Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
SORE itu, udara di pesisir Seruni terasa sangat dingin meski matahari menggantung redup di cakrawala. Anna, bocah sepuluh tahun, sedang membantu ibunya menumbuk bumbu di dapur ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Nenek, Kakek, dan Bibi Lusi datang, membawa serta tawa dan kegembiraan bagi rumah sederhana mereka.
Malam ini mereka semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun Anna. Ayah menghadiahi boneka beruang besar, ibu memberinya gaun batik yang anggun, sementara Nenek dan Kakek memberi Anna sweter rajut berwarna biru dengan motif bunga melati di bagian dada. Tetapi yang paling membuat Anna melonjak girang adalah hadiah dari Bibi Lusi: tiga buku dongeng bergambar yang sampulya berkilau keemasan.
Bibi Lusi bukan hanya adik ibunya, ia semacam peri dalam hidup Anna. Bibi Lusi berparas cantik, bersuara lembut, dan selalu bisa menyihir siapa saja dengan kisah-kisahnya. Saat ia membaca dongeng, anak-anak seakan terseret ke negeri ajaib, bahkan orang dewasa pun ikut terdiam, seolah setiap kata yang meluncur dari bibirnya membuka pintu ke dunia lain.
Setelah makan malam dengan nasi hangat, daging kambing, dan segelas susu, Anna memohon agar Bibi Lusi membacakan satu kisah. “Bibi, ceritakan satu kisah yang paling menakjubkan dong!”
“Baiklah, tapi ambil selimut dulu, udara makin menusuk,” kata Bibi Lusi sambil tersenyum. Mereka duduk di sofa, dan hening pun tercipta, hanya diisi suara hujan yang mengetuk atap rumah.
“Kisah ini berjudul Lelaki Tua di Pulau Terindah di Dunia,” ucap Bibi Lusi dengan suara pelan namun jelas. Anna menatapnya tanpa berkedip.
“Pada suatu masa, di sebuah pulau kecil bernama Pulau Karmina, hiduplah seorang lelaki tua. Ia tinggal seorang diri di sebuah pondok bambu, ditemani kebun sayur dan pohon buah. Laut di sekelilingnya jernih, ikannya melimpah. Tidak pernah ia kekurangan makanan, tidak pula pakaian. Pulau itu disebut orang-orang sebagai pulau paling indah di dunia.
Namun lelaki tua tidak pernah benar-benar menyadari betapa berharganya pulau itu. Baginya, semua itu hanya rutinitas: memancing, merawat kebun, tidur, dan bangun kembali.
Di usia sembilan puluh tahun, ia mulai bosan pada kesunyian. ‘Aku ingin mati di tengah keramaian,’ katanya. Maka dijualnya pulau itu pada seorang pengusaha kaya, lalu ia pergi ke kota besar, berharap menemukan kehidupan baru.
Bulan pertama, ia senang. Jalan-jalan penuh lampu, gedung-gedung tinggi menjulang, musik mendayu-dayu dari kafe-kafe pinggir jalan. Tetapi lambat laun, keramaian menjadi bising, orang-orang terlalu sibuk untuk menoleh padanya. Ia hanya lelaki tua di tengah ribuan wajah yang saling bergegas.
Suatu sore di taman kota, seorang pemuda berkata kepadanya: ‘Tentu luar biasa hidup lama di pulau paling indah di dunia.’ Lelaki tua terdiam, lalu menjawab lirih, ‘Seandainya aku dulu tahu, tentu aku menikmatinya…’”
Bibi Lusi menutup buku. Anna ternganga, menatap bibinya.
“Jadi kakek tua itu menyesal, Bi?” tanya Anna polos.
“Entahlah, mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, ia terlambat menyadari.”
Anna terdiam, merenung. “Pulau itu indah, tapi ia meninggalkannya demi kota yang penuh orang. Dan akhirnya… tetap merasa sendirian.”
