DENGAN suara berat dan bariton yang kelam, Leonard Cohen menyanyikan “Dance Me to the End of Love.” Suaranya seperti gema doa yang samar, menyampaikan pesan-pesan tentang kehidupan, cinta, dan kematian, dengan keindahan sekaligus kengerian yang subtil di balik liriknya yang puitis.
Leonard Cohen, seorang seniman Yahudi asal Kanada, dikenal bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi juga penyair dan novelis. Sejak muda ia telah terpesona oleh puisi Federico García Lorca, dan kedekatannya dengan dunia sastra membuat setiap lagunya terasa bagaikan puisi yang hidup. Ia terus mengeksplorasi tema-tema besar manusia: spiritualitas, politik, seksualitas, cinta, dan kematian.
Cohen memulai karier musiknya pada pertengahan 1960-an. Musik awalnya bernuansa Federico García Lorca, jelas terasa dalam album debutnya yang berkesan, Songs of Leonard Cohen (1967), yang melahirkan lagu-lagu mendalam seperti “Suzanne,” “So Long, Marianne,” dan “Sisters of Mercy.”
Seiring waktu, karyanya terus berevolusi, merambah pop, rock, bahkan sentuhan jazz dan elektronik. Namun satu hal tak pernah berubah: kekuatan liriknya yang penuh integritas dan kejujuran artistik. Tak heran ia menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah musik, dihormati lintas generasi, serta menerima berbagai penghargaan bergengsi termasuk Grammy Lifetime Achievement Award pada 2010.
Leonard Cohen
Suara seraknya yang dalam, aransemen musik yang sederhana, dan permainan kata yang indah adalah ciri khas kehadiran Leonard Cohen yang tak tergantikan.
“Dance Me to the End of Love,” yang dirilis dalam album Various Positions (1984), menyeret kita masuk ke dalam palung suaranya yang gelap. Di atas aransemen yang tampak bersahaja, ia melarung kita menuju cakrawala puitis, tempat cinta, takdir, dan kematian berdansa dalam suatu penyerahan diri yang hampir absurd.
Lagu ini menggunakan metafora tarian untuk mengeksplorasi perjalanan cinta, penuh hasrat, rapuh, namun juga teguh hingga batas kehidupan.
“Dance me to your beauty with a burning violin/ Lift me like an olive branch and be my homeward dove.”
Cohen terinspirasi dari kengerian Holocaust, ketika di beberapa kamp Nazi para tahanan digiring menuju kematian diiringi alunan musik dari para musisi tawanan. Seperti “biola yang membara”, lirik itu menggambarkan momen ketika musik, cinta, dan kehidupan menemukan maknanya yang paling gelap.
"Oh let me see your beauty when the witnesses are gone", lirik ini menambahkan dimensi intimasi, kerapuhan, dan kesaksian. Ini tentang cinta yang paling jujur, sebuah penyerahan total di tengah kesadaran akan akhir.
Leonard Cohen
"Dance me through the panic till I'm gathered safely in": Ini adalah inti dari "penyerahan diri", tarian yang menjadi pelindung dari kepanikan eksistensial, sebuah permohonan untuk dituntun hingga ke ambang dengan aman.
Kekuatan lagu ini terletak pada lapisan makna dan ambiguitasnya. Lagu ini bukan sekadar tentang cinta atau kematian, tetapi tentang semua lapisan emosi manusia, seperti potongan puzzle: kerinduan, kelembutan, ketidakberdayaan, penyerahan diri, dan bahkan keindahan yang lahir dari kengerian yang tak dapat dijelaskan.
Pada akhirnya, lagu ini bukan hanya menunjukkan bahwa suara tidak perlu sempurna untuk menjadi ajaib. Leonard Cohen mengajarkan bahwa suara baru benar-benar indah ketika ia membawa luka, ketika ia menyimpan cerita, beban, dan kemanusiaan di dalamnya.[T]
PAGI-PAGI, Minggu 29 Oktober 2017, di Kampus Bawah Undiksha Singaraja, suara sorak yang tidak terlalu ramai menyemarakkan Lomba Musikalisasi Puisi se-Bali dalam rangka Ajan...
SUARA khas gamelan Bali mengurai malam yang dingin. Sayup sayup keramaian pun mulai mengisi Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, Jumat malam itu (27/10/20...
.
BAIT PEMBUNUH
Kupaksakan merawat ingatku
Perjuangan suara dan kemegahan pemikiranmu
Tekadku ingin setara denganmu
Kau lebih mulia bersama bait Bunga dan Tembok itu!
Maka kuperte...
Sekitar tahun 2010 saya bersama sejumlah teman berencana menerbitkan kumpulan puisi dan esai tentang Tabanan. Saya yang bertugas mengumpulkan puisi dan tulisan menghubungi...
Cerpen: Muhamad Kusuma Gotansyah
MALAM itu seseorang memenggal kepalaku di lorong sepi itu, kemudian mengambil kepalaku dan menaruhnya di dalam sebuah karung kecil. Dari cel...
MINGGU, 22 Oktober 2017, di kota Bangli tepatnya kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia [PHDI], sekumpulan orang-orang yang sakit jiwanya, datang untuk berobat. Jiwa yang s...
.
BATUK bukan kata yang mengejutkan. Kita terbiasa dengar batuk dan mengalami batuk. Karena terbiasa batuk bukanlah hal yang bikin panik, justru memberi petunjuk tentang apa yang h...
.
JEMARI WAKTU
jemari waktu merangkum dalam hening senja
dan ranting ranting pohon tertunduk sunyi
terbaca syahdu dari untaian awan kelabu
menanti malam hadir bersama hangatmu
har...
SETELAH sukses atas terselenggaranya Sapanji Sasiliwangi – Mapag Seba Jagad Parahyang ka 1, 2 dan 3, yang telah memberikan dampak kondusif di Jawa Barat menjelang Pilpres 2...
Catatan Kuratorial: I Wayan Sriyoga Parta dan I Made Susanta Dwitanaya
Pameran Seni Rupa “Laku Sisi Sagara”
Perupa Dewa Gede Purwita dan I Nyoman Wijaya
Pembukaan Ju...