Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
PAGI di kota kecil itu selalu datang dengan langkah lembut. Kabut tipis menari di antara sawah yang baru disiram embun. Suara ayam dan desir angin dari arah perbukitan seperti lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan.
Di ujung jalan kampung, seorang pemuda melangkah pelan sambil menenteng buku sketsa dan tas kain berisi cat air. Namanya Dimas; seorang seniman sederhana yang hidup dari kelas menggambar anak-anak dan pesanan kecil dari kios-kios di pasar. Ia bukan seniman besar, tapi di setiap coretannya ada kesetiaan pada kehidupan, pada kenangan, dan pada seseorang yang diam-diam masih ia cintai.
Pagi itu, seperti biasa, ia menuju pasar kecamatan, bukan untuk berbelanja, tapi untuk menangkap denyut kehidupan. Pasar itu bukan sekadar tempat bertukar barang, tapi juga tempat bertukar cerita. Para ibu menawar harga cabai, anak-anak menatap warna kembang gula, dan suara tukang becak bersahutan dengan musik dangdut dari warung kopi.
Dimas membuka buku sketsanya di pojok warung, menatap wajah-wajah yang lelah tapi tulus. Ia menulis di bawah salah satu gambar pedagang sayur: “Di wajah mereka, aku belajar tentang bertahan. Dalam tawa mereka, aku belajar tentang syukur.”
Sore itu, angin membawa kabar lama: Rara pulang. Ia sahabat masa kecil Dimas, teman berlari di pinggir sawah, teman menulis nama di pasir sungai, teman yang diam-diam ia cintai tapi tak pernah ia miliki.
Rara kini bekerja di Jakarta sebagai penata acara. Pulangnya kali ini, katanya, untuk membantu pertunjukan seni desa. Ketika Rara datang ke sanggar sore itu, cahaya sore seperti menunduk.
Dimas terpaku, waktu seperti mundur, dan aroma tanah basah kembali membawa wajah masa kecil.
“Masih menggambar awan?” tanya Rara sambil menyentuh kuas di meja.
“Masih,” jawab Dimas pelan. “Tapi sekarang awannya lebih banyak hujan.”
Rara tersenyum. “Hujan itu kan juga bentuk cinta, Dim. Hanya saja ia tak menetap.”
Beberapa hari berikutnya, mereka sering berjalan bersama. Rara ingin melihat kehidupan desa dengan mata yang dulu sempat ia tinggalkan.
Suatu pagi mereka ke pasar kecamatan. Rara menenteng kamera kecil, sementara Dimas membawa buku sketsa.
“Kau tahu,” kata Rara sambil mengabadikan suasana, “dulu aku selalu berpikir kota adalah tempat orang sukses. Tapi lihat ini… kehidupan sederhana pun punya cahaya.”
Dimas tersenyum. “Kau baru menyadarinya sekarang? Di sini, orang tak banyak bicara tentang sukses. Mereka bicara tentang cukup, dan hati yang tenang.”
Mereka berhenti di warung kopi. Seorang pedagang tua menawari tempe goreng dan teh panas. Dimas memesan dua gelas.
“Mas Dimas ini sering menggambar di pasar,” kata si pedagang ramah. “Tiap kali lihat saya, dia selalu bilang, wajah bapak ini penuh cerita.”
Rara tertawa.
“Masih suka menggoda orang dengan kata-kata, ya?”
Dimas menjawab ringan, “Bukan menggoda, Ra. Cuma mencoba menulis hidup dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan makna.”
Menjelang sore, mereka menuju balai desa. Malam nanti akan ada pertunjukan wayang kertas, tradisi lama yang nyaris punah, dimainkan anak-anak sanggar Dimas. Rara diminta membantu menata lampu dan musik.
Di panggung sederhana, anak-anak sibuk mempersiapkan layar putih dari kain bekas dan potongan kardus bergambar tokoh pewayangan. Rara mengamati mereka dengan mata yang berbinar.
“Indah sekali, Dim. Mereka percaya bahwa imajinasi bisa menyala, bahkan tanpa listrik yang sempurna.”
“Ya,” jawab Dimas. “Di sini, yang penting bukan hasilnya, tapi semangatnya. Hidup juga begitu.”
Malam pun turun. Lampu petromaks menyala, menebar cahaya kuning lembut. Warga desa datang membawa tikar dan anak-anak kecil. Musik gamelan sederhana mulai mengalun, dan bayangan tokoh wayang kertas menari di layar putih.
Di tengah pertunjukan, Rara memandang Dimas yang duduk di antara anak-anak. Wajahnya diterangi cahaya obor. Ada ketenangan di sana, ketenangan yang tak pernah ia temui di kota. Dalam hati ia berkata pelan: “Tuhan, mungkin aku yang dulu terlalu cepat berlari, meninggalkan tempat yang sebenarnya memelihara jiwa.”
Usai pertunjukan, mereka berjalan pulang melewati jalan desa yang sunyi. Bulan menggantung di atas pohon jati.
“Terima kasih, Dim. Aku seperti menemukan lagi bagian diriku yang hilang,” kata Rara. “Bagian yang mana?” “Yang bisa bahagia hanya dengan duduk, tanpa harus membuktikan apa-apa.”
Dimas menatapnya, lalu berkata pelan, “Rara, kadang kita memang harus kehilangan arah dulu, baru tahu ke mana seharusnya pulang.”
Rara tersenyum. “Kau selalu punya cara membuat kalimat jadi doa.” “Karena hidupku sendiri adalah doa yang tak selesai.”
Mereka berhenti di tepi sawah. Angin malam membawa suara jangkrik. Dimas memandang langit, lalu berkata dalam hati: “Rara, mungkin aku bukan rumah tempat kau pulang. Tapi biarlah aku jadi jendela, tempat kau melihat dunia dengan tenang, meski sebentar.”
Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pertunjukan desa usai, Rara bersiap kembali ke Jakarta. Pagi sebelum ia berangkat, ia datang lagi ke sanggar. Di meja, terbuka buku sketsa Dimas. Di halaman terakhir, ada gambar dua orang berdiri di bawah pohon jati, tidak berpegangan, tapi berdampingan.
Di bawahnya tertulis: Ku ingin kau tahu, aku masih di sini. Bukan menunggu, tapi menjaga sesuatu yang dulu pernah indah.
Rara menatap tulisan itu lama.
“Dim, kau tahu… aku iri. Kau bisa setia bahkan pada sesuatu yang tak lagi ada.”
Dimas tersenyum samar. “Setia bukan soal waktu, Ra. Tapi tentang kesediaan hati untuk tidak membenci apa yang telah pergi.”
Ketika Rara melangkah pergi, Dimas menatap punggungnya hingga hilang di tikungan jalan yang basah oleh embun. Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:
“Aku tidak menyesal pernah mencintainya. Cinta ini mungkin tak sampai, tapi ia membuatku lebih mengerti arti memiliki tanpa menggenggam.”
Malam itu, di sanggar yang senyap, Dimas menulis kalimat terakhir di buku hariannya:
Jika suatu hari kau merasa sendiri di tengah kota, lihatlah ke langit senja, mungkin di sana, warna jingganya masih menyimpan namamu.
Dan di bawah cahaya lampu minyak, Dimas menutup matanya. Tak ada tangis, tak ada sesal. Hanya senyum kecil dari seorang yang akhirnya memahami bahwa
cinta sejati tak perlu tahu akhir, cukup tahu bahwa ia pernah benar-benar ada. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...