“Begitulah manusia, Ann. Sering merasa kurang, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada,” jawab Bibi Lusi pelan.
Di luar hujan semakin deras. Namun di ruang sederhana itu, kehangatan mengalir. Anna bersandar di bahu bibinya, matanya mulai terpejam. Tetapi Bibi Lusi tetap terjaga. Ada sesuatu dalam kisah itu yang menusuk dirinya sendiri.
Pulau Karmina dalam dongengnya bukan sekadar pulau fiktif. Ia pernah mengajar di pulau kecil bernama Marunda, jauh dari kota. Pulau itu indah, lautnya biru, anak-anaknya polos. Namun pulau itu dijual pemerintah kepada investor, diganti dengan resor mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Warga asli terusir, sebagian menjadi buruh, sebagian pergi entah ke mana.
Kini, pulau itu disebut “surga wisata,” tapi Bibi Lusi tahu, ia telah kehilangan rohnya.
Ia menarik nafas panjang. Kisah lelaki tua itu, sesungguhnya adalah kisah negeri ini: negeri yang begitu kaya, namun tergoda untuk menjual keindahan alamnya, menukar kesederhanaan dengan janji kemajuan yang tak pernah benar-benar memberi keadilan.
Keesokan paginya, Anna bangun dan masih terbayang-bayang kisah semalam. “Bi, aku ingin suatu hari pergi ke pulau indah seperti cerita itu. Boleh kan?”
Bibi Lusi tersenyum getir. “Kalau pulau-pulau itu belum dijual semua, tentu boleh.”
“Dijual? Kenapa dijual, Bi?”
Bibi Lusi menatap laut dari jendela. “Karena orang-orang besar di kota sering menganggap tanah dan laut hanya angka di buku kas. Mereka lupa, pulau itu rumah bagi manusia dan segala makhluk lainnya.”
Anna tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi ia merasa, senyum Bibi Lusi berbeda pagi itu. Ada luka yang disembunyikan di balik suaranya.
Hari-hari berlalu. Anna kembali ke sekolah, kembali bermain dengan teman-temannya. Namun dongeng malam ulang tahunnya tinggal kuat di kepalanya. Ia sering membayangkan lelaki tua yang baru menyadari keindahan setelah kehilangan segalanya.
Ia merenung: apakah ia juga akan tumbuh besar lalu melupakan kampungnya sendiri? Apakah ia akan tergoda pergi ke kota, lalu menyesal di ujung usia?
Di luar, pembangunan makin gencar. Pantai Seruni, tempat Anna biasa bermain pasir, perlahan berubah. Lahan di dekat bibir pantai dipagari seng, katanya akan dibangun hotel. Nelayan mulai mengeluh karena laut makin kotor, perahu mereka tak bisa bebas bersandar.
Anna mendengar ayahnya berkata lirih pada ibunya, “Entah berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini.”
Kata-kata itu membuatnya tercekak. Tiba-tiba kisah lelaki tua di pulau indah itu terasa begitu nyata.
Suatu malam, Anna kembali meminta dongeng pada Bibi Lusi. Tetapi kali ini, ia sendiri yang memulai, “Bi, aku ingin kisah tentang rumah yang dijual.”
Bibi Lusi terdiam. Ia tahu, keponakannya telah belajar sesuatu dari cerita yang sederhana. Ia memeluk Anna, lalu berbisik, “Kita harus menjaga rumah kita, Ann. Karena kalau sudah hilang, hanya penyesalan yang tersisa.”
Anna mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.
Malam itu, suara hujan kembali mengguyur, tetapi kini berbeda rasanya. Hujan seolah membawa peringatan: keindahan tak akan selamanya tinggal jika manusia terus meneruskannya dengan keserakahan.
Dan Anna, meski baru berusia sepuluh tahun, mengerti satu hal: negeri ini terlalu sering menjadi lelaki tua dalam dongeng- baru sadar akan keindahan setelah segalanya hilang. [T]
Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...