamakan dulu kerja nyampat (nyapu), nyakan (memasak), sampai semua rumah dan makanan beres untuk anak-anak, baru setelah mandi sore hari dan bersantai membahas impian. Membahas mimpi jangan sampai mengalahkan prioritas harus bersih-bersih rumah dan menyiapkan isi perut. Sekala dulu, baru Niskala. Bukan dibolak-balik seperti orang mabuk agama.
Sekala-Niskala bermakna multidimensi. Dari soal spasial yang tampak dan tampak, sampai sifat Brahman yang Sakala (Saguna) dan Niskala (Nirguna), dstnya.
Yang jelas untuk mempertahankan manusia Bali agar tetap waras maka titik berangkatnya adalah Sekala. Bukan dari Niskala.
Mari kita melihat persiapan pelaksanaan upakara suci di berbagai pura di Bali:
Apakah mungkin membuat sebuah upacara suci dan menata batin di Pura yang bergelimang tumpukan sampah? Di atas gelimang persoalan lahiriah?
Mungkin saja. Ini sangat kontradiksi. Bisa konflikasi.
Kalau bisa diatur apik yang kasat mata atau yang lahiriah terlebih dahulu sebelum membicarakan tahapan menjalankan upakara suci, kenapa tidak ditata terlebih dahulu yang lahiriah?
Mempersiapkan taman bunga dan pepohonan, tata kota, sekolah, jalan raya, menyediakan toilet luar bersih dan beradab di setiap Pura, parahyangan penuh bunga, gerbang berjuntai penjor berbunga, adalah tahapan sebelum muspa dan puja.
Hal-hal yang kasat mata terlebih dahulu dibereskan dan ditata apik dengan rasa estetik, sebelum pada akhirnya menata hati secara hening. Urusan Sekala dibereskan, setelah semuanya rapi dan estetik, setelah itu ajaran dharma diperbincangkan dan upacara suci dijalannya.
Mendasar bagi masyarakat Bali untuk menata hal-hal lahiriah untuk menata batin. Pertama-tama urusan Sekala beres, kemudian dilanjutkan urusan Niskala. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...