Anak SD dan Motor “Keren”-nya
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
DI tengah gempuran budaya digital dan globalisasi yang deras, suara-suara lokal dari Timur Indonesia justru semakin relevan untuk didengar. Salah satunya adalah puisi. Tak sekadar untaian kata, puisi daerah seperti Kabanti dari Buton adalah penanda peradaban yang menyimpan hikmah dan kearifan lokal.
Puisi lokal bukan sekadar ekspresi estetik; ia adalah wajah jiwa bangsa, sekaligus medium spiritual yang mempertautkan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu helaan napas kebudayaan.
Kabanti adalah jenis puisi lisan khas masyarakat Buton, Wakatobi, dan sekitarnya yang telah hidup berabad-abad. Puisi ini disampaikan dengan irama dan nada khas, berisi nasihat moral, spiritualitas sufistik, serta sejarah kepahlawanan.
Dalam Kabanti, kita menemukan bagaimana nilai-nilai luhur masyarakat dituturkan dengan estetika tinggi, penuh simbol dan metafora yang berpijak pada kehidupan maritim dan religiusitas Islam lokal.
Menurut Keputusan Mendikbud No. 238/M/2013, Kabanti telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sejajar dengan tembang macapat di Jawa atau pantun di Sumatera.
Bahasa yang digunakan adalah Wolio, dengan struktur berima dan disampaikan secara musikal, sering kali dalam acara adat, pendidikan keluarga, hingga ritual-ritual keagamaan. Ini adalah bentuk puisi yang tidak hanya hidup dalam teks, tetapi dalam bunyi, tubuh, dan konteks sosial yang dinamis.
Sastrawan Buton, La Ode Abdul Latif, mencatat bahwa Kabanti mengandung dimensi sufistik yang kuat, mencerminkan pengaruh Islam dalam kebudayaan Buton. Ia menyebutnya sebagai “kitab masyarakat Buton dalam bentuk syair.” Tradisi ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan karakter anak-anak, terutama sebelum sistem sekolah formal berkembang. Kabanti menjadi semacam pedoman hidup yang dibawakan oleh para tetua dan dijadikan rujukan etika sosial.
Namun kini, tradisi seperti Kabanti menghadapi tantangan berat: regenerasi yang terputus. Banyak generasi muda yang tak lagi akrab dengan puisi lokalnya sendiri. Dalam laporan Balai Bahasa Sulawesi Tenggara (2022) disebutkan bahwa hanya 12% siswa SMA di Baubau yang mengenal Kabanti, dan hanya 4% yang bisa membacakannya secara lisan. Angka ini menandakan adanya krisis pewarisan nilai yang tidak boleh diabaikan.
Padahal, beberapa penyair lokal seperti Wa Ode Munanila dan La Ode Hermas telah berupaya menghidupkan kembali tradisi ini dalam bentuk puisi kontemporer. Mereka membacakan karya dalam dua bahasa, bahasa ibu dan bahasa Indonesia, di berbagai panggung komunitas, sekolah, dan forum budaya.
Namun, upaya mereka masih bersifat sporadis dan belum mendapat dukungan kebijakan budaya yang sistematis. Selain itu, kurangnya dokumentasi yang memadai juga mempercepat proses pelupaan.
Di sisi lain, komunitas seperti Komunitas Sastra Wakatobi dan Sanggar Malige Baubau mulai memproduksi konten puisi berbahasa daerah di media sosial. Instagram dan YouTube menjadi panggung alternatif bagi puisi lokal untuk menjangkau generasi baru. Ini langkah progresif yang patut diapresiasi dan diperkuat oleh pemerintah daerah serta instansi pendidikan, termasuk Balai Bahasa dan Dinas Pendidikan.
Untuk menjaga nyawa puisi lokal, kita memerlukan revitalisasi menyeluruh, bukan sekadar dalam bentuk lomba sesekali atau festival tahunan. Badan Bahasa dan Balai Bahasa Sultra telah memulai program pelestarian bahasa daerah dengan pendekatan baru, termasuk pelatihan menulis puisi lokal untuk guru dan siswa. Dalam laporan Kemdikbudristek (2023), revitalisasi ini juga melibatkan perekaman Kabanti dalam format digital untuk arsip nasional.
