Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
DI Kencu Ruang Seni di Kuta, Bali, pameran "Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif", sebuah rekonstruksi perjalanan kreatif para perupa yang pernah tergabung dalam kelompok informal "Senin Kemis" (1997-2010), dibuka pada Senin, 4 Januari 2026.
Pameran yang dikuratori oleh Benito Lopulalan itu menampilkan karya sembilan seniman: Chusin Setiadikara, Nyoman Wijaya, Cundrawan, Agus Cahaya, I Made Alit Suarja, I Ketut Sumantara, Anak Agung Gede Wira Merta, I Gede Jaya Putra, dan Tri Akta Bagus Prasetya.
Pameran ini menelusuri bagaimana sebuah komunitas belajar seni rupa membangun fondasi teknis yang objektif, lalu berkembang menjadi pencarian bahasa visual yang subjektif dan personal. Senin Kemis lahir sebagai ruang pertemuan sederhana untuk menggambar dan melukis bersama.

Namun, dalam rentang 13 tahun, kelompok ini mengembangkan metode belajar kolektif yang khas melalui pertemuan rutin, latihan drawing bersama, dan saling mengasah kemampuan.
Salah satu fondasi penting yang diterapkan adalah "teori 500 gambar" yang digagas Chusin Setiadikara. Setiap anggota diminta membuat 500 karya drawing sebagai pondasi awal—sebuah pendekatan yang mirip dengan teori "10.000 jam" Malcolm Gladwell.
Pengulangan dan konsistensi ini menjadi sarana membangun ketrampilan bahasa visual yang dapat dipelajari dan dikomunikasikan secara kolektif.
Senin Kemis memosisikan drawing bukan sekadar sketsa atau persiapan untuk lukisan, melainkan sebagai sistem rupa yang utuh dan mandiri. Hal ini mengemuka dalam karya yang ditampilkan dalam pameran ini, setiap karya mengeksplorasi kemungkinan visual yang bisa ditampilkan drawing.
Sejumlah tema kontemporer seperti perbenturan utopia dan distopia, tarik-menarik narasi besar versus narasi kecil, serta pencarian sub-alternatif dalam kehidupan.
Sejak awal, dalam aktivitas Senin Kemis drawing didekati sebagai aktivitas prosesual yang dinamis—sebuah ruang dialektika transisional antara objektivitas dan subjektivitas. Dalam pemahaman ini, karya drawing menjadi input, proses, output, sekaligus umpan balik reflektif yang berkelanjutan. Modus kemungkinan semacam ini juga mengemuka dalam karya-karya yang ditampilkan.

Pameran ini menampilkan rekonstruksi atau forensik pembelajaran Senin Kemis melalui studio proses yang mengeksplorasi drawing di wilayah seni rupa. Studio proses tersebut dapat diakses setiap pengunjung selama masa pameran. Setiap orang dapat mencoba belajar mengeksplorasi seni drawing.
Meski pertemuan formal Senin Kemis berakhir pada 2010, sejumlah anggota masih melahirkan kelompok pembelajaran di wilayah masing-masing. Warisan terbesar Senin Kemis bukan pada gaya atau teknik tertentu, melainkan pada cara berpikir dan bekerja yang terus menginspirasi.
"Simbiosa Kreatif" menegaskan bahwa objektivitas teknik dan subjektivitas ekspresi tidak saling meniadakan, melainkan bersimbiosis dalam satu ekologi yang sama. Disiplin kolektif menjadi nutrisi bagi keberanian individual, sementara terobosan personal menginspirasi dan memperkaya kembali bahasa kolektif.[T]
Sumber: Siaran Pers Penyelenggara
Editor: Jaswanto
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...