Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Menyesap Manis Perih Hidup
MENYESAP MANIS PERIH HIDUP Untuk Pak Nyoman Sukerta, dan Cucunya Made. Dipasang sejak JuniKungkungan lebahDi pohon pohon cengkihDi atas tanah terjal kaki gunung curam Di...
DI era digital, keadilan tampaknya mengalami pergeseran makna. Dulu, keadilan dicari melalui laporan resmi, proses hukum berjenjang, dan lembaga-lembaga negara yang diberi mandat menegakkannya. Kini, keadilan kerap mencari jalannya sendiri melalui layar ponsel, linimasa media sosial, dan kekuatan ‘share’. Ungkapan “No Viral, No Justice” bukan sekadar slogan sinis, melainkan potret kenyataan sosial: sebuah kasus sering kali baru ditangani serius setelah menjadi viral.
Fenomena ‘No Viral, No Justice’ lahir dari akumulasi kekecewaan. Banyak warga merasa bahwa jalur formal sering lambat, berbelit, atau bahkan tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan. Laporan diabaikan, aduan tak ditindaklanjuti, dan korban dibiarkan berjuang sendiri. Media sosial kemudian hadir sebagai ruang alternatif untuk bersuara. Ketika sebuah kasus diviralkan, tekanan publik terbentuk, sorotan media arus utama menyusul, dan aparat pun bergerak lebih cepat. Dalam konteks ini, viralitas berfungsi sebagai alat kontrol sosial, pengingat bahwa kekuasaan masih diawasi oleh mata publik.
Sisi positifnya, viralitas membuka akses keadilan bagi kelompok-kelompok yang sebelumnya terpinggirkan. Rakyat kecil, korban kekerasan, atau individu tanpa kekuasaan kini memiliki ruang untuk menyampaikan penderitaan mereka. Banyak kasus ketidakadilan yang akhirnya terbongkar berkat keberanian warga merekam, mengunggah, dan menyebarkan peristiwa yang dialami. Media sosial menjadi semacam public court (pengadilan publik) yang memaksa institusi formal tidak lagi bersembunyi di balik prosedur. Dalam batas tertentu, fenomena ini memperkuat partisipasi publik dan kesadaran kolektif akan pentingnya keadilan sosial.
Selain itu, viralitas juga mendorong transparansi. Aparat dan pejabat publik kini menyadari bahwa setiap tindakan dapat direkam dan dinilai publik. Ketakutan akan viral dapat menjadi faktor pencegah penyalahgunaan wewenang. Masyarakat pun menjadi lebih kritis dan tidak mudah menerima narasi tunggal dari penguasa. Dalam konteks demokrasi, hal ini bisa dibaca sebagai tanda hidupnya ruang publik digital yang aktif dan responsif.
Akan tetapi, di balik manfaat tersebut, ‘No Viral, No Justice’ menyimpan persoalan serius. Ketika viralitas menjadi prasyarat keadilan, maka nasib korban bergantung pada algoritma, emosi publik, dan selera warganet. Tidak semua kasus memiliki ‘nilai jual’ yang sama. Kasus yang dramatis, visual, dan emosional lebih mudah viral dibandingkan ketidakadilan yang sunyi, struktural, dan kompleks. Akibatnya, banyak penderitaan tetap tak terdengar hanya karena tidak menarik perhatian publik. Keadilan pun berubah menjadi selektif dan tidak merata.
Lebih jauh, logika viralitas berpotensi menggeser prinsip due process of law (proses hukum yang adil). Tekanan publik yang berlebihan dapat mendorong penghakiman dini dan pembunuhan karakter. Tak jarang seseorang telah ‘dihukum’ oleh opini publik sebelum pengadilan memutuskan. Dalam situasi ini, keadilan berubah menjadi sensasi, dan kebenaran kalah oleh kecepatan. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat advokasi, justru dapat melahirkan ketidakadilan baru.
Fenomena ini juga memperlihatkan krisis kepercayaan terhadap institusi hukum. Ketika masyarakat lebih percaya pada viralitas daripada prosedur resmi, itu menandakan ada yang salah dalam sistem. Aparat dianggap bergerak bukan karena tanggung jawab moral dan hukum, melainkan karena takut pada sorotan publik. Jika dibiarkan, kondisi ini berbahaya. Hukum tidak lagi berdiri di atas prinsip keadilan, melainkan di bawah tekanan popularitas.
Maka, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah viralitas baik atau buruk, melainkan mengapa keadilan harus menunggu viral. Media sosial seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti sistem hukum. Viralitas idealnya berfungsi sebagai alarm, bukan palu hakim. Sementara itu, negara dan institusi penegak hukum perlu merefleksikan diri. Membangun sistem yang responsif, transparan, dan adil, tanpa harus dipaksa oleh keramaian digital.
‘No Viral, No Justice’ adalah cermin zaman. Ia menunjukkan daya kritis masyarakat sekaligus rapuhnya kepercayaan. Tantangannya ke depan adalah memastikan bahwa keadilan tidak bergantung pada algoritma, melainkan pada komitmen etis dan hukum yang kuat. Sebab dalam masyarakat yang adil, keadilan seharusnya hadir bukan karena viral, tetapi karena memang menjadi hak setiap warga. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
MENYESAP MANIS PERIH HIDUP Untuk Pak Nyoman Sukerta, dan Cucunya Made. Dipasang sejak JuniKungkungan lebahDi pohon pohon cengkihDi atas tanah terjal kaki gunung curam Di...
DALAM berkehidupan di masyarakat kita melihat adanya sebuah sistem pemerintahan, yang tentunya dalam menjalankan roda pemerintahan perlu adanya pemasukan atau penghasilan, salah s...
CUKUP mengejutkan. Tiba-tiba ada band 3 GURU, lahir di Bali Utara. Peronelnya, ya, seperti namanya: semuanya guru dari bidang studi berbeda, tapi dengan hobi yang sama. Mereka ten...
KETIKA alam diposisikan sebagai wilayah taklukan, maka saat itu hubungan manusia dengan alam menjadi canggung, berjarak. Sebaliknya, manusia yang hidup dalam suasana agraris selal...
ADA yang tidak pernah minum es? Suhu dingin, segerrrr, ditambah kering bibir dan kerongkongan akan membius kita dan tak sadar tangan mulai grecep untuk meraih minuman es setelah o...
KEBERSIHAN menjadi jendela yang memancarkan citra bagi industri pariwisata. Seindah apa pun satu destinasi wisata, jika mengabaikan faktor kebersihan tentu akan berdampak buruk ba...
PASAR tradisional adalah dunia yang bangun sebelum matahari terbit. Ketika kota masih terlelap, pasar sudah sibuk dengan detak aktivitasnya. Di sini, waktu terasa punya ritme yang...
PELARIAN yang paling tepat saat menghadapi kekalutan ketika menyusun skripsi adalah kongko. Begitupula yang kami lakukan saat itu, di sela-sela kesibukan, kami maseliahan (refresh...
DI tengah suka cita kita memanfaatkan dunia digital, ada suatu ancaman yang tak kasat mata, semacam virus, tengah mengintai generasi muda kita. Adalah brain rot, yang meskipun ter...
LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet di balik lubang-lubang batu karan...