Bali, Citra dan Sampah
BALI selama ini dikenal sebagai wajah pariwisata Indonesia. Pantainya indah, budayanya kuat, dan menjadi tujuan jutaan wisatawan setiap tahun. Namun di balik citra itu, Bali mengh...
DEWASA ini, CCTV (Closed-Circuit Television) dengan mudah dijumpai di berbagai tempat, mulai dari traffic light, toko, kantor, bahkan gang sempit. Anehnya, kehadiran mata-mata elektronik ini acap kali lebih efektif menertibkan perilaku manusia ketimbang ajaran agama. Orang-orang berhenti melanggar bukan karena takut berdosa, melainkan karena takut terekam. Barangkali memang betul, kita hidup di zaman ketika manusia lebih takut pada CCTV daripada Tuhan.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran mendasar dalam cara manusia memaknai moralitas. Dahulu, nilai baik dan buruk diyakini bersumber dari hati nurani, ajaran agama, dan kesadaran spiritual. Kebaikan dilakukan karena diyakini benar, bukan karena diawasi. Namun kini, banyak orang bersikap ‘baik’ hanya ketika ada kamera. Ketika pengawasan hadir, perilaku tertib muncul. Ketika kamera mati atau tidak terlihat, pelanggaran kembali terjadi. Moralitas berubah menjadi sesuatu yang bersyarat, berlaku jika ada saksi.
Dalam situasi seperti ini, kebaikan kehilangan kedalaman makna. Ia tidak lagi menjadi cerminan karakter, melainkan sekadar respons terhadap sistem. Orang-orang mulai belajar menyiasati: mana yang aman dan mana yang berisiko. Pertimbangannya bukan lagi benar atau salah, melainkan terekam atau tidak. Moralitas pun bergeser menjadi soal teknis, bukan prinsip.
Kehadiran CCTV hanya membuat orang lebih berhati-hati untuk berbohong. Seseorang tidak mencuri karena takut dipenjara, bukan karena sadar bahwa mencuri itu berdosa. Dalam konteks ini, perilaku baik yang lahir dari ketakutan semata bukanlah kebajikan, melainkan kepatuhan kosong yang rapuh.
Ketakutan pada Tuhan seharusnya berbeda. Ia bukan sekadar rasa takut akan hukuman, tetapi kesadaran batin bahwa setiap tindakan memiliki nilai moral, bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang melihat. Tuhan, dalam keyakinan banyak agama, dipahami sebagai saksi yang tak terlihat namun selalu hadir. Rasa takut semacam ini justru bekerja paling kuat dalam kesendirian, ketika manusia bebas memilih tanpa tekanan luar.
Namun ketika rasa takut kepada Tuhan memudar, manusia mencari pengganti yang lebih konkret. Pengawasan buatan seperti CCTV pun mengambil peran tersebut. Sayangnya, pengganti ini bersifat rapuh. Kamera hanya bisa mengawasi ruang tertentu, pada waktu tertentu, dengan sudut pandang terbatas. Ia tidak bisa menjangkau niat, membaca isi pikiran, maupun mencatat proses batin seseorang sebelum berbuat.
Masalahnya, tidak semua tempat bisa dipasangi kamera, dan tidak semua kesalahan bisa direkam. Kebohongan kecil, niat buruk, pengkhianatan, dan manipulasi yang dilakukan secara diam-diam sering lolos dari pengawasan. Jika manusia hanya takut pada kamera, maka kejahatan tidak akan hilang, ia hanya berpindah ke ruang yang lebih gelap dan tersembunyi. Sebaliknya, jika manusia memiliki kesadaran moral yang hidup, pengawasan akan berfungsi sebagai pelengkap, bukan penentu.
Kendati demikian, CCTV tetap memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan membantu penegakan hukum. Namun ketergantungan berlebihan pada teknologi juga mencerminkan krisis nurani yang lebih dalam. Persoalannya bukan apakah kita takut pada CCTV atau tidak, tetapi mengapa kita perlu takut untuk berbuat baik. Jika kebaikan hanya muncul karena ada kamera yang merekam, maka yang kita miliki bukan moralitas, melainkan kepura-puraan. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BALI selama ini dikenal sebagai wajah pariwisata Indonesia. Pantainya indah, budayanya kuat, dan menjadi tujuan jutaan wisatawan setiap tahun. Namun di balik citra itu, Bali mengh...
MUTU lulusan menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan vokasi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, lulusan SMK tidak...
RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April 2026. Pelajar SMP itu sedang berkenalan dengan wayang...
A.A Ngurah Agung Krishna Dananjaya dan Komang Trisna Darmayanti resmi terpilih sebagai Winner Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Denpasar 2026. Di tengah sorot lampu dan riuh te...
SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam bayangan banyak orang, adalah bayang-bayang d...
DALAM percakapan sehari-hari, kerap kali digunakan kata pelindungan dan perlindungan secara bergantian. Namun, dalam ranah hukum dan kebijakan publik di Indonesia, kedua istilah i...
SAMPAI saat ini Suku Baduy tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai konstelasinya, keunikan, kesakralan serta keteguhan me...
BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si “anak emas” dalam brosur pariwisat...
PERANG yang tengah terjadi di Timur Tengah sempat menjadi perbincangan oleh peserta seminar yang diorganisir Indonesian Housekeepers Association (IHKA) Bali BPC Kuta di Solia Legi...
HARI Selasa, 7 April, dan Kamis, 9 April, saya membuka sebuah ruang kecil sebagai bagian dari perjalanan saya menuju karya Tugas Akhir.Ruang ini bukan sekadar pertemuan, melainkan...