Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

S. Kamar
by S. Kamar — Desember 21, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Ampar yang Meninggi

di kampung petani
aku sebiji padi
yang menemui puisi
di celah tanah
yang berdegup
dan mengecambah

dari ampar yang meninggi
kusembahkan berbiji
biji
untuk mengisi lumbung padi
di dada petani

dan di gubuk
tanpa traktak bambu
aku melihatmu tersenyum
menghitung musim yang silih berganti
dengan kuku jari
yang telah digunting presisi

sebelum puisi

Usia Arak Beras

beningbeningmu
dalam gelas
makin tua
makin berasa
ditenggak kembali
hangat tubuh lagi

hilang lelah
hilang marah

arak beras
yang segelas
menjadi puisi
sampai larut
kita bagi

oh. usiaku arak beras
di dalam gelasmu
makin tua makin pahit
bandingku

ah. usiaku tebu
di pematangmu
makin tua makin manis
timpalmu

Pemburu

pemburu keluar goa
kelelawar menghambur dari kepala
sehabis menerima ganggu jin
ilmu jadi
dan mandi pun diri

dan
di curuk hutan. taji dikepal erat
mulut berkomat mantra
bunyi yang dijaga
biar runduk malam
dan daundaun

mesti warna tubuh mudah dibau
pemburu sudah pandai berpetak umpet
di balik daun ranting pepohonan
sana

di sini
buruan mendengus dengus
seekor babi dalam diri
dirajang tanpa henti

Pagi yang Dipatuk Ayam

paruh ayam yang selembut
daging basah di pembaringan
membikin perut menggempal

tetapi di kepala
belum sampai korosi
sebab garam yang sedikit kasar
yang diteguk dari jauh laut
mengandung juga yodium

diri mesti kuat
dan pandai mengakali
ayam yang tanpa jenuh
mematuk
pagi

Burung Dara

seekor burung dara
yang berkukur di atap rumah
kacaukan tidur siang
dan setengah mimpi indahmu

tetapi setelah kau temukan
sehelai bulunya yang jatuh
di atas ubun-ubunmu
yang putih bersih
dan kau pun melupakan kesal
dan mimpimu

dan kau berniat memeliharanya
dan mencoba menangkapnya
biar kau taruh
di sangkar kosongmu

tetapi burung dara itu
tak kalah cerdas darimu
Di Atas Sampan

/1/
berakit rakit ke hulu
beranang ke tepian
berbelit belit dahulu
berpulang kemudian

di balik gua garba. selapang mata air
kerinduan menyerauk dari belahan batu

dan di dadamu berdenyut
anakmu. mengayuhkan napasnya
jauh di sampan itu
ke tengah sungai yang entah

menampak riak air
mata ikan kecil dan matanya
juga hitam bayangan
dan sedikit rembulan

"kemudian?"

tanyanya jauh sebelum
sampai di hulu

/2/
sebuah sampan daun kendali yang engkau
layarkan telah berlabuh di mataku

aku mengerti sebelum rabun
menghapus garis garis daunmu
dan sampan kecilmu
yang memuat seribu berita
terombang gelombang pasang
juga hamburan tempias
di sudut sudut pandang

sayang, aku tak mengerti sampai kapan
basah di mataku dan hijau daunmu

dan engkau kembali kembangkan layar
berlabuh jauh di mataku

/3/
nelayan di atas bulan sampan
mendayung di sela gumpal gemawan
yang menjaring gemintang di langit malam

lalu nelayan ambil dua buat dibawa pulang
yang sebuah digantung di halaman
di bawah lalu lalang orang
sebab yang gelap bikin gamang

sebuah lagi dimasak buat santap
malam keluarga. bukan kenyang
tapi bintang bikin dada
terang

sebalum nelayan
kembali mengayuh bulan sampan

/4/
sehabis menjaring matahari kesiangan
yang menggelapar di sampanku
tubuhnya yang gempal
bakal melaku di pasar

tetapi tak sampai hati
menampak sisik yang menyala
kepak sirip, engah napas
ekor menawan, bau amis
dan bening
matanya matahari

maka aku pelihara
matahari di akuariumku
yang dipajang di lubuk yang terdalam
biar petang lagi mendatang

2025

Penulis: S. Kamar
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

S. Kamar

Related Posts