Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
“Panjang umur karya, panjang umur kita dalam sebuah karya.”
Ungkapan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan napas panjang yang seolah mengawal perjalanan Gala Resonant—sebuah karya musik eksperimental yang mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi elektroakustik. Penggagas Gala Resonant, yaitu Muhammad Giffary, dibantu Wahyu, Gilang, dan Nazir, karya ini melintasi batas ruang akademik dan merambah panggung-panggung nasional, bahkan mulai berbicara tentang kemungkinan melangkah lebih jauh ke panggung internasional.
Gala Resonant lahir sebagai Tugas Akhir Giffary untuk menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Pada titik itu, ia hanyalah sebuah karya syarat kelulusan. Namun sejak kemunculan perdananya, sudah terasa bahwa karya ini tak akan berhenti di meja penguji. Giffary memiliki keberanian untuk meracik tradisi dengan eksperimen elektroakustik, sebuah pertemuan yang tidak selalu mudah diterima, tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Karya itu mulai bergerak sendiri—menyeberang dari ranah Minang ke pulau-pulau lain. Undangan demi undangan datang, mengajak Gala Resonant tampil dalam berbagai gelaran music dan pameran karya. Tidak lama kemudian, ia menapaki tour kecil ke tiga kota: Cirebon, Solo, dan Jakarta. Tour yang sederhana, namun bermakna: membuktikan bahwa karya eksperimental tidak hanya untuk kalangan akademisi atau pelaku seni.
Justru ia membuka pintu refleksi bagi siapapun yang mendengarnya. Ada ruang yang terasa personal bagi penonton luar Minang, seakan bunyi-bunyi itu memanggil memori-memori yang tak mereka ketahui ada di dalam diri.
Gala Resonant bertumpu pada Pupuik Gadang, alat musik tiup tradisional Minangkabau yang suaranya kerap digunakan dalam ritual atau momen-momen tertentu dalam budaya lokal. Dari bunyi dasar itu, Giffary merajut spektrum frekuensi melalui teknik spectral, menggunakan pendekatan elektroakustik yang jarang disentuh dalam konteks musik tradisi Indonesia.

Bayangkan bunyi yang biasanya hidup dalam lanskap perbukitan atau nagari, kini berdialog dengan gelombang digital—tidak saling menelan, tetapi saling memperluas. Giffary membuatnya seperti dua dunia yang awalnya tampak bertentangan, namun ternyata memiliki ruang pertemuan yang luas ketika disentuh dengan kepekaan.
Ketika Gala Resonant semakin banyak menerima tawaran tampil, Giffary merasa perlu membangun rumah ide. Lalu lahirlah Api-Api, sebuah proyek induk yang namanya muncul dari percakapan-percakapan santai di sekitar api unggun. Mereka berbicara tentang perjalanan karya, tentang keberlanjutan, tentang bagaimana sebuah karya tidak boleh berhenti di satu titik saja.

