Apa itu Cinta? Ketulusan, Suka-suka, Seks?
DALAM sebuah mata kuliah antropologi tentu tak lepas dari yang namanya Manusia dan Budaya namun yang membuat sedikit kita tersenyum saat dosen memasuki pembahasan terkait B...
DEWASA ini, CCTV (Closed-Circuit Television) dengan mudah dijumpai di berbagai tempat, mulai dari traffic light, toko, kantor, bahkan gang sempit. Anehnya, kehadiran mata-mata elektronik ini acap kali lebih efektif menertibkan perilaku manusia ketimbang ajaran agama. Orang-orang berhenti melanggar bukan karena takut berdosa, melainkan karena takut terekam. Barangkali memang betul, kita hidup di zaman ketika manusia lebih takut pada CCTV daripada Tuhan.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran mendasar dalam cara manusia memaknai moralitas. Dahulu, nilai baik dan buruk diyakini bersumber dari hati nurani, ajaran agama, dan kesadaran spiritual. Kebaikan dilakukan karena diyakini benar, bukan karena diawasi. Namun kini, banyak orang bersikap ‘baik’ hanya ketika ada kamera. Ketika pengawasan hadir, perilaku tertib muncul. Ketika kamera mati atau tidak terlihat, pelanggaran kembali terjadi. Moralitas berubah menjadi sesuatu yang bersyarat, berlaku jika ada saksi.
Dalam situasi seperti ini, kebaikan kehilangan kedalaman makna. Ia tidak lagi menjadi cerminan karakter, melainkan sekadar respons terhadap sistem. Orang-orang mulai belajar menyiasati: mana yang aman dan mana yang berisiko. Pertimbangannya bukan lagi benar atau salah, melainkan terekam atau tidak. Moralitas pun bergeser menjadi soal teknis, bukan prinsip.
Kehadiran CCTV hanya membuat orang lebih berhati-hati untuk berbohong. Seseorang tidak mencuri karena takut dipenjara, bukan karena sadar bahwa mencuri itu berdosa. Dalam konteks ini, perilaku baik yang lahir dari ketakutan semata bukanlah kebajikan, melainkan kepatuhan kosong yang rapuh.
Ketakutan pada Tuhan seharusnya berbeda. Ia bukan sekadar rasa takut akan hukuman, tetapi kesadaran batin bahwa setiap tindakan memiliki nilai moral, bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang melihat. Tuhan, dalam keyakinan banyak agama, dipahami sebagai saksi yang tak terlihat namun selalu hadir. Rasa takut semacam ini justru bekerja paling kuat dalam kesendirian, ketika manusia bebas memilih tanpa tekanan luar.
Namun ketika rasa takut kepada Tuhan memudar, manusia mencari pengganti yang lebih konkret. Pengawasan buatan seperti CCTV pun mengambil peran tersebut. Sayangnya, pengganti ini bersifat rapuh. Kamera hanya bisa mengawasi ruang tertentu, pada waktu tertentu, dengan sudut pandang terbatas. Ia tidak bisa menjangkau niat, membaca isi pikiran, maupun mencatat proses batin seseorang sebelum berbuat.
Masalahnya, tidak semua tempat bisa dipasangi kamera, dan tidak semua kesalahan bisa direkam. Kebohongan kecil, niat buruk, pengkhianatan, dan manipulasi yang dilakukan secara diam-diam sering lolos dari pengawasan. Jika manusia hanya takut pada kamera, maka kejahatan tidak akan hilang, ia hanya berpindah ke ruang yang lebih gelap dan tersembunyi. Sebaliknya, jika manusia memiliki kesadaran moral yang hidup, pengawasan akan berfungsi sebagai pelengkap, bukan penentu.
Kendati demikian, CCTV tetap memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan membantu penegakan hukum. Namun ketergantungan berlebihan pada teknologi juga mencerminkan krisis nurani yang lebih dalam. Persoalannya bukan apakah kita takut pada CCTV atau tidak, tetapi mengapa kita perlu takut untuk berbuat baik. Jika kebaikan hanya muncul karena ada kamera yang merekam, maka yang kita miliki bukan moralitas, melainkan kepura-puraan. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
DALAM sebuah mata kuliah antropologi tentu tak lepas dari yang namanya Manusia dan Budaya namun yang membuat sedikit kita tersenyum saat dosen memasuki pembahasan terkait B...
SEORANG kawan bercerita saat kami bertemu tentang aktivitasnya kini menjadi petani di kampung halamannya. Ia sangat bersemangat dan antusias menceritakan hal tersebut. Kawa...
VALIANT Budi mulai menulis novel pada tahun 2007 berjudul Joker, Ada Lelucon di Setiap Duka. Selanjutnya, ia terus berkarya; Bintang Bunting (2008), “Parfum Impian” di buku...
STATUS Kota Pendidikan tentu merupakan sebuah daerah dengan kualitas sumber daya manusia yang cerdas kritis serta didukung dengan budaya-budaya peningkatan inelektual denga...
HUMAS, satu bidang yang sangat baru bagi saya. Teringat 1 Juli 2015, hari pertama dalam perjalanan hidup, saya bekerja di bidang ini. Sekali lagi bidang yang benar-benar ba...
TERLEPAS dari polemik baik-buruk, miskin-kaya, perlu-tidak, berguna-tak berguna, tentang festival di Buleleng, tetap ada hal-hal yang perlu dicatat. Di Festival Lovina yang...
--- Catatan Harian Sugi Lanus, 17 September 2017 PENDETA Bali (juga Hindu Bali dan dunia umumnya) menyebut geografi India dan berbagai sungai dalam mantra-mantra suci, kenapa? Ji...
. Sing sanggup isun yo sing sanggup Ring dunyo urip tanpo nyawang riko Sing sanggup isun sing sanggup Adoh ambi riko…. Lagu “Sing Sanggup” duet Mahesa dan Vita Alvia, penyanyi pop...
. KUBUTAMBAHAN Kau dengar nelayan itu tak pernah lagi kembali Ia menjelma bintang Yang jatuh sesubuh ini. Para leluhur masih Sebisu arca Tak ada yang sanggup mengusiknya Sedang ki...
PERASAAN suka dan senang sudah saya rasakan jauh-jauh hari, sebelum saya benar-benar mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kehumasan Aparatur Pemerintah Daerah yang diselengga...