Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
waktunya untuk kembali mencintai hujan
menanamnya ke sebatang pohon
seperti tersimpan dalam pantun dan gurindam
hujan adalah anime air mata
langit menangis pada kemarau
seperti ditemukan di tengah lagu anak-anak
pohon menjadi rumah singgah bagi hujan
sebelum melanjutkan perjalanan ke laut lepas
seperti api tungkus lumus bertemu air
waktunya untuk kembali mencintai hujan
2025
bulan sabit merah di langit
ad summa ad terra
hidup terkadang lebih gelap dari puisi
lebih abstrak dari lukisan. lebih absurd dari teater
berbicara dari masa lalu dunia nyata
matahari menghilang di antara kabel serat optik
bulan hitam. bulan putih
hanyut tenggelam ke ufuk maut
burung berkabung untuk seorang penyair
yang tidak lagi sanggup menulis puisi
2025
#1000 hari ULP#
kau beri warna angin pada kuda api
kuda dari masa kanak-kanakmu
kuda merah. kuda putih. kuda hitam
kau lukis dengan debu di tanah kering
kau beri uap api pada kuda api
kuda yang menggaris laut dan gunung
kuda angin. kuda air. kuda api
kau pacu dengan hening dalam kesunyianmu
kau beri aroma air pada kuda api
kuda pada sajak hari tuamu
2025
jangan ganggu puisiku. ½ lingkaran
dari lingkaran daur ulang mimpi basah
siapa yang menjagaku
lapuk sendirian menulis puisi
di penangkaran buaya muara
dan lumba-lumba airtawar
di sungai yang mengering
di kegelapan malam
aku menyandang demam seumur hidup
sepanjang tanah yang mencair
menyalakan cahaya di malam abadi
ketika hujan tidak menyentuh tanah
aku mintakan doa peluruh rindu
jamur yang tumbuh di bawah tanah
aku menemukan rahasia patina ini
tahun tanpa musim hujan
2025
aku mengusap wajahku
hujan asam. keringkan peluh wajahku
wajah. yang bukan wajahku
tapi wajahmu :
kelinci air. penderita cacar api
lapar wortel bunga
tanganku beku
kabut asap bekukan tanganku
tangan yang tak kuasa
memetik lagi, hari yang hijau
1000 bulan. bumi tanpa bulan
1001 malam. bumi tanpa malam
tanganku hanya menuliskan puisi
sebuah sajak. satu bait, satu kata
tanpa tanda baca
tergenang air mata. puisi itu terbakar
2025
.
Penulis: Sinduputra
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...