Api-Api menjadi payung yang menaungi perjalanan Gala Resonant ke berbagai kota, khususnya di tanah Jawa. Dari sana, karya ini tidak hanya berjalan, tetapi juga tumbuh, menyesuaikan diri dengan ruang di mana ia diperdengarkan.
Bagi Giffary, seni adalah organisme yang terus berubah. Karena itu, tiap pertunjukan Gala Resonant selalu berbeda. Ia menjaga spontanitas sebagai prinsip kerja. Setiap panggung adalah ruang eksperimen baru, sekaligus ruang dialog dengan penonton yang berbeda-beda.
Dalam membangun pertunjukan, Giffary sering memosisikan dirinya sebagai orang yang tak mengerti musik sama sekali—sebuah cara untuk merasakan lapisan ketidakmengertian penonton dan berusaha menembusnya. Ia ingin membawa siapapun yang datang menonton merasa diperhatikan, merasa disapa oleh bunyi, bukan didikte.
Ia juga menyisipkan isu sosial yang relevan dengan tempat ia tampil. Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi cara agar seni tetap berpijak ke tanah yang sedang diinjak.
Penampilan di Kios Ojo Keos, Jakarta (Selasa, 2/12/2025), menjadi salah satu momen penting. Saat itu, ranah Minang sedang dilanda banjir, sementara Jakarta sibuk dengan denyut kotanya yang tak pernah berhenti. Giffary menangkap dua realitas itu dan menggabungkannya dalam pertunjukan.
Pertunjukan dibuka dengan bunyi yang menggambarkan keriuhan kota—suara kendaraan, ritme mesin, dan kepadatan yang terasa menghimpit. Lalu masuklah gema Pupuik Gadang yang lantang, seperti seruan yang memanggil pulang atau mengingatkan akan sesuatu yang jauh—Ranah Minang.
Keduanya bertabrakan, menyatu, lalu saling menekan, menciptakan lanskap bunyi yang memaksa penonton merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar suara.
Hajar sebagai penampil mengungkapkan, baginya yang menarik yaitu di penampilan Gala Resonant ada eksplorasi musik di berbagai level, seperti dari instrumentasi ada tradisi, barat, eksperimental, dan interpretasi terhadap tradisi.
“Pas performnya, sound dan penampilan dari instalasinya mengingatkan ke fenomena bis telolet dengan segala suara dan lampu-lampunya juga. Tapi enggak tahu apakah ada mengarah ke situ juga atau enggak,” ungkap Hajar.
Selain itu, Hajar juga berpendapat bahwa pada pertunjukan Gala Resonant mungkin ada beberapa momen dimana suara dari instalasinya kurang "nyampur" dengan bunyi lain. Tapi barangkali hal itu lebih ke urusan teknis mixing/live sound. Barangkali juga karena pengaruh tempat yang ruangnya kecil. Mungkin jika ada jarak antar instalasi dan penonton akan terasa lebih nyampur.
Di beberapa bagian, Giffary memasukkan unsur Elektronic Dance Music, seakan membiarkan Gala Resonant melihat cermin Jakarta yang gelap dan modern. Talempong Pacik ikut mengisi ruang, membuat tekstur bunyi semakin padat.
Sementara itu, isu banjir Minang hadir melalui melodi gitar yang menyayat. Petikan halus yang membawa perasaan pilu dan gelisah—perasaan yang muncul bukan karena narasi verbal, tetapi karena bunyi itu sendiri membawa tubuh penonton kepada empati.

Sementara itu, Ali sebagai salah satu performer dan penonton juga mengungkapkan bahwa manipulasi suara, ke kulikan pribadi, atau membuat alat sendiri memang selalu sangat menarik, karena dari alat dan kreasi imajinasi yang ada, dapat menimbulkan warna-warna lain. Namun ketika bermain, kadang beda lagi dalam artian ada sensasi bawaan atau pendekatan lain ketika berinteraksi dengan alat.
Bukan hanya dari sisi suara yang dihasilkan, Ali juga mengungkapkan pendapatnya dari sisi teatrikal pemusik Gala Resonant. Menurutnya, hal itu juga harus diperhatikan dalam setiap aksi panggung, karena hal itu menjadi kesatuan yang utuh dalam, sebuah pertunjukan.
“Visual dan audio itu sudah cukup impresif, tapi mungkin kapan alat itu di depan dan pemain di belakang atau kapan bercampur dengan pemain,” ungkapnya.
Gala Resonant bukan karya yang ingin memberi kesimpulan atau menggurui. Ia hadir sebagai ruang dialektika. Ruang untuk berkontemplasi. Ruang untuk merawat keresahan. Bahkan, bagi sebagian penonton, ia menjadi ruang penyembuhan.
Giffary percaya bahwa musik berasal dari masyarakat dan kembali ke masyarakat. Maka apa pun yang ia capai, ia kembalikan lagi sebagai ruang yang dapat diisi oleh siapa saja—menganggap manusia sebagai bagian dari suara alam yang memuat empati dan simpati dalam cara berpikirnya.
Di tengah perjalanan itu, Giffary menyimpan mimpi: membawa Gala Resonant ke panggung internasional. Baginya, itu bukan sekadar pencapaian prestise. Ia ingin mengembalikan bebunyian eksperimental ini kepada negeri-negeri yang mengembangkan teknologi, seakan ingin melihat bagaimana pertemuan antara tradisi Minang dan eksperimen elektroakustik diterima di ruang-ruang global.

Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana publik di negara-negara itu merespons percakapan bunyi antara tradisi dan modernitas yang ia bangun. Pertemuan dua dunia yang ia mulai dari sebuah tugas akhir sederhana di ranah Minang. [T]
Jakarta, 2025
Penulis: Muhamad Irfan
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...