Catatan Perjalanan Janger Beringkit
JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit, yang paling familiar adalah pasar h...
Ini saatnya tak bisa ditunda
Lamunan menjadi kenyataan
Hanya sesaat dengan doa
Aku kau satukan rumah pengantin
Menggelar sajadah hidup surgawi
Raras ruhani Raras abadi
Aku kau senyawa sehayati
Ranum buah cinta panen raya
Anak tangga meraih langit menjelmalah
Sakinah mawaddah warahmah
Purwokerto, 25 Desember 2024
(Lantunkan Adzan)
Mengapa gemuruh angin itu
Melembut atau berpindah arah
Bila adzan dan iqamah
Dilantunkan dengan berserah
Diri yang mengaku aku
Seperti sebuah kota yang
Dibangun dengan megah
Menandai kemuliaan yang
Kita percaya sebagai manusia
Angin menggesekkan reranting
Pohon-pohon kering memercikkan
Api kecil seperti lilin ulang tahun
Di malam hari menjadi keindahan
Tetapi angin mempercepat larinya
Tunduk kepada panggilan Kekasih
Ia tak merasa jejaknya menimbulkan
Bara di sebuah kota mengingatkan
Kisah umat Nabi Huud yang
Beterbangan oleh pusaran angin
Tetapi kini anginnya api, ya api !
Apakah sudah tidak ada adzan
Dan iqamah yang biasanya
Angin dengan sopan-santun
Akan berpindah arah dan pasrah
Tujuh malam delapan hari sudah
Bara sebuah kota tak mau padam
Lebih dari kisah umat Nabi Huud
Tetapi dari sini aku tetap lantunkan
Hayya 'alashshalaah
Hayya 'alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah
2025
Embun yang jatuh di ujung fajar
sebelum langkah pertama terjejak
Menyelinap diam ke dalam tanah
tanpa menyisakan jejak debu
Ia berjalan di tepi pagi
menyongsong subuh yang masih bening
Menjaga tubuh dari bayang-bayang
agar tetap utuh bersama cahaya
Namun debu tak hanya di jalan
ia mengendap di lipatan niat
Di sela nafas yang terus berulang
di kelam luka yang tak pernah tampak
Bukanlah air yang menyucikan
tetapi kilau yang lahir darinya
Cahaya yang enggan menjadi redup
meski malam mengetuk perlahan
Maka suci bukanlah sekadar
putih yang tampak di mata dunia
Tetapi jalan menuju kembali
ke titik awal semua bermula
2025
Bayu berhembus tanpa suara
menyusup ke sela cahaya
membawa jejak tanpa rupa
melewati ladang dan senja
Berbisik halus di batas sunyi
menyentuh hati dalam lupa
seperti doa tak bersuara
tetapi menjulang ke langit
Tak selalu lembut ia hadir
kadang menggulung luas bumi
menumbangkan dahan yang renta
mengguncang jiwa dalam lena
Angin menguji tiap langkah
badai menyaring keteguhan
di balik deru kemurkaan
isyarat tersirat terbaca
Maka bayu bukan sekadar angin
ia pertanda Maha Ada
seperti nur turun perlahan
menuntun langkah menuju pulang
2025
mencarimu di sepi yang kuyakini
di batas doa yang tak kunjung genap
namun kau tetap di sana
menungguku lebih lama dari yang kuduga
aku menyebutmu dalam rindu
tapi kau tak lekas menjawab
seperti cahaya yang paham
terlambat justru membuatku semakin mencinta
aku ingin berlari mendekat
tetapi kau biarkan aku tersandung
agar aku tahu tak ada jalan lain
selain jatuh di pelukanmu
dan begitulah
setiap kali kupanggil namamu
aku tak pernah tahu
siapa yang lebih rindu
2025
aku mengeja namamu di sela sunyi
pada kelam yang tak menawarkan isyarat
kecuali denting jam yang kian memudar
seperti jejak yang tak ingin diingat
jika ada yang bertanya ke mana perginya doa
aku hanya menunjuk langit
yang tak pernah menampik cahaya,
walau seribu kali senja runtuh di dalamnya
waktu tak pernah menghapus jejak
hanya menyembunyikannya
di celah rahasia yang kelak terbuka
ketika kita berhenti bertanya
di jendela malam aku terdiam
bukan namaku yang mencari cahaya
melainkan cahaya yang menungguku
pulang pada diriku sendiri
2025
Ya sebut saja, Umi (bukan Mawar)
Maka burung-burung enggan terbang
Kebebasan menjadi sangkar
Yang lebih besar
Umi mengingatkanku
Kepada semua ibu
Tetapi ini Umi yang
Bukan ibu dari segenap kenangan
Jangan engkau mudah berbagi
Tubuh ibu kepada semua tabu
Tubuh penting dijaga tentara
Kenapa bisa ruhnya kena tipu daya?
Kelak pada masanya
Umi mengerti makna namanya
Ketika di ujung malam
Air matanya meledak
Bersama reruntuhan fajar
Lelakinya tidur mendengkur
Melupakan kekalahan dunia
Sekaligus alpa kepada surga
2025
.
Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Adnyana Ole
JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit, yang paling familiar adalah pasar h...
SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya Mas, Ubud, Gianyar. Mereka-mereka yang ada di sana hadir untuk...
MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, ibarat membaca buku novel yang dimulai dari...
Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari lingkungan akademik dan pergaulan s...
Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa yang mulai mengucap janji tak begit...
RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka 5, kau yang hidup hanya berdua dengan ibumu yang...
SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth – selanjutnya saya m...
LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan i...
ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan olokan dibanding sumber optimisme. Arsenal...
DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang, dan perangkat gamelan lainnya dimainkan den...