KADANG, yang paling bising bukanlah keramaian kota, melainkan percakapan di antara orang-orang yang merasa paling saling mengenal. Dari ruang itulah Angga Wijaya menulis. Dari beranda kos, dari suara-suara yang terdengar samar namun menetap lama di kepala, lahir buku esai terbarunya, Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi.
Buku ini menjadi catatan reflektif tentang keseharian yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pergulatan sosial yang rumit. Melalui esai-esai yang jujur dan kontemplatif, Angga membaca Bali dari dalam; dari relasi antarwarga, gosip, konflik kecil yang kerap membesar, hingga cara manusia modern menyimpan dan memproduksi luka secara diam-diam.
Beranda kos dalam buku ini bukan sekadar lokasi fisik, melainkan ruang antara—tempat jeda, tempat mendengar, sekaligus tempat menyaksikan bagaimana percakapan, prasangka, dan penilaian tumbuh di antara orang-orang yang hidup berdekatan. Di ruang sempit itulah gosip bekerja, konflik lahir, dan kemanusiaan diuji.
Sebagai penulis dan jurnalis yang telah lama menaruh perhatian pada isu sosial dan kemanusiaan, Angga Wijaya menulis buku ini dengan pendekatan personal tanpa terjebak pada pengakuan semata. Pengalaman hidup di kos-kosan, menyaksikan perubahan demografi, pergeseran nilai, dan ketegangan sosial di Bali, menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan yang lebih luas, yakni, tentang ego, harga diri, identitas, dan cara kita memperlakukan orang terdekat.
Sampul buku "Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi" karya Angga Wijaya
Esai-esai dalam Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi menyentuh beragam tema, mulai dari “Masiat Paturu Bali”, karma ayam aduan, konflik keluarga, relasi antarwarga, hingga riuh perdebatan soal sampah, media sosial, dan harga diri. Semua ditulis dengan bahasa yang tenang, tidak menggurui, namun menyimpan daya kritik yang tajam.
Buku ini tidak hadir untuk menentukan siapa yang benar atau salah. Ia justru mengajak pembaca memahami mengapa konflik kerap lahir di antara orang-orang dekat, mengapa percakapan kecil bisa menjelma luka, dan bagaimana gosip, bila dibiarkan, dapat menjadi racun sosial.
Sebagian esai dalam buku ini sebelumnya pernah terbit di media daring, sementara sebagian lainnya ditulis khusus untuk buku. Disusun sebagai satu kesatuan narasi, Di Beranda Kos dapat dibaca sebagai perjalanan batin seorang penulis yang mencoba berdamai dengan ingatan, lingkungan, dan kenyataan hidup urban.
Isu kesehatan mental juga hadir secara subtil dalam buku ini. Angga tidak menuliskannya sebagai wacana medis atau slogan motivasional, melainkan sebagai pengalaman manusiawi, yaitu, tentang pulih, tentang stigma, dan tentang usaha memahami diri sendiri di tengah tuntutan hidup yang kian bising.
Sebagai warga Bali, Angga menulis pulau ini bukan dari sudut pandang romantik pariwisata, melainkan dari denyut keseharian warganya. Bali yang muncul dalam buku ini adalah Bali yang hidup, berubah, kadang rapuh, dan tidak selalu harmonis. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah refleksi-refleksi penting lahir.
“Ini bukan buku untuk dibaca tergesa-gesa,” tulis Angga dalam semangat yang terasa di hampir setiap esainya. Buku ini mengajak pembaca membaca pelan-pelan, berhenti sejenak, dan mendengarkan suara-suara yang sering kita abaikan.
Diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, penerbit independen yang konsisten menerbitkan karya-karya reflektif dan sastra, Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi hadir sebagai tawaran bacaan yang relevan bagi pembaca yang tertarik pada esai, isu sosial, budaya urban, dan pergulatan manusia modern.
Informasi Pra Pesan
Seiring dengan rencana terbitnya buku ini, penerbit membuka program Pra Pesan dengan harga khusus.
PRA-PESAN BUKU ESAI ANGGA WIJAYA
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi
Esai-esai Angga Wijaya
Penerbit: Pustaka Ekspresi, Tabanan–Bali
Tebal buku: 148 halaman
Periode Pra Pesan: 3–18 Januari 2026
Harga khusus: Rp55.000 (dari harga normal Rp70.000)
Info pemesanan: 0831-150-36701
Program pra pesan ini ditujukan bagi pembaca yang ingin mendapatkan buku lebih awal sekaligus mendukung keberlanjutan penerbitan buku-buku esai dan karya penulis lokal.
Melalui Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi, Angga Wijaya berharap buku ini bisa menjadi teman baca yang jujur—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami. Karena kadang, suara paling keras justru datang dari yang paling dekat.
Baca pelan-pelan. Renungkan.
Tentang Penulis
Angga Wijaya adalah penyair, esais, dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan belasan buku puisi dan esai. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat isu sosial, budaya, kemanusiaan, dan pengalaman personal dengan pendekatan reflektif.[T]
Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga setiap sel...
GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu bukan hiasan semata, tetapi mendukun...
Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, term...
SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan...
SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, sa...
Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan Empeg. Ritual inilah y...
DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini menimbulkan pertany...
PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang dipasang, seperti baliho. Namun, entah mengapa...
DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, Marx dan Marcu...
SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepa...