Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
DUNIA seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak perupa muda hanya menjadi epigon, tanpa memiliki pendirian jelas.
Di Bali, ratusan pelukis muda bermunculan, berebut posisi dengan berbagai cara. Ada yang datang, ada yang hilang. Seperti kata pepatah: mati satu, tumbuh seribu. Tentu hukum seleksi alam sangat ketat dalam rimba belantara seni rupa mutakhir. Yang kuat dari segi gagasan, keterampilan teknis, memiliki ketekunan, punya peluang terus bertahan. Yang lemah dan plintat-plintut dipastikan akan tergerus zaman.

I Ketut Suasana alias Kabul termasuk salah satu perupa yang gigih berebut posisi. Ada keinginan kuat dan berbagai percikan impian dalam dirinya, untuk terus melangkah dengan mantap menjadi perupa yang diperhitungkan. Energi kreatifnya terus meletup-letup. Dalam upaya merebut posisi, tentu saja dia tidak mau ikut-ikutan trend pasar seni rupa terkini. Dia bukan tipe perupa yang mudah didikte oleh selera pasar.
Kabul lahir di Apuan, Tabanan, 30 Desember 1978. Dia menamatkan pendidikan seni rupa di ISI Denpasar. Sejak 2003, dia rajin terlibat dalam banyak pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggalnya antara lain "Suasana Lebah" di Sudana Gallery, Ubud, Bali (2009) dan "Suhu Lebah" di Maha Art Gallery, Renon, Bali (2010).
Di zaman mutakhir ini, Kabul merupakan salah satu contoh seniman yang masih hidup dalam dua kutub besar yang tarik menarik, antara tradisi dan modern. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan baginya. Misalnya, dia ikut ngayah (kerja sukarela) membuat barong di Pura Natar Sari, Apuan, Tabanan, untuk memenuhi panggilan tradisi dan relegi.
Atau pada waktu lain dia menyibukkan diri menjelajahi berbagai kemungkinan yang ditawarkan seni rupa modern, melalui pergulatan dalam penguasaan keterampilan teknis, pemikiran dan perenungan mendalam dari letupan-letupan gagasan. Bias-bias seni tradisi dan modern seringkali muncul saling melengkapi dalam lukisan-lukisan awalnya. Bagaimana pun juga manusia tidak bisa sepenuhnya lari dari “ibu tradisi”.

Dalam melukis, Kabul cenderung mengikuti selera dan naluri jiwanya. Letupan-letupan gagasan seringkali menari-nari di kepalanya yang kemudian muncul melalui karya-karyanya. Selain berbekal ketrampilan teknis yang memadai, Kabul berupaya menggali gagasan dari banyak membaca dan menggerakkan seluruh inderanya.
Hal itu bisa dilihat pada lukisan-lukisan terkininya yang dipamerkan di Kelir Art Gallery, The Kayon Jungle Resort, Payangan, Gianyar, Bali. Pameran bertajuk “Suasana Lebah” itu digelar dari tanggal 1 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, menampilkan lebah sebagai simbol dan metafora untuk melihat kondisi zaman.
Kabul telah lama tertarik pada keindahan lebah, terlebih lagi kehidupan lebah yang sarat semangat kebersamaan. Secara serius Kabul mempelajari filosofi kehidupan lebah, serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, yakni dari telur, larva, kepompong (pupa) dan lebah.
Menurut Kabul, lebah termasuk serangga yang sangat unik. Umumnya lebah hidup berkelompok, meski ada juga jenis lebah yang suka hidup menyendiri (soliter). Lebah tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Masyarakat lebah mengenal pembagian kerja. Lebah ratu yang hanya satu ekor dalam setiap koloni bertugas mengatur semua kegiatan lebah betina dan pejantan. Lebah ratu mampu hidup hingga tiga tahun, tugas utamanya kawin dan bertelur.


Lebah betina atau lebah pekerja bertugas mengumpulkan serbuk sari dan nektar untuk diolah menjadi madu yang disimpan dalam sarangnya. Lebah betina yang lain bertugas membersihkan sarang dan menjaga anak-anak lebah. Masa hidup lebah pekerja sekitar tiga bulan. Lebah betina terbentuk tanpa melalui perkawinan dan mandul. Lebah jantan bertugas mengawini lebah ratu dan mati setelah kawin.
Dunia lebah memang sangat mengagumkan. Misalnya, lebah mampu membuat sarang yang sangat rumit dan artistik. Itulah salah satu keahlian yang diberkati semesta kepada lebah. Meski bertubuh kecil, lebah mampu bekerjasama dan menyelesaikan tugas-tugas besar untuk suatu tujuan bersama. Manusia belum tentu mampu menyaingi koloni lebah dalam urusan kerjasama atau kehidupan sosial. Karena manusia masih diselimuti ego individu. Bagi lebah, hidup adalah bekerja, tanpa kenal istirahat, demi kepentingan dan kebaikan bersama. Mungkin, begitu juga bagi Kabul.
Seluruh lukisan Kabul berkisah tentang dunia dan suasana lebah. Secara umum kecenderungan visual lukisan Kabul bisa dipilah menjadi bentuk-bentuk abstraksi dan deformatif. Kecenderungan abstraksi terlihat pada upaya-upaya Kabul menciptakan efek-efek stilisasi atau pengayaan formasi-formasi kerumunan lebah. Irama yang cenderung repetitif berpadu dengan komposisi warna, garis, bidang sehingga melahirkan kedinamisan. Terkadang sapuan-sapuan warna yang membentuk latar dibuat secara acak sesuai naluri arus bawah sadarnya. Pilihan warna-warna tertentu mewakili perasaan Kabul pada setiap sesion lukisannya.
Hal itu, misalnya, bisa dilihat pada lukisan berjudul “Populasi Lebah 1” (150 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2023) yang mengisahkan kerumunan lebah sedang terbang melintasi langit biru. Atau, kecenderungan abstraksi pada komposisi lukisan bisa dinikmati pada karya berjudul “Abstraksi Alam Lebah 1” (140 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025). Dalam lukisan ini, Kabul memainkan komposisi kerumunan lebah yang sedang terbang dipadukan dengan garis-garis warna-warni yang menyerupai sulur-sulur halus.

Hal senada juga tampak pada lukisan “Abstraksi Alam Lebah II” (120 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025) dan “Abstraksi Alam Lebah III” (150 x 120 cm, akrilik di kanvas, 2025). Permainan komposisi yang menarik juga terlihat pada lukisan “Planet Lebah” (150 x 200 cm, akrilik di kanvas, 2025). Begitulah. Melalui lukisan-lukisan dengan subjek matter lebah, Kabul mengajak apresian untuk kembali merenungi kehidupan lebah. Terlebih dalam zaman yang serba individualis ini. [T]
Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...