Menata Hati Menemu Rasa dalam Alun Suling Gita Semara Peliatan
ALUN gamelan suling seakan merambat dalam pembuluh darah, lalu masuk hati, dan muncullah rasa bahagia. Itulah yang dirasa ketika kelompok Gita Semara, Banjar Tengah Kangin,...
DEWASA ini, CCTV (Closed-Circuit Television) dengan mudah dijumpai di berbagai tempat, mulai dari traffic light, toko, kantor, bahkan gang sempit. Anehnya, kehadiran mata-mata elektronik ini acap kali lebih efektif menertibkan perilaku manusia ketimbang ajaran agama. Orang-orang berhenti melanggar bukan karena takut berdosa, melainkan karena takut terekam. Barangkali memang betul, kita hidup di zaman ketika manusia lebih takut pada CCTV daripada Tuhan.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran mendasar dalam cara manusia memaknai moralitas. Dahulu, nilai baik dan buruk diyakini bersumber dari hati nurani, ajaran agama, dan kesadaran spiritual. Kebaikan dilakukan karena diyakini benar, bukan karena diawasi. Namun kini, banyak orang bersikap ‘baik’ hanya ketika ada kamera. Ketika pengawasan hadir, perilaku tertib muncul. Ketika kamera mati atau tidak terlihat, pelanggaran kembali terjadi. Moralitas berubah menjadi sesuatu yang bersyarat, berlaku jika ada saksi.
Dalam situasi seperti ini, kebaikan kehilangan kedalaman makna. Ia tidak lagi menjadi cerminan karakter, melainkan sekadar respons terhadap sistem. Orang-orang mulai belajar menyiasati: mana yang aman dan mana yang berisiko. Pertimbangannya bukan lagi benar atau salah, melainkan terekam atau tidak. Moralitas pun bergeser menjadi soal teknis, bukan prinsip.
Kehadiran CCTV hanya membuat orang lebih berhati-hati untuk berbohong. Seseorang tidak mencuri karena takut dipenjara, bukan karena sadar bahwa mencuri itu berdosa. Dalam konteks ini, perilaku baik yang lahir dari ketakutan semata bukanlah kebajikan, melainkan kepatuhan kosong yang rapuh.
Ketakutan pada Tuhan seharusnya berbeda. Ia bukan sekadar rasa takut akan hukuman, tetapi kesadaran batin bahwa setiap tindakan memiliki nilai moral, bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang melihat. Tuhan, dalam keyakinan banyak agama, dipahami sebagai saksi yang tak terlihat namun selalu hadir. Rasa takut semacam ini justru bekerja paling kuat dalam kesendirian, ketika manusia bebas memilih tanpa tekanan luar.
Namun ketika rasa takut kepada Tuhan memudar, manusia mencari pengganti yang lebih konkret. Pengawasan buatan seperti CCTV pun mengambil peran tersebut. Sayangnya, pengganti ini bersifat rapuh. Kamera hanya bisa mengawasi ruang tertentu, pada waktu tertentu, dengan sudut pandang terbatas. Ia tidak bisa menjangkau niat, membaca isi pikiran, maupun mencatat proses batin seseorang sebelum berbuat.
Masalahnya, tidak semua tempat bisa dipasangi kamera, dan tidak semua kesalahan bisa direkam. Kebohongan kecil, niat buruk, pengkhianatan, dan manipulasi yang dilakukan secara diam-diam sering lolos dari pengawasan. Jika manusia hanya takut pada kamera, maka kejahatan tidak akan hilang, ia hanya berpindah ke ruang yang lebih gelap dan tersembunyi. Sebaliknya, jika manusia memiliki kesadaran moral yang hidup, pengawasan akan berfungsi sebagai pelengkap, bukan penentu.
Kendati demikian, CCTV tetap memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan membantu penegakan hukum. Namun ketergantungan berlebihan pada teknologi juga mencerminkan krisis nurani yang lebih dalam. Persoalannya bukan apakah kita takut pada CCTV atau tidak, tetapi mengapa kita perlu takut untuk berbuat baik. Jika kebaikan hanya muncul karena ada kamera yang merekam, maka yang kita miliki bukan moralitas, melainkan kepura-puraan. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
ALUN gamelan suling seakan merambat dalam pembuluh darah, lalu masuk hati, dan muncullah rasa bahagia. Itulah yang dirasa ketika kelompok Gita Semara, Banjar Tengah Kangin,...
Buda Cemeng Klawu, Rabu, 2 Agustus 2017, merupakan rerahinan gumi. Hari ini merupakan hari suci Puja Wali Betara Rambut Sedana yang diperingati setiap 210 hari atau enam bu...
DIA diterima di Jurusan Teknik Kimia ITS. Tentu saja ia senang, tapi bingung juga. Ketika hendak berangkat ke Surabaya untuk registrasi, orang tuanya tidak punya uang. Bahk...
SAYA mendapat pesan fb messenger dari seorang siswi yang tidak saya kenal. Isinya, pada baris pertama ia perkenalan diri singkat dengan sopan. Baris selanjutnya mengejutka...
EUFORIA kemenangan Bali United (BU) atas tamunya PSM Makassar Minggu (23/07/2017) malam masih terasa hingga hari ini. Tim tamu berstatus mentereng klub papan atas dibungkam...
[caption id="attachment_3796" align="alignnone" width="702"] Acara nongkrong santai di Littletalks Ubud sembari membicarakan buku puisi Wulandewi Saraswati (foto atas) dan...
TIDAK ada yang memungkiri jika seniman-seniman di Desa Batuan, Gianyar, selalu memiliki posisi di hati masyarakat. Tidak perlu yang macam-macam, mereka dapat menggapai kete...
DENGARLAH single terbaru dari kelompok musik Bali Utara, Poleng Band. Judulnya “Percaya Bli”. Lagu terbaru ini beda dengan lagu-lagunya dulu. Bahkan, jika tak baca nama gru...
[caption id="attachment_3782" align="alignnone" width="701"] Penampilan Komunitas Seni RRI Denpasar di Taman Budaya Denpasar. /Foto: Istimewa[/caption] ISU kebinekaan tida...
KEINDAHAN Pulau Bali tak perlu diragukan lagi. Banyak yang menghabiskan waktu liburannya di pulau yang juga dijuluki sebagai Surga Terakhir. Julukan yang tak berlebihan, ka...