Kepedulian terhadap korban bencana pasca Siklon Tropis Senyar November lalu yang memberikan dampak banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh ditunjukkan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Loka Samgraha Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bersama Siswa Pecinta Alam (SISPALA) SMA Negeri 1 Tejakula melalui aksi penggalangan dana di ruang publik Kota Singaraja.
Ketua SISPALA Tejakula, I Putu Widi Adnyana, menyampaikan bahwa kegiatan ini dilandasi rasa empati karena para relawan juga pernah merasakan dampak bencana serupa.
“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membantu saudara-saudara kita di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Kita juga di Bali pernah terdampak bencana pada 10 September sebelumnya, jadi kita tahu bagaimana rasanya kehilangan dan kesulitan setelah bencana,” ujar Widi.
Sementara itu, perwakilan MAPALA Loka Samgraha Undiksha, Ni Wayan Devina, menjelaskan bahwa pemilihan wilayah Sumatera sebagai fokus bantuan dilakukan berdasarkan urgensi kondisi lapangan.
“Kami memilih Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh karena melihat kondisi di sana yang benar-benar mendesak dan sangat membutuhkan bantuan saat ini,” jelas Devina.
Aksi penggalangan dana dilakukan melalui dua metode, yakni donasi langsung di jalan serta transfer, dengan dua titik utama kegiatan di perempatan McDonald’s Singaraja dan perempatan Pantai Penimbangan. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa MAPALA Undiksha dan siswa SISPALA Tejakula, serta mendapat respons positif dari masyarakat.
Selain mengumpulkan donasi, relawan juga menyampaikan orasi kemanusiaan berbasis data dan fakta lapangan mengenai dampak bencana di Sumatera, mulai dari kerusakan rumah warga, terputusnya akses komunikasi, hingga kesulitan logistik.
“Orasi yang kami sampaikan berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan. Kami ingin masyarakat tahu kondisi nyata saudara-saudara kita di Sumatera,” tambah Widi.
Donasi yang dihimpun bersifat sukarela tanpa batasan jumlah. Hingga akhir kegiatan, total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai:
Rp 5.617.700 dari aksi galang donasi di jalan
Rp 2.889.000 dari SISPALA Bhuana Kerti melalui penggalangan dana di SMA Negeri 1 Tejakula
Rp 300.000 dari rekening penggalangan dana.
Sehingga total sementara donasi yang terkumpul sebesar Rp 8.806.700 (Delapan Juta Delapan Ratus Enam Ribu Tujuh Ratus Rupiah).
Dana tersebut akan disalurkan melalui Forum Komunikasi Pecinta Alam (FKPA) Bali, kemudian diteruskan melalui jaringan koordinasi pecinta alam tingkat nasional dan daerah hingga sampai kepada korban bencana di Sumatera. Penyaluran dilakukan dengan mekanisme pelaporan sebagai bentuk transparansi.
Devina berharap bantuan yang dikumpulkan benar-benar dapat dimanfaatkan oleh korban bencana.
“Kami berharap dana yang terkumpul ini bisa sampai kepada masyarakat korban bencana dan digunakan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sementara itu, Widi juga menyampaikan pesan reflektif kepada masyarakat luas terkait hubungan antara bencana dan kerusakan lingkungan.
“Kami berharap masyarakat kedepannya lebih peduli terhadap alam dan tidak semena-mena merusak lingkungan. Bencana seperti ini adalah pengingat bagi kita semua,” tutupnya.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata solidaritas generasi muda Bali dalam merespons bencana di daerah lain yang hingga saat ini masih dalam tahap pemulihan pasca bencana, sekaligus menegaskan peran organisasi pecinta alam dalam aksi kemanusiaan dan kepedulian terhadap alam. [T][R]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...