Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham - Raras

Abdul Wachid BS
by Abdul Wachid BS — Januari 10, 2026 in Puisi

Tatkala.co

ILHAM - RARAS

Ini saatnya tak bisa ditunda
Lamunan menjadi kenyataan
Hanya sesaat dengan doa
Aku kau satukan rumah pengantin
Menggelar sajadah hidup surgawi

Raras ruhani Raras abadi
Aku kau senyawa sehayati
Ranum buah cinta panen raya
Anak tangga meraih langit menjelmalah
Sakinah mawaddah warahmah

Purwokerto, 25 Desember 2024

L.A.

(Lantunkan Adzan)

Mengapa gemuruh angin itu
Melembut atau berpindah arah
Bila adzan dan iqamah
Dilantunkan dengan berserah

Diri yang mengaku aku
Seperti sebuah kota yang
Dibangun dengan megah
Menandai kemuliaan yang

Kita percaya sebagai manusia
Angin menggesekkan reranting
Pohon-pohon kering memercikkan
Api kecil seperti lilin ulang tahun

Di malam hari menjadi keindahan
Tetapi angin mempercepat larinya
Tunduk kepada panggilan Kekasih
Ia tak merasa jejaknya menimbulkan

Bara di sebuah kota mengingatkan
Kisah umat Nabi Huud yang
Beterbangan oleh pusaran angin
Tetapi kini anginnya api, ya api !

Apakah sudah tidak ada adzan
Dan iqamah yang biasanya
Angin dengan sopan-santun
Akan berpindah arah dan pasrah

Tujuh malam delapan hari sudah
Bara sebuah kota tak mau padam
Lebih dari kisah umat Nabi Huud
Tetapi dari sini aku tetap lantunkan

Hayya 'alashshalaah
Hayya 'alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah

2025

SUCI

Embun yang jatuh di ujung fajar
sebelum langkah pertama terjejak
Menyelinap diam ke dalam tanah
tanpa menyisakan jejak debu

Ia berjalan di tepi pagi
menyongsong subuh yang masih bening
Menjaga tubuh dari bayang-bayang
agar tetap utuh bersama cahaya

Namun debu tak hanya di jalan
ia mengendap di lipatan niat
Di sela nafas yang terus berulang
di kelam luka yang tak pernah tampak

Bukanlah air yang menyucikan
tetapi kilau yang lahir darinya
Cahaya yang enggan menjadi redup
meski malam mengetuk perlahan

Maka suci bukanlah sekadar
putih yang tampak di mata dunia
Tetapi jalan menuju kembali
ke titik awal semua bermula

2025

BAYU

Bayu berhembus tanpa suara
menyusup ke sela cahaya
membawa jejak tanpa rupa
melewati ladang dan senja

Berbisik halus di batas sunyi
menyentuh hati dalam lupa
seperti doa tak bersuara
tetapi menjulang ke langit

Tak selalu lembut ia hadir
kadang menggulung luas bumi
menumbangkan dahan yang renta
mengguncang jiwa dalam lena

Angin menguji tiap langkah
badai menyaring keteguhan
di balik deru kemurkaan
isyarat tersirat terbaca

Maka bayu bukan sekadar angin
ia pertanda Maha Ada
seperti nur turun perlahan
menuntun langkah menuju pulang

2025

KEPADA SUARA

mencarimu di sepi yang kuyakini
di batas doa yang tak kunjung genap
namun kau tetap di sana
menungguku lebih lama dari yang kuduga

aku menyebutmu dalam rindu
tapi kau tak lekas menjawab
seperti cahaya yang paham
terlambat justru membuatku semakin mencinta

aku ingin berlari mendekat
tetapi kau biarkan aku tersandung
agar aku tahu tak ada jalan lain
selain jatuh di pelukanmu

dan begitulah
setiap kali kupanggil namamu
aku tak pernah tahu
siapa yang lebih rindu

2025

KEPADA WAKTU

aku mengeja namamu di sela sunyi
pada kelam yang tak menawarkan isyarat
kecuali denting jam yang kian memudar
seperti jejak yang tak ingin diingat

jika ada yang bertanya ke mana perginya doa
aku hanya menunjuk langit
yang tak pernah menampik cahaya,
walau seribu kali senja runtuh di dalamnya

waktu tak pernah menghapus jejak
hanya menyembunyikannya
di celah rahasia yang kelak terbuka
ketika kita berhenti bertanya

di jendela malam aku terdiam
bukan namaku yang mencari cahaya
melainkan cahaya yang menungguku
pulang pada diriku sendiri

2025

SEBUT SAJA, UMI

Ya sebut saja, Umi (bukan Mawar)
Maka burung-burung enggan terbang
Kebebasan menjadi sangkar
Yang lebih besar

Umi mengingatkanku
Kepada semua ibu
Tetapi ini Umi yang
Bukan ibu dari segenap kenangan

Jangan engkau mudah berbagi
Tubuh ibu kepada semua tabu
Tubuh penting dijaga tentara
Kenapa bisa ruhnya kena tipu daya?

Kelak pada masanya
Umi mengerti makna namanya
Ketika di ujung malam
Air matanya meledak

Bersama reruntuhan fajar
Lelakinya tidur mendengkur
Melupakan kekalahan dunia
Sekaligus alpa kepada surga

2025

.

Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Abdul Wachid BS

Related Posts
Khas

Mengagumi Mobil Mini

BY Jaswanto Juni 22, 2026

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...

Read More