Kehadiran rubrik BASTRA di Koran Sultra, yang merupakan kerja sama dengan Balai Bahasa, merupakan langkah maju dalam menyediakan ruang apresiasi dan edukasi puisi lokal. Namun ke depan, dukungan perlu ditingkatkan pada level kurikulum sekolah, pelatihan guru, dan integrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler literasi. Puisi daerah seharusnya tidak hanya menjadi bagian dari lomba sesekali, tetapi diintegrasikan dalam keseharian belajar siswa.
Lebih jauh lagi, perlu ada kebijakan afirmatif dari pemerintah daerah Sulawesi Tenggara untuk menjadikan puisi lokal sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup. Puisi tidak bisa sekadar dipajang di museum budaya, tapi harus bernapas di ruang publik, dalam lomba, panggung, media, dan ruang kelas. Ruang-ruang ini harus menjadi tempat di mana anak-anak dan remaja bisa mengekspresikan identitas lokalnya dengan bangga dan sadar makna.
Mengapa puisi lokal penting? Karena ia mengandung roh kebangsaan. Sebuah bangsa besar dibangun dari keberanian mengakui dan merawat kebhinekaan yang hidup di akar rumputnya. Ketika puisi berbahasa daerah dihargai, diajarkan, dan disebarluaskan, maka yang dirawat bukan sekadar bahasa, tapi identitas, martabat, dan jiwa bangsa.
Mengutip penyair Taufiq Ismail, “Sastra yang berpihak pada bangsanya adalah benteng terakhir sebelum runtuhnya kepribadian nasional.” Maka, mendukung puisi daerah berarti turut menjaga benteng tersebut. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga keberlanjutan peradaban.
Kabanti, Tembang Wulele dari Muna, Syair Tolaki dari Konawe, dan berbagai bentuk puisi lokal lainnya bukanlah sisa-sisa masa lalu yang usang. Mereka adalah denyut hidup kultural yang bisa menyuburkan rasa kebangsaan dari akar. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, puisi daerah bisa menjadi perekat identitas kultural sekaligus inspirasi spiritual yang menghidupkan kembali makna “Bhinneka Tunggal Ika” dalam praktik keseharian.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki gedung-gedung tinggi dan jalan tol megah, melainkan bangsa yang mampu merawat jati diri dari dalam: melalui bahasa, sastra, dan puisi yang terus hidup di lidah dan hati generasi penerusnya.[T]
Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Jaswanto
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
KASAR itu kebebasan yang indah dan menghibur. Tak percaya? Dengarlah ungkapan-ungkapan kasar tak terduga dari karakter-karakter Bondres Dwi Mekar, Buleleng, (terkenal juga dengan n...
“Kenapa kita di sini?” SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bi...
BRAD PIT dan Angelina Jolie mungkin bisa berpisah. Naruto dan Sasuke juga masih bisa berpisah, namun yang namanya mahasiswa itu tidak bisa dipisahkan dengan tugas kuliah. Akan sela...
Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata Kau suka warna biru karena warna biru adalah alas bagi puisi-puisi yang kau tulis setiap pagi. Katamu sudah lama kau tidak membuka pintu...
WANGSA, trah, soroh, atau apa pun namanya, adalah identitas yang meringkas individu ke dalam rumusan-rumusan yang berdimensi genetis, latar sejarah, profesi, kadang wilayah geograf...
JANGANKAN sebagai budak, jadi babu pun sesungguhnya tak seorang pun sudi. Tetapi, Bali punya sejarah perbudakan yang sangat mengenaskan, ketika manusia diperdagangkan, dipertukarka...
BEBERAPA hari ke belakang situasi politik Indonesia menghangat. Ditambah lagi media yang memberitakannya setiap hari. Kemarin, Saya mencoba untuk mengikuti isu ini lebih dalam. Mom...
OKTOBER sudah lewat. Oktober yang katanya Bulan Bahasa. Ya. Bulan yang baik untuk berbicara dengan serius perihal literasi, bulan yang seharusnya menjadi perayaan yang besar bagi p...
HEBAT betul saya, karena baru-baru ini menolak tawaran untuk mengelola media kampanye pendukung Ahok. Dari banyak hal yang terlewat dalam hidup saya, mungkin penolakan itulah satu-...