Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Made Bryan Mahararta
by Made Bryan Mahararta — Desember 27, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Dalih Pembangunan, Tambang Dilegalkan

Di negeri khatulistiwa,
yang disebut zamrud
hilangnya hijau pepohonan
dari izin ke izin
dari tangan ke tangan
namun tak kunjung
memberikan keteduhan

Di ruang kekuasaan paling riuh menggema,
dasar kebijakan diucapkan seperti mantra suci
dalih pembangunan, tambang dilegalkan
atas nama pertumbuhan ekonomi
angka-angka disusun rapi

Di depan meja konferensi itu,
seolah kebijakan tak pernah bermasalah
laut naik perlahan menelan kampung nelayan
banyak tanah longsor
melenyapkan harta paling sederhana

Rakyat belajar bertahan,
sementara negara belajar berdalih
kita bukan kekurangan regulasi
melainkan hilangnya rasa empati
dan kesadaran politik menggunakan hati

Padahal kita semua tahu,
bencana tak pernah netral
bahkan berpihak pada kelompok tertentu

Untuk melindungi bumi yang semakin rapuh,
ekologi yang rusak bukanlah arsip kekuasaan
mengapa negeri yang gemah ripah loh jinawi
tak mampu menjaga rumahnya sendiri?

(Jakarta, 2025)

Bencana Ekologis

Bumi bukan oposisi,
bagi mereka yang masih menjaga moral
namun terus saja masih disangkal

Bumi tak ikut pemilu,
bagi mereka yang tak mau tahu
sampai hasilnya membawa pilu

Suatu hari,
mendengar kabar adanya bencana
sekelompok generasi maju bertanya:
mengapa kekuasaan yang rakus
lebih dilindungi daripada peradaban?

Dan di antara reruntuhan kota pesisir,
di bawah langit yang berubah anasir
bahwa bencana ekologis
bukan sekedar takdir
melainkan keputusan politik
yang terlambat dan menimbulkan pelik

(Jakarta 2025)

Ratap Bumi

Bumi,
bukan terluka tiba-tiba
ia terluka secara perlahan
oleh tangan-tangan yang lupa

Bumi,
juga punya ingatan
ia adalah rumah paling nyaman
namun kini tinggallah kenangan

Hutan gugur tanpa melihat musim,
sungai menangis tanpa sempat berkeluh
janji hanya sebatas janji
luberan sampah sampai airnya menjadi keruh

Ikan-ikan berenang tak tahu arah,
mati begitu saja sambil menunggu berbenah
nurani manusia yang lupa pada asalnya
sebagai sebuah tanda yang kita sebut bencana

Banjir adalah surat peringatan,
tanah longsor adalah beban keserakahan
mereka bilang ini musibah,
mereka tidak bilang ini ulah manusia

jika suatu hari bumi benar-benar diam
bukan karena ia kehabisan suara
tetapi karena kita tak pernah mau belajar
dari tanda-tanda yang sudah diperlihatkan

(Jakarta, 2025)

Ketika Bumi Tak Henti Menangis

Di ruang-ruang berpendingin udara,
peta dunia terbentang rapi
garis batas negara digambar tebal
bagaimana dengan isi hati bumi?

Laut naik setinggi janji kampanye,
namun tak pernah surut bagai sesumbar reklame
hutan tumbang lebih cepat
siapa yang mau peduli hasil rapat?

Para pemimpin sibuk berdiskusi,
sampai lupa bahasa intuisi
dibalik fenomena pertumbuhan
antara grafik dan statistik
yang selalu diperdebatkan

Lihatlah kini bumi terengah-engah,
mencari jeda untuk bisa bernapas
Krisis iklim nyata semakin parah
seolah bencana masih bisa ditunda
hingga masa periode berikutnya

Petani dipaksa meramalkan cuaca
emisi dihitung sebagai kompromi politik
satu keluarga kehilangan tanah
keluarga yang lain tak merasa bersalah.

Jika kebijakan adalah kalkulasi kekuasaan,
tambang dibuka atas nama pembangunan
sungai yang mengering sampai pembalakan lahan
kepada siapa kami harus mengadu pembenahan?

Dan ketika banjir datang membawa murka,
negara menyebut ini sebagai musibah
mengacuhkan diri atas ulah kejahatan
rumah mereka hancur
menghanyutkan mimpi dan juga masa depan

(Jakarta, 2025)

Tiada Harmoni Tanpa Empati

Di lereng Gunung Agung,
air suci mengalir ke subak-subak tua
membawa titah para leluhur
tentang hidup yang harus seimbang

Petuah meyakini Tri Hita Karana:
Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan
dengan lantunan kidung dan wanginya tumbuh-tumbuhan
sawah menghilang tanpa ada sebuah keadilan

Bukankah subak adalah kitab hidup,
yang ditulis oleh manusia dan semesta?

Petani terdesak, nelayan terdampak
dan anak-anak Bali dipaksa tumbuh
antara beton dan limbah korporasi
nihilnya kemajuan tanpa hadirnya welas asih
adalah kemiskinan jiwa yang telah terdistrosi

Tuhan,
jika bencana datang ke pulau kecil ini
jangan biarkan kami hanya menyalahkan takdir

Sebab kami tahu,
tiada harmoni tanpa empati
ketidakseimbangan alam oleh kebencanaan

Ajarkan kami kembali Tri Hita Karana,
sebagai jalan hidup generasi muda Bali
menjaga gunung sebagai hulu suci
memuliakan laut sebagai muara ibu pertiwi
agar generasi kami
tak lagi sibuk berdoa meratapi hari

(Jakarta, 2025)

Tobat Ekologis

Tuhan,
kami bersimpuh bingung tak karuan
tanah merekah bukan karena haus iman
melainkan musibah karena keserakahan

Dalam sepi kami baca ayat-ayat-Mu,
namun lupa membaca tanda-tanda-Mu

Apa yang mereka sebut sebagai kemajuan,
hutan gundul ulah pembangunan
sungai keruh bercampur limbah lumpur
air bah datang sebabkan rumah kami hancur

Melihat anak-anak meratapi masa depan,
bukan hanya karena lapar
tapi ketiadaan tempat tinggal

Tuhan,
ijinkan kami memohon keselamatan
ajarkan pula kami bertobat dalam segala kekhilafan
sebab iman tanpa kasih adalah hampa
dan ibadah tanpa memikirkan kemanusiaan
adalah gema tanpa menghadirkan makna

Tuhan,
ketuklah hati para pemimpin negeri
untuk senantiasa menggunakan hati
menjaga yang lemah,
merawat yang hidup,
saling berbagi
agar bumi tersenyum kembali

(Jakarta, 2025)

Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Made Bryan Mahararta

Related Posts