Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Tanggal 21 Desember menandai winter solstice, saat malam mencapai puncak terpanjang dan siang berada pada titik terpendek. Dalam banyak tradisi kuno, momen ini dipandang bukan sebagai kemenangan kegelapan, melainkan sebagai rahim keheningan tempat cahaya baru dilahirkan. Dari kesenyapan terdalam, kesadaran justru menemukan jalannya kembali.
Makna kosmis inilah yang mengiringi penetapan 21 Desember sebagai Hari Meditasi Sedunia oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi A/RES/79/137, tahun 2024 lalu. Penetapan ini bukan kebetulan kalender, melainkan pernyataan simbolik yang kuat: dunia modern yang bising, cepat, dan terfragmentasi membutuhkan jeda batin—bukan sekadar solusi instan, tetapi transformasi kesadaran.
Meditasi kerap disalahpahami sebagai aktivitas fisik: duduk bersila, memejamkan mata, mengatur napas. Padahal, sebagaimana ditegaskan Guruji Anand Krishna, meditasi bukanlah sesuatu yang kita lakukan, melainkan sesuatu yang terjadi, sebuah kejadian, suatu keadaan. Ia bukan duduk diam berjam-jam tanpa gerakan, melainkan kejadian batin ketika pikiran berhenti berpikir dan kesadaran melampaui manomaya kosha, yang dimaknai Guruji sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya seperti obsesi, memori, halusinasi dan sebagainya. Ini sejalan dengan ungkapan Osho (Bhagavan Shree Rajnesh): Meditation is beyond mind. No mind.

Bahkan, dalam sebuah model Yoga Sutra Patanjali yang sangat populer, angga atau bagian ke satu sampai ke enam: Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara dan Dharana, dikatakan sebagai: Thing you do, sedangkan bagian ke tujuh dan ke delapan yakni: Dhyan atau meditasi dan Samadhi dikatakan: Thing happens to you. Artinya Meditasi dan Samadhi sebagai hasil dari disiplin yang terjadi setelah melakoni keenam angga secara holistik, khususnya Yama dan Niyama sebagai pondasi utama. Bukan sekedar Asana, dan dengan mengantongi beberapa sertifikat, sudah menyebut diri seorang Yogi, serta kebelet ingin mengajar Yoga.
Dalam keadaan meditativeness ini, tindakan manusia tidak lagi lahir dari reaksi otomatis, ego, atau ambisi sempit. Ia mengalir selaras dengan alam dan kehidupan—yang oleh berbagai tradisi spiritual dipahami sebagai manifestasi dari Dia Hyang Satu adanya, Hyang hadir dalam segala sesuatu di atas bumi ini, flora, fauna, gunung, sungai, laut, dan seisi alam lainnya.
Karena itu, Hari Meditasi Sedunia bukan perayaan ritual biasa, melainkan perayaan kemungkinan manusia untuk hidup menggapai tujuan tertinggi, melalui jalan meniti ke dalam diri. Perayaan yang mengingatkan kita semua bahwa kebahagiaan itu sudah ada dalam diri, tetapi kita justeru mencarinya di luar diri. Inilah perayaan universal yang melampaui sekat keyakinan, kebangsaan, ideologi dan melampaui sekat negara. Perayaan Warga Bumi.
Dalam lanskap kesadaran global inilah Yayasan Anand Ashram menempati posisi penting. Sejak tahun 1991—tahun transformasi spiritual Guruji Anand Krishna—Anand Ashram berkomitmen menyebarkan meditasi sebagai gaya hidup, bukan ritual eksklusif, apalagi dogma keagamaan.
Meditasi bukan duduk diam, tarik napas perlahan, bukan pelarian dari dunia, melainkan cara hadir sepenuhnya di dalam dunia: bekerja dengan perhatian, berbicara dengan welas asih, dan bertindak tanpa kekerasan—baik terhadap sesama, alam, maupun diri sendiri. Melalui yayasan dan jaringan kegiatannya, Anand Ashram juga berkontribusi dalam ekosistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya pada isu perdamaian, pendidikan nilai, dan kesehatan holistik. Ini menegaskan meditasi sebagai praktik kemanusiaan universal.

