PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat dari Golden Mile Tower, Singapura, menuju Ipoh Bus Terminal Station. Perjalanan kali ini tepat jam 12.00, tengah malam. Waktu perjalanan kurang lebih 12 jam. Jarak tempuh kurang lebih sama dengan pengalaman naik bus jalur Singaraja-Surabaya. Berhenti sebanyak dua kali.
Selama perjalanan saya sempat tertidur. Dan ketika saya bangun, sopir menyebut Berjaya Time Square. Itu artinya “bagi yang mau ke Kuala Lumpur waktunya untuk turun”. Dari tempat ini bus akan melaju lagi kurang lebih 3 jam menuju Ipoh.
Saya ingat, bulan ini tepat empat tahun silam saya berkunjung ke Cameron Highland, sebuah dataran tinggi yang dekat dengan wilayah Ipoh---dengan perkebunan teh dan udara sejuknya, seperti di Bedugul, Bali. Tapi waktu itu saya tidak sempat mampir ke Ipoh. Akhirnya tahun ini kesampaian juga, meski sebenarnya hanya singgah sebentar sebelum beranjak ke Penang.
Tetapi Ipoh bukan hanya tempat transit. Ipoh adalah white coffee. Brand “Old Town White Coffee” begitu kuat dan melegenda di Ipoh. Ya, Ipoh identik dengan kopi putih (white coffee), minuman khas dari Ipoh yang terkenal karena biji kopinya disangrai dengan margarin minyak sawit dan disajikan dengan susu kental manis, menciptakan rasa kaya, lembut, dan sedikit karamel, bukan berwarna putih pucat seperti namanya, melainkan cokelat keemasan pekat.
***
Bus sampai tepat pukul 8.30 pagi. Saya bergegas ke tempat menginap. Nasi kandar dan teh tarik adalah sambutan pertama sebelum menyingkap Ipoh di sore hari. Seperti kota-kota lain di Melaka, Ipoh juga mempunyai old gown heritage yang menarik. Saya memutuskan untuk berkunjung ke sana.
Dan wah, sejumlah bangunan tua tampak seperti lukisan yang menunjukan Ipoh lama. Ada bacaan Ipoh dan pastinya white coffee. Tampak juga beberapa pedagang ice cendol dengan aneka varian rasa. Juga sudah barang tentu dengan duriannya.
Saya berkeliling menyusuri setiap sudut Kota Tua Ipoh hingga lapangan umum yang merupakan peninggalan bersejarah zaman invasi Jepun---seperti yang tertera di sana. Ya, Jepun, maksudnya Negeri Jepang yang juga pernah menjajah Indonesia.
Satu hal yang sama dari semua kota tua di Malaysia adalah bagaimana komplek bagunan tua diatur sedemikian rupa. Maksudnya dibangun dengan aturan jelas. Di luar tampak persis tidak boleh berubah. Sedang di dalam diatur dengan ketat---meski bisa dipermak kalau disetujui pemerintah, setidaknya begitu obrolan singkat saya dengan penjaga coffee shop di sana.
***
Ipoh adalah ibu kota negara bagian Perak, Malaysia, yang terkenal dengan perpaduan keindahan alam (pegunungan batu kapur, gua) dan warisan budaya, termasuk bangunan tua yang bersejarah, mural seni jalanan, dan kuliner khas seperti Ipoh White Coffee dan Ikan Pekasam, menjadikannya destinasi menarik di Malaysia Barat.
Berdasarkan pencarian, Negeri Perak berasal dari kilauan perak yang memang banyak di temukan di negeri itu. Secara geografis, di Ipoh memang banyak berdiri bukit dan gua. Mungkin saja tambangnya di sana, dulu, pikir saya. Untuk itu, saya berkunjung ke Tasik Cermin, destinasi wisata alam populer yang terletak di tengah perbukitan kapur Ipoh.
Sesuai namanya, Tasik Cermin, danau ini dikenal karena permukaan airnya yang tenang dan jernih sehingga mampu memantulkan bayangan pegunungan di sekitarnya seperti cermin. Mirror Lake, begitu nama terkenalnya di kalangan pelancong. Mirror Lake terletak di tengah gua dan di kelilingi karst.
Pengunjung tampak berkerumun di tengah panas yang hampir menyentuh 38 derajat Celcius. Ipoh hari itu kebanjiran pengunjung lomak dan manca negara. Konektivitas dari Kuala Lumpur dan juga dekat dengan Penang serta susksesnya branding white coffee yang melegenda adalah faktor utamanya.
Berbeda dengan di Bali. Banyak orang berpikir melakukan perjalanan dari Denpasar ke Singaraja. Bukan saja karena jaraknya, tapi juga kepastian mengenai jam kedatangan dan keberangkatan angkutan umum dari Denpasar-Singaraja. Di tambah lagi bagi orang yang pertama kali berkunjung pasti akan bingung seribu kali.
Untuk kesekian kalinya saya membuktikan branding itu perlu dihidupkan, seperti white coffee Ipoh---meski saya bertanya-tanya di mana perkebunan kopinya? Kata driver online yang kendaraannya saya tumpangi, itu rahasia dan saya juga tidak tahu. Hanya tahu pabriknya saja. Dan saya beruntung diantar sampai ke depan pintu pabtiknya yang penuh CCTV dan sangat luas.
Bali brandingnya seni-budaya, kopi punya, danau ada, goa ada, pantai banyak, terus apa yang salah? Mungkin saja literasi wisata kita rendah, hanya menunggu tamu yang datang, tak memikirkan inovasi. Belum lagi urusan transportasi yang selalu amburadul tak berujung pangkal---angkutan online, offline, pada akhirnya kita akan offside mungkin, karena kebanyakan istilah tanpa aksi yang nyata.[T]
Penulis dan Foto-foto: Nyoman Nadiana Editor: Jaswanto
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...