Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 13 Januari 2026
Salah satu ajaran leluhur Bali yang paling penting adalah ajaran "Sekala dan Niskala".
Bukan "Niskala dan Sekala". Sekala dulu, baru Niskala. Apa perbedaan artinya?
Sekala-Niskala mengandung arti hal-hal Sekala dulu dibereskan, baru hal-hal Niskala. Yang tampak di depan mata yang diurus sampai tuntas, menyusul urusan Niskala setelah yang kasat mata beres. Bukan sebaliknya, melambung tinggi atau melayang jauh ke alam Niskala, padahal hal-hal Sekala amburadul dan menimbulkan cemer-leteh Sekala dan Niskala.
Pembahasan Sekala-Niskala dalam perspektif skala prioritas hidup ini dijelaskan dengan sebuah larangan. Orang Bali dilarang pagi-pagi membahas mimpi. "Sing dadi semeng-semengan nuturuang ipian." Pesannya jelas. Utamakan dulu kerja nyampat (nyapu), nyakan (memasak), sampai semua rumah dan makanan beres untuk anak-anak, baru setelah mandi sore hari dan bersantai membahas impian. Membahas mimpi jangan sampai mengalahkan prioritas harus bersih-bersih rumah dan menyiapkan isi perut. Sekala dulu, baru Niskala. Bukan dibolak-balik seperti orang mabuk agama.
Sekala-Niskala bermakna multidimensi. Dari soal spasial yang tampak dan tampak, sampai sifat Brahman yang Sakala (Saguna) dan Niskala (Nirguna), dstnya.
Yang jelas untuk mempertahankan manusia Bali agar tetap waras maka titik berangkatnya adalah Sekala. Bukan dari Niskala.
Mari kita melihat persiapan pelaksanaan upakara suci di berbagai pura di Bali:
Apakah mungkin membuat sebuah upacara suci dan menata batin di Pura yang bergelimang tumpukan sampah? Di atas gelimang persoalan lahiriah?
Mungkin saja. Ini sangat kontradiksi. Bisa konflikasi.
Kalau bisa diatur apik yang kasat mata atau yang lahiriah terlebih dahulu sebelum membicarakan tahapan menjalankan upakara suci, kenapa tidak ditata terlebih dahulu yang lahiriah?
Mempersiapkan taman bunga dan pepohonan, tata kota, sekolah, jalan raya, menyediakan toilet luar bersih dan beradab di setiap Pura, parahyangan penuh bunga, gerbang berjuntai penjor berbunga, adalah tahapan sebelum muspa dan puja.
Hal-hal yang kasat mata terlebih dahulu dibereskan dan ditata apik dengan rasa estetik, sebelum pada akhirnya menata hati secara hening. Urusan Sekala dibereskan, setelah semuanya rapi dan estetik, setelah itu ajaran dharma diperbincangkan dan upacara suci dijalannya.
Mendasar bagi masyarakat Bali untuk menata hal-hal lahiriah untuk menata batin. Pertama-tama urusan Sekala beres, kemudian dilanjutkan urusan Niskala. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...