Minggu, 21 Desember 2025, Boddhicitta Hall di Anand Ashram Ubud dipenuhi lebih dari seratus peserta. Mereka datang dari berbagai penjuru Bali—Ubud, Denpasar, Kuta, Tabanan, Singaraja—bahkan dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Perayaan Hari Meditasi Sedunia ke-2 ini mengusung tema: Samskriti Sindhu. Sebuah perayaan kebersamaan warga bumi sebagai pewaris budaya Nusantara dan sekaligus peradaban agung Sunda Sindhu Saraswati.
Sebagaimana dijelaskan Guruji Anand Krishna dalam Sindhu Samskriti, Sindhu—yang jejaknya hadir dalam kata Shintuh, Shinto, Hindu, Indus, Indo, hingga Hindia—merupakan peradaban tertua di dunia yang masih hidup. Ia membentang dari Persia, Asia Selatan, Tibet, Asia Tenggara, hingga Nusantara. Lebih dari sekadar wilayah geografis, Sindhu adalah filsafat hidup atau Dharma yang bersifat Sanatana: langgeng dan universal.
Sebagai pewaris Sindhu, manusia diajak melampaui fanatisme, membebaskan diri dari rasa takut dan dogma, serta bertanggung jawab atas setiap perbuatan melalui hukum sebab-akibat. Dalam doa-doa Sindhu, yang dimohonkan bukan hanya keselamatan kelompok sendiri, tetapi kesejahteraan seluruh umat manusia, Sarve Bhavantu Sukinah.

Perayaan Samskriti Sindhu diisi dengan latihan meditasi, chanting, aarati, fire purification, musik, dan tari. Namun suasana yang terasa bukanlah pertunjukan satu arah. Setiap nyanyian dan gerak adalah persembahan kepada Dia Hyang Satu adanya, dengan nama apa pun Ia disapa.
Pengisi acara berasal dari berbagai kalangan: anak-anak One Earth School, peserta Anand Krishna Center Singaraja, Kuta dan Tabanan, serta para pemuda dari Youth Anand Ashram. Musik dan tarian yang ditampilkan merentang dari Sumatra hingga Papua, dari Nusantara hingga Persia dan India—sebuah penegasan bahwa keberagaman bukan pemisah, melainkan ekspresi dari satu sumber yang sama.

Perayaan ini ditutup dengan santap malam bersama—sebuah simbol sederhana namun bermakna tentang kebersamaan. Meditasi, dalam semangat Anand Ashram, tidak berhenti di ruang hening. Ia diuji justru ketika kita kembali ke kehidupan sehari-hari: di dapur, di kantor, di jalan raya, bahkan di ruang konflik.
Hari Meditasi Sedunia adalah pengingat bahwa krisis global berakar pada krisis kesadaran. Tanpa transformasi batin, perubahan struktural hanya akan mengulang pola lama dengan wajah baru. Meditasi sebagai kejadian kesadaran memungkinkan lahirnya tindakan yang tidak merusak, tidak rakus, dan tidak memaksa—tindakan yang selaras dengan hukum alam.
Selain di Anand Ashram Ubud, perayaan Hari Meditasi Sedunia juga berlangsung di One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre Ciawi Bogor serta Anand Krishna Centre Joglosemar, yang mewadahi Jogyakarta, Solo dan Semarang. Semua terhubung oleh satu visi: One Earth One Sky One Humankind (Satu Bumi Satu Langit Satu Kemanusiaan), dan satu misi: Inner Peace Communal Love Global Harmony (Kedamaian Diri, Cinta Kasih Harmoni Global).
Maka, Hari Meditasi Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah undangan lembut untuk menjaga keadaan meditasi tetap hidup—bukan sekali setahun, tetapi setiap hari. Dalam cara kita berjalan, berbicara, memilih, dan bertindak. Dalam kesadaran bahwa kita semua berada dalam tarian kosmik yang sama. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...